Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 09:15 WIB | Kamis, 08 April 2021

Studi: Sepertiga Penyintas COVID-19 Alami Gangguan Otak atau Psikiatri

(Foto ilustrasi: dok. Ist.)

SATUHARAPAN.COM-Satu dari tiga penyintas COVID-19 dalam penelitian terhadap lebih dari 230.000 kebanyakan pasien Amerika didiagnosis dengan gangguan otak atau psikiatri dalam waktu enam bulan. Hal itu menunjukkan pandemi dapat menyebabkan gelombang masalah mental dan neurologis, kata para ilmuwan pada hari Selasa (6/4).

Para peneliti yang melakukan analisis mengatakan tidak jelas bagaimana virus itu dikaitkan dengan kondisi kejiwaan seperti kecemasan dan depresi, tetapi ini adalah diagnosis paling umum di antara 14 gangguan yang mereka lihat.

Kasus pasca COVID-19 berupa stroke, demensia, dan gangguan neurologis lainnya lebih jarang, kata para peneliti, tetapi masih signifikan, terutama pada mereka yang menderita COVID-19 yang parah.

"Hasil kami menunjukkan bahwa penyakit otak dan gangguan kejiwaan lebih umum terjadi setelah COVID-19 daripada setelah flu atau infeksi pernapasan lainnya," kata Max Taquet, seorang psikiater di Universitas Oxford, Inggris, yang ikut memimpin penelitian tersebut.

Penelitian itu tidak dapat menentukan mekanisme biologis atau psikologis yang terlibat, katanya, tetapi penelitian mendesak diperlukan untuk mengidentifikasi ini "dengan maksud untuk mencegah atau mengobatinya".

Pakar kesehatan semakin prihatin dengan bukti risiko gangguan otak dan kesehatan mental yang lebih tinggi di antara para penyintas COVID-19. Studi sebelumnya oleh peneliti yang sama menemukan tahun lalu bahwa 20% penyintas COVID-19 didiagnosis dengan gangguan kejiwaan dalam waktu tiga bulan.

Temuan baru, yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Psychiatry, menganalisis catatan kesehatan dari 236.379 pasien COVID-19, sebagian besar dari Amerika Serikat, dan menemukan 34% telah didiagnosis dengan penyakit neurologis atau kejiwaan dalam waktu enam bulan.

Gangguan tersebut secara signifikan lebih umum pada pasien COVID-19 daripada pada kelompok pembanding orang yang sembuh dari flu atau infeksi saluran pernapasan lainnya selama periode waktu yang sama, kata para ilmuwan, menunjukkan bahwa COVID-19 memiliki dampak khusus.

Kecemasan, 17%, dan gangguan mood 14%, adalah yang paling umum, dan tampaknya tidak terkait dengan seberapa ringan atau parah infeksi COVID-19 pasien.

Di antara mereka yang telah dirawat di perawatan intensif dengan COVID-19 parah, 7% mengalami stroke dalam enam bulan, dan hampir 2% didiagnosis dengan demensia.

"Meskipun risiko individu untuk sebagian besar gangguan itu kecil, efeknya di seluruh populasi mungkin besar," kata Paul Harrison, seorang profesor psikiatri Oxford yang ikut memimpin penelitian tersebut. (Reuters)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home