Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 06:55 WIB | Kamis, 31 Oktober 2013

Sidang WCC: Solidaritas Kristen Tidak Boleh Menjadi Eksklusif

Sekjen WCC, Dr. Olav Fykse Tveit, ketika menyampaikan laporan pada sidang raya WCC, di Busan, Korea Selatan, Rabu (30/10). (Foto: oikoumene.org)

BUSAN, SATUHARAPAN.COM – Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Dunia (World Council of Churches / WCC), Dr. Olav Fykse Tveit mengatakan bahwa nilai tambah dari keberadaan  WCC adalah berkontribusi bagi bagi gereja dan masyarakat tentang pengelolaan keberagaman dengan pemahaman martabat manusia, hak asasi manusia, kebebasan beragama dan perdamaian.

Kontribusi itu berasal dari pengalaman gereja, dan kehadiran WCC di antara organisasi-organisasi internasional lainnya di Jenewa. "Solidaritas Kristen tidak boleh menjadi eksklusif,” kata dia.

Tveit mengatakan hal itu dalam laporannya tentang pekerjaan Dewan ini selama tujuh tahun terakhir, pada sidang raya ke-10 WCC, hari Rabu (30/10) di Busan, Korea Selatan. Dia mengharapkan agar sidang raya ini menjadi acara bagi kerendahan hati, kejujuran dan harapan. Sebab, hal itu diselenggarakan di tengah-tengah banyak peristiwa dramatis, ketidakadilan dan krisis di dunia. Namujn Allah menciptakan "fajar baru" bagi gerakan oikumenis, kata Tveit di depan Dewan Pekerja WCC.

Tveit menawarkan kepada peserta suatu inisiatif bagi WCC untuk memperkuat pencarian persatuan Kristen, solidaritas Kristen, mempromosikan perdamaian, serta misi dan advokasi dalam kesaksian publik dan diakonia. Dia juga mengajak untuk membangun formasi ekumenis, persekutuan dan kesetaraan perempuan dan laki-laki, serta ziarah spiritual dalam berbagai projek.

Sidang tersebut dihadiri sekitar 2.000 peserta dari 345 gereja anggota WCC yang mewakili berbagai denominasi dan tradisi Kristen di seluruh dunia. Sidang akan berlangsung hingga 8 November mendatang.

Tentang Timur Tengah

Dalam sambutannya, Tveit menyampaikan apresiasi atas keragaman yang ditandai oleh konstituen WCC. Dia mengatakan bahwa gereja telah berkumpul di sini dari berbagai tempat dan budaya.

“Dengan keragaman kita membawa cerita, pengalaman, harapan, doa dan visi. Kita juga membawa rasa sakit kita, tantangan kita, dan kerinduan kita untuk keadilan dan perdamaian,” kata dia.

Dia merujuk tentang solidaritas gereja dengan masyarakat di daerah yang dilanda konflik.  “Kita sebagai masyarakat Kristen dunia harus memiliki solidaritas dengan mereka yang hidup di tanah di manan iman kita mulai dan berkembang,” kata dia.

"Kami memikirkan secara khusus untuk Irak, Mesir, Suriah dan Palestina. Untuk mereka, kami percaya bahwa jalan menuju perdamaian adalah dengan bergerak maju ke dalam budaya dan praktik demokrasi dan kewarganegaraan, dengan persamaan hak bagi semua," kata Tveit.

Tantangan dan Panen

Tveit juga berbicara tentang sidang yang kali ini diselenggarakan di Asia, benua yang dia sebut  sebagai "benua pertumbuhan."

"Ini juga merupakan benua yang ditandai dengan banyak kekhawatiran tentang perlindungan kehidupan manusia dan alam, dan banyak keluarga yang tidak berbagi tentang harapan dan pertumbuhan bagi orang lain,” kata dia. Tveit prihatin dengan situasi warga Semenanjung Korea  yang terbelah menjadi  Korea Utara dan Selatan.

Sejak sidang raya sebelumnya di Brazil, Tveit mengatakan, banyak tantangan telah ditangani oleh WCC. Namun dia menambahkan, "Hal yang sangat luar biasa adalah bahwa  dengan sedikit sumber daya, tetapi banyak tantangan, tahun-tahun ini juga merupakan waktu panen yang berlimpah.”

Tveit mengakhiri laporannya dengan mengundang peserta sidang untuk berjalan bersama hanya untuk perdamaian, sehingga ziarah dapat dimulai. (oikoumene.org)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home