Loading...
SAINS
Penulis: Kartika Virgianti 09:00 WIB | Minggu, 01 Juni 2014

Virus Tidak Membedakan Status Kita di Hadapan Tuhan

Pdt. Krise Gosal saat memberikan sambutan sekaligus kalimat motivasinya. (Foto: Kartika Virgianti)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Perwakilan dari Majelis Pekerja Harian Persatuan Gereja Indonesia, Pendeta Krise Gosal, menyampaikan refleksinya dalam acara Malam Renungan AIDS Nusantara 2014, bahwa kita sama rendahnya di hadapan Tuhan, sehingga virus jenis apapun tidak dapat membuat status kita berbeda.

Acara yang yang bertempat di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat itu, diselenggarakan oleh Persatuan Gereja Indonesia (PGI) atas dukungan berbagai pihak yang disebut Mission 21, terutama para aktivis dan LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang tidak pernah lelah menyuarakan hak-hak bagi pengidap HIV/AIDS di seluruh Indonesia, Jumat (30/5).  

Dalam sambutannya, Krise mengemukakan tiga hal akan pentingnya mengingatkan masyarakat akan HIV/AIDS setiap saat, bukan hanya saat momen khusus peringatan Hari AIDS sedunia pada 1 Desember, dan tidak melulu harus berdiri di Bundaran Hotel Indonesia untuk berorasi akan bahaya AIDS dengan membawa spanduk serta mengumpulkan massa.

“Tujuan dari Malam Renungan AIDS Nusantara ini, pertama, meningkatkan solidaritas dan semangat untuk penanggulangan. Kedua, mempererat jejaring dalam upaya-upaya penanggulangan. Ketiga, meningkatkan solidaritas dan kepedulian kepada STH (Saudara Terinfeksi HIV) atau sebutan ODHA (orang dengan HIV/AIDS) di kalangan PGI,” urai Krise.

STH dijelaskan Krise adalah istilah yang digunakan oleh para pemimpin gereja, mereka tidak menyebut pengidap itu sebagai orang, melainkan saudara. Pada akhirnya, istilah tersebut dirasakan memiliki kekuatan empati yang begitu besar terhadap para pengidap HIV/AIDS.

Malam peringatan AIDS itu sebagai perwujudan akan adanya aksi nyata dan uluran tangan setiap saat yang tak kenal lelah, untuk mendorong masyarakat memberikan hak-hak dalam kehidupan sosial, bermasyarakat maupun berkarya kepada pengidap HIV/AIDS. Hal itu hanya dapat dilakukan dengan tidak mengucilkan dan segala bentuk diskriminasi lainnya.

Dalam acara tersebut, turut disuguhkan pemutaran film pendek berjudul “Selalu Ada Jalan” yang terinspirasi kisah hidup seseorang remaja di sebuah lembaga rehabilitasi narkoba. Film tersebut berceritera bagaimana seorang pesakitan dengan sebuah tekad dapat pulih total dari ketergantungan narkoba.

Salah seorang pemeran dalam film pendek  pernah menjalani pelatihan di lembaga rehabilitasi tersebut. Saat ini ia telah pulih dan turut hadir dalam acara Malam Renungan AIDS itu.

Selain itu, dihadirkan pula refleksi dalam bentuk theatrical berjudul “Demi Bunda dan Demi Diriku Sendiri” yang hanya dimainkan oleh hanya tiga orang namun begitu menyentuh hati. Berkisah seorang anak kecil bernama Lisa yang belum mengerti dirinya sakit apa, tetapi harus minum obat setiap hari. Sang Bunda senantiasa mengingatkan Lisa, meskipun ia tahu duka di hati anaknya karena harus menjalani hidup yang berbeda dengan teman sebayanya. Sang Bunda begitu haru melihat anak tercintanya yang terkadang lelah meminum obat setiap hari, dan selalu menanyakan dirinya sakit apa.

Delapan tahun kemudian sepeninggal Bunda, melalui sepucuk surat di dalam album foto, Lisa menemukan pesan terakhir Sang Bunda yang menjelaskan sakitnya berasal dari Ayahnya yang pecandu narkoba hingga mati karena overdosis obat. Dengan tangis kecewa, dan berbagai pergumulan batin, Lisa kemudian memahami pesan bundanya, untuk terus sehat dan menjalani hidup dengan baik dan bermanfaat bagi sesama.

Turut mengisi acara pula, yaitu empat orang anak muda dari sebuah kampung di Jakarta Barat yang begitu melekat dengan stigma kampung narkoba. Tetapi mereka ingin bangkit bersama-sama untuk mengurangi stigma tersebut secara perlahan-lahan dengan membuktikan bahwa di sana juga ada tunas-tunas bangsa yang mampu mengubah paradigma masyarakat dengan karyanya.

Empat anak muda kreatif ini dengan bersemangat membawakan dua buah lagu dari band kesohor tanah air, Nidji, sambil memainkan alat musik gitar dan perkusi.

 

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home