Loading...
INDONESIA
Penulis: Martahan Lumban Gaol 11:53 WIB | Minggu, 29 Maret 2015

Soal BBM, Jokowi Diminta Hilangkan Mental Pedagang

Petugas mengisikan Bahan Bakar Minyak (BBM) kepada konsumen di SPBU jalan Urip Sumoharjo, Makasar, Sulsel, Jumat (16/1). Presiden Joko Widodo menurunkan harga BBM jenis Premium dan Solar pada Jumat (16/1) mulai Senin (19/1). Harga premium menjadi Rp 6.500 per liter dan Solar Rp 6.400 per liter mengikuti merosotnya harga minyak dunia hingga di bawah US$ 45 per barel. (Foto: Antara/Darwin Fatir)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Politisi Partai Demokrat Agung Budi Santoso menyayangkan tindakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang kembali menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Menurut dia, seharusnya, Presiden RI ketujuh itu bisa menunda lebih dahulu kenaikan mengingat banyak rakyat Indonesia yang kini tengah menderita akibat melonjaknya bahan-bahan kebutuhan pokok.

"Saya kira sebaiknya jangan naik dulu. Rakyat saat ini sedang sulit.Waktu saya reses kemarin masyarakat di daerah pemilihan saya mengeluh harga beras naik, gas, sembako langka. Itu dulu yang seharusnya dibenahi," kata Agung yang ditemui di sela-sala Press Gathering DPR, di Novus Giri Resort & SPA, Puncak, Jawa Barat, Sabtu (28/3).

Sosok wakil rakyat di Komisi V DPR ini menegaskan, ketidakstabilan harga BBM seperti yang terjadi saat ini memberatkan rakyat, karena berbagai kebutuhan pokok terkena imbasnya, termasuk tarif angkutan umum yang tidak mengikuti naik-turunnya harga BBM.

"Kalau ini tiap bulan berubah jadi berat juga, pengusaha juga berat, kalau BBM naik lalu turun mungkin ada keuntungan. Tapi kalau turun terus naik, dianggarkan ongkos murah terus naik, itu rugi, bahan-bahan naik kan repot. Jangan terlalu sering lah," kata dia.

Jangan Orientasi Keuntungan

Agung mengingatkan walau Presiden Jokowi memiliki latar belakang pengusaha furnitur, sebaiknya tidak berorientasi terhadap keuntungan dalam menentukan harga BBM. Tetapi lebih berorientasi terhadap kesejahteraan rakyat. "Ya harus berubahlah pola pemikirannya, dari pedagang jadi Presiden. Seorang negarawan orientasinya bukan keuntungan, tapi bagaimana mensejahterakan rakyat‎," kata dia.

Meski begitu, Agung menepis kalau Presiden Jokowi tak memiliki empati terhadap rakyat Indonesia. Dia yakin kalau Presiden Jokowi memiliki empati untuk menuntaskan persoalan ini dengan caranya sendiri. Begitu juga dengan para pembantunya di Kabinet Kerja diharapkan mampu memberikan solusi terbaik dalam menjaga stabilitas perekonomian bangsa.

"Saya yakin Jokowi punya rasa empati yang cukup tinggi kepada rakyat. Beliau banyak mendengar dari kabinet bagaimana cara lebih baik. Kita doakan jadi lebih baik," ujar politisi Partai Demokrat itu.

Editor : Bayu Probo

Ikuti berita kami di Facebook


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home