Loading...
OPINI
Penulis: Albertus Patty 18:20 WIB | Rabu, 28 September 2022

Teologi Perang

Akibat perang yang mengerikan. Valentina Bondarenko ketakutan saat dia berdiri bersama suaminya Leonid di luar rumah mereka yang rusak berat setelah serangan Rusia di Sloviansk, Ukraina, Selasa, 27 September 2022. Perempuan berusia 78 tahun itu berada di taman dan jatuh ke tanah pada saat terjadi ledakan. "Semuanya terbang dan saya mulai melarikan diri," kata Valentina. (Foto: AP/Leo Correa)

SATUHARAPAN.COM-Kalangan Kristen memiliki pendapat yang beragam tentang perang. Paling sedikit ada tiga:

1. Kaum Pasifis yang secara total menolak perang. Berperang artinya membunuh sesama. Bagi mereka ini dosa! Tidak dikehendaki Tuhan. Oleh karena itu mereka menolak profesi militer dan untuk alasan apa pun menolak dikirim ke medan perang.

Sikap ini sangat tidak realistis seolah-olah semua persoalan pasti selesai dengan kompromi. Padahal dalam dunia yang berdosa, penyelesaian konflik antar bangsa tidak sesederhana penyelesaian konflik antar personal. Kadang ada bangsa atau kelompok masyarakat yang bersikap seperti serigala yang mau mendominasi bangsa atau kelompok lain demi kepentingan ekonomi domestiknya.

Dalam kondisi ini tidak ada jalan lain kecuali berperang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa.

Nah, sikap pasifis ini dituding sebagai sikap yang tidak memiliki patriotisme. Ia muncul dari rasa takut serta tidak memiliki tanggungjawab sosial kebangsaan. Sikap ini dituding bukan sikap yang lahir dari cinta, tetapi hadir dari kemunafikan. Motif utamanya ingin menyelamatkan diri sendiri.

2. Ada sikap yang sebaliknya dari yang pertama. Sikap ini justru menggunakan agama untuk menjustifikasi peperangan. Contoh nyata yang dilakukan pemimpin gereja Rusia, Patriark Kirill. Sikapnya ini sama dengan Paus Urbanus II ketika yang terakhir ini dengan dukungan ayat-ayat suci dan symbol-simbol keagamaan mendorong semua orang Kristen Eropa masuk dalam Perang Salib demi memerangi kaum Muslim.

Umat dengan dungu mudah digiring dalam peperangan dengan janji-janji sorgawi. Padahal, sesungguhnya Paus Urbanus II sedang mewujudkan ambisinya memperluas pengaruh politiknya sampai di Timur Tengah.

 Jadi, sesungguhnya Perang Salib bukanlah perang agama. Kita lihat bahwa ambisi dan kepentingan politik Patriark Kirill dan Paus Urbanus II dibalut dengan bahasa agama.

Encyclopedia Perang memberi ulasan menarik. Hanya 7% konflik di seluruh dunia yg bisa disebut sebagai sungguh-sungguh konflik agama. 93% konflik lainnya lebih banyak soal ekonomi dan terutama kepentingan politik yang kemudian memanfaatkan agama sebagai alat justifikasi. Intinya, lebih banyak politisasi agama.

Pada jaman modern politisasi agama bermetamorfosa menjadi Politik Identitas yang mengangkat isu etnik, budaya dan terutama agama. Politik identitas ini dipraktikkan oleh Donald Trump (Amerika Serikat), Jair Messis Bolsonaro (Brazil), Recep Tayyip Erdogan (Turki), Victor Orban (Hungaria), Zia Ul Haq (Pakistan), Rodrigo Duterte (Filipina) dan Anis Baswedan (Pilkada DKI tahun 2017) yang dikenal dengan strategi ayat dan mayat.

3. Sikap ketiga adalah Just War. Sikap ini lebih realistis. Dalam dunia yang berdosa kadang perang tidak terhindarkan. Tetapi, sikap ini menekankan untuk sejauh mungkin menghindari perang. Perang selalu jadi the last resort bila segala jalan kompromi sudah buntu.

Perang pun lebih untuk membela diri demi terciptanya keadilan. Ia bukan sarana untuk mendominasi.  Misalnya ketika pasukan Sekutu memerangi Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler. Itu adalah Just War yang muncul karena demi menyelamatkan nyawa jutaan orang Eropa termasuk warga Yahudi yang dibantai Hitler.

Saat Just War dilakukan pun harus diupayakan agar sesedikit mungkin jatuh korban sipil, terutama perempuan, orang yang sudah sepuh dan anak-anak.

Kesimpulan: Patriark Kirill yang memang merupakan pendukung kebijakan politik Putin dalam intervensi Rusia di Ukraina sedang menggunakan politisasi agama. Apalagi pemisahan Rusia dan Ukraina telah menimbulkan gesekan keras dalam relasi internal Gereja Orthodoks. Ada persaingan dan perebutan otoritas antara pimpinan gereja Orthodox di Rusia dan di Ukraina.

"Politik itu Suci," kata Sabam Sirait. "Politik untuk melayani," kata Johanes Leimena. Agama juga suci dan untuk melayani.

Tetapi ketika keduanya digabung menjadi politik agama maka hasilnya adalah kejahatan, manipulasi, kedunguan, dan ujungnya dehumanisasi!

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home