Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 15:45 WIB | Jumat, 12 September 2014

Tengger Alami Kebakaran Terbesar dalam 6 Tahun Terakhir

Sejumlah petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dibantu warga setempat berusaha mencegah agak kebakaran tidak meluas saat terjadi kebakaran di hutan sabana Gunung Bromo, Malang, Jawa Timur, Rabu (10/9). Kurangnya petugas dan kencangnya tiupan angin membuat proses pemadaman api yang membakar 50 hektare hutan sabana di kawasan wisata tersebut sulit dilakukan. (Foto: Antara)

PROBOLINGGO, SATUHARAPAN.COM – Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger (TNBTS) Ayu Dewi Utari menyatakan kebakaran kawasan TNBTS, Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur pada Selasa (9/9) merupakan kebakaran terbesar dalam enam tahun terakhir.

Kebakaran disebabkan oleh kelalaian para pencari rumput di padang savana Gunung Bromo yang membuang puntung rokok sembarangan serta menyalakan api dan tidak dimatikan dengan sempurna. Akibatnya, kurang lebih 100 hektar kawasan padang savana Gunung Bromo dan 350 hektar kawasan yang dipenuhi tumbuhan cemara di sekitar tebing lereng Watu Kutho sampai Watu Gede terbakar.

Peristiwa tersebut juga turut membakar habitat lutung di kawasan itu. Namun, Ayu belum dapat memastikan apakah satwa di kawasan tersebut ikut terbakar. Petugas belum menemukan bangkai satwa saat melakukan pemadaman api.

“Kami tidak tahu apakah lutung dan burung-burung kecil tersebut ikut terbakar pada saat kebakaran di kawasan bukit Teletubies Gunung Bromo hingga kawasan B-29 Lumajang, namun ekosistem mereka dipastikan rusak karena sudah hangus terbakar, terutama ekosistem di padang savana,” ujar Ayu Dewi Utari.

Ayu menjelaskan, untuk melakukan rehabilitasi di kawasan padang savana yang telah terbakar memang tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Hal ini disebabkan suhu udara di kawasan setempat yang mencapai -7 derajat celcius. Tanaman di daerah tersebut juga merupakan tanaman yang mudah tumbuh, seperti ilalang, rumput, dan pakis. Akan tetapi, untuk mengembalikan habitat lutung Jawa di kawasan tebing yang ditumbuhi cemara memang membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan bisa sampai puluhan tahun.

ProFauna Indonesia menyatakan bahwa kerusakan lahan di kawasan TNBTS akan mengancam kelestarian habitat satwa liar yang dilindungi, terutama lutung Jawa atau Trachypithecus auratus. Menanggapi hal itu, pihak pengelola TNBTS mengimbau masyarakat untuk turut menjaga kelestarian alam serta memerhatikan papan peringatan dan larangan untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak membuat api unggun, serta tidak melakukan aktivitas lain yang dapat memicu kebakaran khususnya saat musim kemarau. (Ant)

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home