Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 17:13 WIB | Sabtu, 27 Desember 2014

Setelah 60 tahun, Warga Yangon Memilih Komite Kota

Warga menggunakan hak suara pada meilihan Komite kota Yangon, hari Sabtu (27/12). (Foto: AFP)

YANGON, SATUHARAPAN.COM - Warga Yangon, pusat komersial Myanmar, mendatangi tempat pemungutan suara hari Sabtu (27/12) untuk pemilihan komite pembangunan kota (YCDC) untuk pertama kalinya  dalam enam dekade.

Pemilihan ini diharapkan membawa perubahan untuk pertumbuhan kota, meskipun warga terlalu sedikit mengetahui tentang calon atau kebijakan mereka.

Pemilihan ini akan diawasi ketat sebagai ujian demokrasi negara itu menjelang pemilihan nasional yang dijadwalkan pada November tahun depan.

Memberikan suara untuk Komite Pembangunan Kota Yangon adalah kesempatan pertama untuk memilih di bawah pemerintahan kuasi-sipil negara itu, yang menggantikan kekuasaan militer secara  langsung pada tahun 2011.

Masalah Kota

Hal ini juga merupakan kesempatan langka untuk menggunakan suara untuk masa depan kota terbesar Myanmar, di mana warga mengeluh mengenai pembangunan, harga sewa yang melonjak, memburuknya lalu lintas, sanitasi yang buruk dan  lemahnya pengendalian pencemaran kota.

"Sangat sulit untuk berharap besar karena ini adalah pemilihan YCDC pertama selama 60 tahun," kata Khin Maung Tun, 50 tahun, seorang warga di kota Thaketa kepada AFP. "Tapi kami datang ke sini untuk memilih dan menunjukkan semangat kami."

Namun ada pembatasan tentang siapa yang dapat memilih, dan hak pilih hanya diberikan pada 400.000 dari beberapa juta penduduk kota.

Dengan calon kurang dari 300, di antaranya berlatar belakang  pengusaha, pensiunan pegawai negeri sipil dan aktivis, mereka bersaing untuk 115 posisi di komite, namun posisi itu sebagian besr tetap akan ditunjuk.

Untuk pemilihan komite ini tidak ada kampanye. Di negara ini politisi  tidak ‘’merayu’’ pemilih, meskipun para pejabat pemilu membantu dengan menjawab pertanyaan di atas lembaran surat suara yang tersedia di TPS, pada Sabtu pagi.

Meskipun kurang dekat hubungan dengan kandidat, banyak warga tampak bertekad untuk memilih setelah bertahun-tahun aspirasi demokrasi mereka ditekan di bawah kekuasaan junta militer.

"Saya tidak tahu apa-apa tentang calon. Saya baru tahu nama mereka saat voting," kata Maw Lynn, seorang warga di kota Sanchaung kepada AFP setelah pemungutan suara.

"Saya berharap untuk beberapa perubahan yang signifikan melalui pemungutan suara," katanya tanpa mengungkapkan siapa yang dia pilih.

Petugas pemungutan suara mengatakan pemilu berakhir sebelum sore, dan berlangsung bebas dan adil. "Kami akan menghitung suara di depan saksi yang dikirim oleh calon. Jika pemilih juga ingin datang dan melihat, mereka dapat melakukannya," kata Tin Soe, seorang pejabat pemantauan pemungutan suara di kota Sanchaung kepada AFP.

Menjelang Pemilu November

Ini pemilihan besar kedua sejak pemilihan umum 2010  yang dinodai oleh tuduhan meluasnya kecurangan dan tidak adanya partai oposisi Aung San Suu Kyi, karena memboikot pemilu.

Pemilu tahun 2012 yang diselenggarakan di beberapa daerah pemilihan di seluruh negeri dianggap jauh lebih bebas dan membiarkan veteran demokrasi Suu Kyi berkampanye dan masuk parlemen untuk pertama kalinya.

Tapi dia tetap dilarang mencalonkan diri sebagai presiden di bawah konstitusi saat ini, meskipun Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), partainya, terus menekan keras dilakukan amandemen.

NLD diharapkan untuk mememnangi pemilihan umum tahun depan, menindaklanjuti keberhasilannya pada pemilu 2012.

Namun kritikus mengatakan pemilihan komite Yangon sangat cacat, sebab ada aturan hanya satu orang per rumah tangga yang diperbolehkan untuk memilih,  yang berarti hanya sekitar 400.000 orang menggunakan  suara, serta ada batasan usia untuk kandidat dan larangan partai politik untuk mengambil bagian.

Jumlah posisi yang ditunjuk masih akan melebihi jumlah yang dipilih untuk duduk di dewan kota ini dalam YCDC. Komite ini bertanggung jawab besar atas pembangunan infrastruktur, warisan dan pengumpulan pajak di Yangon.

Namun demikian hal ini menandai langkah besar dalam organisasi itu yang belum pernah dipilih melalui  suara terbanyak sejak tahun 1949. (AFP)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home