Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 16:48 WIB | Minggu, 22 Mei 2016

Umat Buddha Ikuti Detik Waisak di Borobudur

Sejumlah biksu melakukan Pradaksina atau berdoa sambil berjalan mengelilingi Candi Sewu di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, hari Minggu (22/5) dini hari. Sebanyak 3000 umat Budha dari wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta mengikuti rangkaian ritual Waisak 2560 BE/2016 dengan tema "Transformasi Mental dengan Damai dan Harmoni". (Foto: Antara)

MAGELANG, SATUHARAPAN.COM - Ribuan umat Buddha mengikuti ritual detik-detik Waisak Waisak 2560 BE/2016 di pelataran Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, hari Minggu (22/5) pagi.

Detik-detik Waisak 2560 BE tepat pukul 14.14.06 WIB ditandai dengan pemukulan gong tiga kali.

Menjelang detik-detik Waisak umat Buddha menjalani meditasi dipimpin oleh Bhikkhu Wongsin Labhiko Mahatera.

Sebelum dilakukan meditasi, masing-masing majelis membacakan doa, yakni majelis Majubuthi/MBMI (Theravada), Mahayana, Najabudti, Madhatantri, MNSBDI, ZFZ Kasogatan, NSI, Mapanbumi, dan Martrisiia.

Usai detik-detik Waisak umat Buddha yang sebelumnya berdoa di depan altar, kemudian melakukan pradaksina.

Pradaksina mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali searah jarum jam.

Saat pradaksina umat Buddha membawa bunga teratai diiringi lagu Buddhang Saranang Gacchami.

Selesai pradaksina umat meletakkan teratai di candi dengan melakukan adhitana dan bernamaskara tiga kali. 

Dalam acara pelepasan lampion Waisak 2560 BE/2016 di Candi Borobudur, hari Sabtu (21/5) malam, Bhikkhu Sri Panyavaro Mahathera dalam pesan Waisak menyampaikan cinta kasih tidak sekadar emosional tetapi cinta kasih itu tanggung jawab sebagai manusia untuk tidak mengganggu yang lain.

"Tidak berbuat buruk karena keburukan itu menghancurkan dirinya dan orang lain," katanya.  

Ia juga mengingatkan bahwa pujangga buddhis Mpu Tantular dengan sangat bijak menerjemahkan cinta kasih itu menjadi ungkapan yang dikenal Bhinneka Tunggal Ika dengan menerima perbedaan, menghargai perbedaan dengan ketulusan hati.

Perbedaan itu tidak mungkin dilebur, dibuang begitu saja dijadikan satu, tetapi menerima dengan ketulusan hati karena di antara perbedaan itu hakikatnya adalah tunggal.

"Apakah yang tunggal itu. Kemanusiaan adalah universal, kebenaran yang hakiki adalah tunggal. Itulah yang membuat kita untuk menerima perbedaan, menghargai perbedaan dan ketulusan hati," katanya.

Ia menuturkan Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya dimulai 600 tahun sejak Mpu Tantular menulis di lontar Sotasoma, tetapi dengan yakin moral Binneka Tunggal Ika itu sudah menjadi darah daging jati diri nusantara ratusan tahun sebelum Mpu Tantular.

"Jadi tulah yang menjadi sifat dasar bangsa Indonesia hingga kini, kami ingin memberikkan moral Bhinneka Tunggal Ika kepada dunia," katanya. 

Perayaan Waisak oleh umat Buddha untuk memperingati tiga peristiwa penting dalam ajaran agama Buddha, yakni lahirnya Pangeran Sidharta, Sang Buddha mencapai penerangan sempurna, dan mangkat Buddha Gautama. (Ant)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home