Loading...
DUNIA
Penulis: Yan Chrisna Dwi Atmaja 18:31 WIB | Selasa, 11 Maret 2014

Suriah Tempat Paling Berbahaya bagi Anak

Jumlah anak-anak Suriah yang terkena dampak perang meningkat lebih dari dua kali dari tahun lalu. (Foto: alarabiya.net/reuters)
UNICEF, SATUHARAPAN.COM - Jumlah anak yang terkena dampak perang saudara di Suriah telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu, dan ratusan ribu anak Suriah terjebak di wilayah-wilayah yang terkepung pertempuran di negaranya sendiri, demikian laporan yang dirilis United Nations Children’s Fund, UNICEF, pada Senin (10/3).
 
"Setelah tiga tahun dalam konflik dan kekacauan, Suriah sekarang adalah salah satu tempat paling berbahaya di dunia untuk anak-anak," laporan UNICEF. "Ribuan anak telah kehilangan nyawa dan anggota tubuh, bersamaan dengan hampir setiap aspek kehidupan kanak-kanak mereka."
 
"Mereka telah kehilangan ruang kelas dan guru, saudara-saudara, teman, pengasuh, rumah dan kedamaian," demikian dilaporkan  UNICEF. "Alih-alih belajar dan bermain, banyak anak dipaksa untuk bekerja, direkrut untuk bertempur, atau menjadi objek untuk menegakkan kestabilan."
 
UNICEF mengatakan bahwa anak menjadi korban terbanyak yang tercatat dalam konflik baru-baru ini di wilayah tersebut. Jumlah tersebut dikutip dari laporan PBB, setidaknya 10.000 anak telah meninggal dalam perang Suriah namun dengan penegasan bahwa jumlah yang sebenarnya mungkin lebih tinggi.
 
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan lebih dari 136.000 jiwa telah meninggal sejak aksi pemberontakan terhadap Presiden Bashar al - Assad dimulai pada Maret 2011.
 
"Bahaya untuk anak-anak lebih luas selain kematian atau cedera," kata UNICEF. "Anak laki-laki berusia 12 tahun telah direkrut untuk ikut pertempuran, beberapa di medan perang yang sebenarnya, yang lain dipekerjakan sebagai informan, penjaga, atau penyelundup senjata."
 
Laporan UNICEF mengatakan sebanyak 2 juta anak membutuhkan dukungan atau perawatan psikologis, sedangkan total 5,5 juta anak terkena dampak konflik -beberapa dari mereka berada di wilayah Suriah dan yang lain tinggal di negara tetangga sebagai pengungsi.
 
Jumlah itu lebih dari dua kali jumlah anak yang terkena dampak konflik per Maret 2013, tahun lalu UNICEF memperkirakan sebanyak 2,3 juta anak Suriah terkena dampak konflik.
 
Tahun ini jumlah anak-anak yang tidak memiliki tempat tinggal di wilayah Suriah meningkat menjadi hampir 3 juta dari 920.000 di tahun lalu. Sementara itu, UNICEF mengatakan jumlah pengungsi anak telah tumbuh menjadi 1,2 juta dari 260.000 sejak tahun lalu - 425.000 dari mereka berusia di bawah 5 tahun.
 
"Penurunan akses anak-anak Suriah pada pendidikan sangat mengejutkan," kata laporan itu. "Hari ini, hampir 3 juta anak-anak di Suriah dan negara-negara tetangga tidak dapat ke sekolah secara teratur. Jumlah itu sekitar setengah dari populasi anak usia sekolah Suriah."
 
UNICEF mengatakan ada 323.000 anak di bawah usia 5 tahun berada di wilayah yang terkepung atau di daerah yang sulit dijangkau oleh para pekerja bantuan kemanusiaan.
 
Laporan UNICEF itu dirilis setelah Save the Children, kelompok advokasi internasional yang mempromosikan hak-hak anak, mengeluarkan penilaian tentang runtuhnya sistem kesehatan di Suriah.
 
Laporan UNICEF mengatakan anak-anak Suriah sedang dipaksa untuk tumbuh lebih cepat dari semestinya -satu dari 10 anak pengungsi Suriah menjadi pekerja sementara satu dari setiap lima anak perempuan Suriah di Yordania dipaksa menjalani pernikahan dini.
 
"Perang ini harus berakhir, sehingga anak-anak dapat kembali ke rumah mereka untuk membangun kembali kehidupan mereka dengan aman dengan keluarga dan teman-teman mereka," kata direktur UNICEF Anthony Lake. "Ini tahun ketiga penghancuran bagi anak-anak Suriah dan harus menjadi tahun terakhir." (alarabiya.net)

BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home