Loading...
INSPIRASI
Penulis: Alexander Urbinas 11:41 WIB | Selasa, 18 Oktober 2022

Tragedi Kanjuruhan : Nalar Sepakbola Membangun Persatuan

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM, Meninggalnya ratusan suporter di Stadion Kanjuruhan Malang yang terjadi pada 1 Oktober 2022 membuat Indonesia mendadak menjadi negara yang sepak bolanya diperbincangkan di hampir seluruh dunia, bahkan nama Indonesia atau Stadion Kanjuruhan sempat menjadi Trending Topic Worldwide di Twitter selama beberapa waktu. Sayangnya, sepak bola Indonesia dikenal bukan karena prestasi namun karena tragedi.

Beberapa suporter dan manajemen klub besar di Eropa seperti Inter Milan, Borussia Dortmund, Liverpool, Manchester City, Manchester United dan lain-lain, ikut mengomentari dan prihatin atas tragedi yang terjadi tersebut. Insiden itu,  bahkan tercatat sebagai peristiwa terbesar kedua di dunia sepanjang sejarah persepakbolaan yang merenggut korban jiwa.

Pasca kejadian tersebut banyak orang yang merespons bahkan menghakimi siapa pihak yang sebetulnya perlu (paling) bertanggungjawab terhadap insiden tersebut. Tulisan ini, bukan untuk mencari siapa yang salah dan perlu bertanggungjawab, karena itu menjadi bagiannya penegak hukum dan para pemangku kepentingan sepak bola di Indonesia yang sampai dengan saat ini sudah dan terus bekerja. Ini merupakan sebuah refleksi singkat dari seorang pecinta sepak bola di layar kaca yang juga beberapa kali menonton langsung sepak bola di beberapa stadion dan merasakan atmosfirnya.

Di dunia internasional, sepak bola Indonesia memang sudah pasti kalah jauh prestasinya dibandingkan dengan badminton. Namun,  soal militansi suporter sepak bola Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata. Malahan militansinya mungkin melebihi suporter sepak bola di negara-negara Amerika Selatan atau Eropa yang dikenal fanatik.

Setiap pertandingan Liga Indonesia di kota manapun, tidak pernah sepi dari penonton. Tentu ini bukan saja menjadi penanda tentang kecintaan masyarakat Indonesia terhadap sepak bola, tetapi dari sisi ekonomi, sepak bola Indonesia merupakan bisnis yang menggiurkan. Karena basis masa itu juga, maka sepakbola menjadi ladang yang cukup seksi dimanfaatkan oleh politisi untuk mengkampanyekan kepentingan politik dirinya atau partainya. Dalam kampanye beberapa kepala daerah ketika pemilu misalkan, sering memanfaatkan sepak bola dengan mengumbar janji bahwa si calon akan memajukan sepak bola di daerah tersebut. Ketika tragedi Kanjuruhan terjadi, politisi juga ramai-ramai memposting di sosial media, dengan ukuran gambar dirinya yang lebih besar ketimbang pesan keprihatinannya.

Sayangya, animo suporter sepak bola Indonesia yang begitu besar itu tidak diiringi dengan manajemen sepak bola yang profesional. Keributan dan perkelahian di Liga Indonesia bukanlah hal aneh. Bahkan ada ucapan satir di kalangan pecinta sepak bola yang mengatakan: “Nonton Liga Indonesia itu seru, beli satu tiket bisa nonton dua cabang olahraga. Sepak bola dan Tinju!” Perkelahian antarpemain, keributan antarsuporter, dan pemukulan kepada wasit adalah hal yang berulang kali terjadi.

Lalu, apa yang menyebabkan hal itu? Mengapa perseteruan antarsuporter kerap terjadi? Apakah hanya karena urusan sepak bola sehingga mengabaikan perdamaian dan persatuan. Sebelum melihat dalam konteks Indonesia. Ada baiknya kita belajar dari rivalitas klub sepakbola di negara lain.

Sebagai contoh, tensi panas El Clasico La Liga Spanyol antara Barcelona vs Real Madrid yang melibatkan cules (sebutan pendukung Barcelona) dan madridista (sebutan pendukung Real Madrid), punya latar belakang politis. Real Madrid dianggap sebagai Simbol Kerajaan Spanyol, sedangkan Barcelona merepresentasikan Catalunya. Barcelona merupakan ibukota Catalonia, wilayah otonomi Spanyol yang pada tahun 2017 sempat mendeklarasikan kemerdekaan dari Spanyol. Dari latar belakang ini, jelas perseteruan kedua klub berkaitan dengan politik.

Di Liga Scotlandia  ada dua klub ternama yang memiliki rivalitas kuat, yakni Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers pertemuan kedua klub tersebut disebut sebagai Derby Old Firm. Latar belakangnya berbeda lagi, yakni perbedaan ideologi politik dan agama di antara kedua pendukungnya. Celtic didukung oleh para umat Gereja Katolik dengan ideologi politik loyalis-republik, sedangkan Rangers terkait dengan umat Gereja Protestan dan ideologi politik konservatif-sosialis.

Namun pada era modern saat ini, sepanas apapun rivalitas antarklub sebut saja seperti seperti El Clasico (Barcelona-Madrid), Derby Old Firm (Celtic-Rangers), atau Derby Della Madonnina (Inter-AC Milan). Namun tidak pernah merenggut korban jiwa, apalagi sampai ratusan nyawa.

Bagaimana dengan latar belakang rivalitas suporter di Indonesia, sebut saja Arema-Persebaya, Persija-Persib, Persita-Persikota, dan lian-lain? Memang rivalitas suporter di Indonesia tidak memiliki sejarah panjang seperti klub-klub di Eropa atau Amerika Selatan. Rivalitas klub dan suporter Liga Indonesia sebetulnya terjadi karena persoalan-persoalan lokal yang dimulai keributan antarsuporter, yang tidak ada kaitannya dengan pilihan politik atau latar belakang agama.

Untuk itu perlu ada pengelolaan yang profesional agar mencegah kekerasan kembali terjadi di sepak bola nasional. Contohnya, sepak bola Jepang yang sekarang dikenal sebagai salah satu nama besar di dunia Internasional. Liganya berkualitas, timnasnya pun kompetitif. Namun, keberhasilan itu tidak dibangun dalam satu malam, pada tahun 1991 perwakilan liga Jepang belajar pengelolaan liga dari Liga Indonesia. Mereka lalu membangun infrastruktur, menanamkan kultur sepak bola modern dan etika suporter, serta melakukan manajemen yang profesional, hingga Jepang akhirnya memiliki sepak bola yang berkualitas. Jepang yang belajar dari Indonesia, malahan sudah meninggalkan Indonesia dalam hal prestasi sepak bola. 

Mari memiliki nalar sepak bola yang bertujuan membangun persatuan. Bahwa dengan sepak bola, Anda dengan latar belakang sosial apapun, umur berapapun, agama apapun dapat menikmatinya. Jangan bermimpi sepak bola Indonesia akan menjadi juara di Asia apalagi Dunia, kalau keributan masih mendominasi dan pengelolaan yang tidak profesional. Semoga para suporter, pengelola klub, dan induk organisasi sepak bola di Indonesia dapat memiliki nalar untuk terus memajukan sepak bola Indonesia. Salam persatuan dan persaudaran! Forza Garuda!

Editor : Eti Artayatini


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home