Loading...
DUNIA
Penulis: Eben Ezer Siadari 09:04 WIB | Sabtu, 21 Februari 2015

Setelah Membungkuk, Yunani Diberi Perpanjangan Utang 4 Bulan

Sikap kita sedikit membungkuk," kata Elena Panaritis, ekonom Yunani yang terlibat dalam negosiasi dengan zona euro. "Tapi jelas mereka ingin kita berdarah lebih banyak lagi."
Menteri Keuangan Jerman, Wolfgang Schauble (kiri) berjabat tangan dengan Menteri Keuangan Yunani Yanis Varoufakis.(Foto:newpost.gr)

BRUSSELS, SATUHARAPAN.COM - Pemerintah Yunani berhasil lolos dari lubang jarum yang berisiko tinggi ketika pada hari Jumat (20/2) menteri-menteri keuangan zona euro akhirnya memberikan perpanjangan waktu empat bulan bagi rencana pembayaran utang negara itu. Ini merupakan angin segar setelah negara itu sempat terancam gagal bayar atau default, yang dapat membawa seluruh 19 negara di zona euro terjun ke dalam krisis keuangan global baru.

Los Angeles Times melaporkan, pertemuan para menteri keuangan zona euro di Brussels sejak hari Senin lalu telah berubah menjadi penentuan hidup mati bagi masa depan Athena untuk tetap bertahan sebagai anggota Uni Eropa. Jerman sebagai  kekuatan ekonomi terkemuka di benua itu, bersikeras bahwa pemerintah baru Yunani yang beraliran kiri harus patuh untuk tetap menjalankan komitmen pemerintah pendahulunya.

Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras memenangkan pemilihan bulan lalu dengan janji untuk meringankan langkah-langkah penghematan yang menyakitkan. Langkah itu menjadi kewajiban setelah pemerintahan sebelumnya menandatangani kebijakan dana talangan atau bailout senilai US$ 274-miliar dengan negara-negara zona euro, IMF, dan Bank Sentral Eropa sebagai kreditor. Pada masa kampanye, Tsipras bersumpah untuk memempekerjakan kembali karyawan yang di-PHK-kan, dan  "merebut kembali kedaulatan nasional" dalam menyusun anggaran pemerintah.

Berbagai laporan media menggambarkan Yunani telah menjadi korban dari sikap keras Jerman yang menekankan pentingnya dipertahankan kebijakan penghematan bagi Yunani. Ini mengungkit lagi kesenjangan budaya yang menyakitkan antara negara-negara anggota zona euro yang kaya di sebelah utara dan negara-neggara yang miskin di Mediterania.

Ancaman gagal bayar telah menyebabkan bank-bank Yunani kekurangan dana untuk menutupi pengeluaran pemerintah yang membengkak, memacu kepanikan dan membangkitkan kekacauan ekonomi di negara yang telah mengalami kontraksi ekonomi 25 persen selama lima tahun terakhir.

Momok gagal bayar Yunani juga telah mengguncang pasar global. Para pemimpin negara-negara kreditur diingatkan bahwa hal itu juga akan memukul ekonomi Uni Eropa secara kolektif jika Yunani dipaksa keluar dari zona euro. Sebab, investor akan menganggap keluarnya Yunani dari zona euro sebagai kegagalan percobaan bersejarah yang dulu digembar-gemborkan akan meningkatkan kesejahteraan keseluruhan negara anggota EU.

Pasar Menyambut Gembira

Tidak mengherankan jika kesepakatan untuk memberikan perpanjangan selama empat bulan kepada Yunani setidaknya memberi kelegaan dan menunda krisis Yunani lebih dalam. Kabar itu telah direspons positif oleh indeks rata-rata industri Dow Jones dan indeks S & P 500 ke level tertinggi baru. Euro juga mengalami rebound sedikit menjadi $ 1,14 per euro dan indeks DAX Jerman ditutup pada rekor tinggi.

