Loading...
INSPIRASI
Penulis: Irma Koswara 16:43 WIB | Jumat, 17 Mei 2013

Siapa Sebenarnya Diri Kami: Gumulan Ibu Berputra Difabel

foto: ymindrasmoro

SATUHARAPAN.COM - Tadi siang di jalan, setiap lampu lalu lintas yang kami jumpai  sepertinya selalu berwarna merah… Kami datang ke pesta ulang tahun sudah cukup terlambat.

Armando tetap tenang…  ia tersenyum melihat balon warna-warni menghiasi ruangan. Masih ada beberapa anak berlarian sambil membawa bingkisan permen dan kue. Armando mengulurkan tangannya memberi salam. Tak ada yang menyambutnya.

Armando tetap tenang... matanya  menyusuri ruangan, mengikuti anak-anak itu. Dua anak menghampiri Armando. Mainan robot-robotan di tangan mereka berkilau terkena sinar matahari. Mata Armando berbinar... ia mengulurkan tangannya, ingin memegang robot-robotan itu... tetapi anak-anak itu tiba-tiba lari dan menghilang di balik pintu.

Armando terus menatap pintu... beberapa menit berlalu... tak ada anak-anak dengan robot-robotan muncul dari balik pintu. Armando mulai berontak di atas kursi rodanya… mulai menangis dan berteriak-teriak.

Orang-orang menatap kami... biasanya, kalau ini yang terjadi, berakhirlah sudah cerita pesta hari itu. Namun, aku tidak membawanya pulang. Kali ini aku tidak berkata pada Armando: ”Aku mohon, berhentilah berteriak-teriak seperti itu.” Atau: ”Kamu membuat semua orang melihat pada kita.” Kali ini aku berkata, ”Kadang kita tidak bisa memiliki apa yang kita inginkan. Kadang sesuatu tidak berjalan seperti yang kita perkirakan.” Aku mencari tempat yang cukup nyaman untuk bisa duduk dan mendekapnya.

Kulihat Armando mencoba mengambil napas di tengah tangisannya. Perlahan-lahan teriakannya menjadi rintihan... sambil mengelus tangannya, aku berbisik padanya, ”Armando, ada bagian dirimu yang lebih tinggi dari tubuhmu yang sedang duduk di kursi roda ini bersamaku. Bagian yang lebih tinggi itu tidak pernah terpisah darimu... ia bagian darimu. Dirimu yang lebih tinggi itu sangat bersyukur bisa berada di sini... tahu betapa kuat dan beraninya dirimu… dan selalu tenang. Dirimu yang lebih tinggi tahu bahwa ia dikasihi-Nya. ”

Kami duduk dalam sunyi... aku merasakan tubuh Armando mulai melepaskan ketegangannya... aku memesan minuman untuk kami berdua. Aku dan anakku saling mengajarkan mengenai siapa sebenarnya diri kami....

 

Catatan: Irma Koswara (Ibu dari Armando [penyandang Cerebral Palsy])


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home