Loading...
DUNIA
Penulis: Dewasasri M Wardani 16:17 WIB | Jumat, 15 Mei 2020

Studi: Lebih dari 25 Persen Populasi Inggris Mungkin Terjangkit COVID-19

Sepasang pria dan wanita yang bergandengan tangan berjalan melewati mural petugas Layanan Kesehatan Nasional (National Health Service/NHS) yang dilukis di sebuah dinding yang ada di London, Inggris, pada 26 April 2020. (Foto: Antara/Xinhua/Han Yan)

LONDON, SATUHARAPAN.COM – Lebih dari 25 persen populasi di Inggris mungkin telah terjangkit penyakit  virus corona baru (COVID-19), menurut sebuah studi yang dirilis oleh Universitas Manchester pada Kamis (14/5).

Para peneliti dari Universitas Manchester, Salford Royal NHS Foundation Trust, dan Res Consortium menggunakan data yang dirilis oleh otoritas setempat guna menilai dampak kumulatif infeksi sejak wabah COVID-19 merebak di Inggris, kata universitas tersebut.

Hal itu memungkinkan para peneliti menghitung R-value atau jumlah orang yang terinfeksi, dari satu penderita COVID-19 dalam setiap area otoritas setempat.

Data kasus rilisan 144 otoritas setempat yang dianalisis oleh tim peneliti tersebut saat ini, menghasilkan R-value di bawah angka satu, menurut universitas tersebut.

Nilai tersebut, yang mencapai di atas tiga pada awal wabah COVID-19 di pertengahan Maret 2020, turun berkat penerapan jaga jarak sosial (social distancing) yang dikombinasikan dengan konsekuensi alami dari infeksi kumulatif di masyarakat, kata universitas tersebut.

Hingga paruh kedua bulan April, berdasarkan ekstrapolasi variasi tingkat infeksi antara otoritas lokal dengan kurang lebih jumlah kasus yang dilaporkan tergantung lokasi, lebih dari 25 persen populasi di Inggris telah terjangkit COVID-19, demikian hasil temuan tim peneliti tersebut.

"COVID-19 merupakan kondisi yang sangat menular dan berbahaya bagi sekelompok kecil warga. Namun, kelompok warga yang lebih besar tampaknya tidak mengalami atau memiliki gejala yang minim dan tidak dilaporkan," kata  Adrian Heald, salah satu peneliti di studi itu yang berasal dari Universitas Manchester.

"Kami menunjukkan efektivitas penerapan jaga jarak sosial dan karantina wilayah (lockdown). Meski ini sebuah tragedi, hal yang yang lebih buruk mungkin dapat terjadi," katanya.

Mike Stedman dari Res Consortium yang melakukan analisis data tersebut menjelaskan bahwa data penghitungan itu "tidak sempurna," dan hanya pengujian antibodi ekstensif yang "dapat memberikan kami gambaran yang lebih akurat."

"Karena hal itu baru tersedia, kami meyakini bahwa bentuk pemodelan ini penting dalam menginformasikan pendekatan terbaik untuk menganalisis populasi," kata Stedman.

Para peneliti berpendapat bahwa pencabutan secara bertahap pembatasan sosial yang tengah diterapkan saat ini menjadi penting untuk meminimalkan kerusakan lebih lanjut terhadap perekonomian, dan dampak dari pembatasan sosial berkepanjangan.

Namun demikian, mereka menambahkan bahwa ini (pencabutan pembatasan) harus seimbang dengan upaya membatasi penyebaran pandemi COVID-19, dan meminimalkan gelombang infeksi di masa mendatang. (Xinhua/Ant)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home