Memang masih belum jelas bagaimana perincian permohonan perpanjangan bailout Athena. Yang pasti Yunani memberikan  konsesi yang besar, dan pemerintah Tsipras berjanji dalam pertemuan hari Jumat akan menghormati persyaratan bailout yang ada saat ini, yang disebut sebagai Master FInancial Assistance Facility Agreement. Sebagai imbalannya, akan ada kelonggaran dalam sejumlah langkah-langkah penghematan yang selama ini telah banyak memberi kesulitan pada rakyat Yunani.

Tingkat pengangguran telah meningkat menjadi 27 persen di Yunani dan satu dari tiga perusahaan telah bangkrut karena ekonomi  yang terjun bebas pada  tahun 2009.

Membungkuk Sedikit

Athena telah menerima dilanjutkannya pengawasan oleh kreditur atas pelaksanaan reformasi ekonomi, meskipun Tsipras dalam masa kampanye lalu bersumpah untuk menyingkirkan pengawasan asing yang dianggap sebagai sebuah penghinaan.

"Kesepakatan ini menandai langkah pertama dari arah baru [untuk Yunani]. Langkah ini meninggalkan kebijakan penghematan di belakang kita dan mengubah Yunani menjadi mitra penulis –co-author-- reformasi yang akan menyingkirkan keganasan lama dalam sistem kita," kata Menteri Keuangan Yunani Yanis Varoufakis.

"Sikap kita sedikit membungkuk," kata Elena Panaritis, ekonom Yunani yang terlibat dalam negosiasi. "Tapi  jelas mereka ingin kita berdarah lebih banyak lagi."

Perjanjian tersebut diikuti kesibukan pembicaraan antara Varoufakis, Menteri Luar Negeri Jerman Wolfgang Schaeuble, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional, Christine Lagarde, dan Jeroen Dijsselbloem, Menteri Keuangan Belanda, yang memimpin eurogroup tersebut.

"Ini telah menjadi proses yang sangat melelahkan tapi akhirnya konstruktif," kata Lagarde, yang tampak lelah.

Menurut Dijsselbloem, Athena mempunyai waktu sampai hari Senin untuk menghasilkan daftar perincian langkah-langkah reformasi yang akan mereka lakukan sebagai imbalan bagi kelanjutan bantuan keuangan dari zona euro. Langkah-langkah itu nantinya akan dibahas oleh para menteri keuangan dalam konferensi yang akan berlangsung pada Selasa. Selanjutnya  akan ditinjau oleh troika kreditur, yaitu Yunani - Uni Eropa, IMF dan Bank Sentral Eropa  "untuk menilai apakah mereka cukup komprehensif" untuk melanjutkan mendapatkan pendanaan sementara.

Pertemuan pada hari Jumat lalu adalah usaha ketiga dalam 10 hari untuk menyelesaikan kebuntuan yang sempat berisiko membuat perekonomian Yunani kolaps akibat tiadanya dana tunai. Tanpa infus segar uang tunai, Pemerintah Yunani dihadapkan dengan pilihan untuk menghentikan pembayaran bunga dan menyetop membayar gaji pegawai pemerintah dan pensiunan atau mencetak uang lama yang berisiko membuat inflasi melejit tak terkendali.

Beberapa pejabat keuangan Eropa, termasuk bankir, sempat percaya bahwa Yunani tidak akan terhindarkan terdepak dari zona euro.

Hari Jumat, ratusan orang menyerbu alun-alun ibu kota Yunani untuk memberikan dukungan kepada pemerintah.

"Apa lagi yang para kreditur itu inginkan?" kata Maria Stefanidou, melambaikan bendera Yunani. "Berapa banyak lagi yang mereka inginkan orang-orang Yunani menderita? Menang atau kalah, yang penting adalah bahwa pemerintah ini akhirnya mengatakan 'tidak' dan melakukan sesuatu untuk merebut kembali kebanggaan nasional kita. "

 

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home