Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 10:05 WIB | Senin, 13 Januari 2014

Wakil Menteri Industri Libya Dibunuh di Sirte

Wakil Menteri Industri Libya, Hassan Al-Droui, yang dibunuh hari Minggu (12/1) di Sirte. (Foto: dari aljazeera.com)

TRIPOLI, SATUHARAPAN.COM - Wakil Menteri Industri Libya ditembak  ketika berkunjung ke kota kelahirannya, Sirte, di sebelah timur ibu kota Tripoli.

Media lokal mengutip pejabat setempat mengatakan bahwa orang-orang bersenjata yang  tak dikenal memberondong Wakil Menteri itu, Hassan Al-Droui, di dekat pusat perdagangan, hari Minggu (12/1). Kasus ini dalah pembunuhan pertama terhadap pejabat pemerintah transisi Libya.

Libya dilanda pelanggaran hukum dan konflik kekerasan sejak  digulingkannya  Kolonel Muammar Gaddafi dari kursi kepresidenan pada bulan Oktober 2011. Namun motif di balik pembunuhan Al-Droui masih belum jelas.

Sebagian besar pembunuhan semacam ini , yang umum terjadi di kota-kota di timur Benghazi dan Derna, biasanya menargetkan tokoh-tokoh militer dan polisi. Pihak yang sering dituduh sebagai pelaku adalah kelompok-kelompok Islam ekstrim yang beroperasi di sana, kata wartawan BBC, Rana Jawad di Tripoli.

Aal-Droui adalah mantan anggota Dewan Transisi Nasional  dari sayap politik kelompok pemberontak tahun 2011. Dia ditunjuk sebagai  perdana menteri pertama pemerintahan transisi hingga  posisinya diambil alih oleh  Ali Zeidan.

Sirte adalah kawasan  pertempuran terakhir dari perang sipil Libya, di mana Kolonel Gaddafi ditangkap dan ditembak mati ketika mencoba untuk bersembunyi dari serangan pemberontak.

Kekerasan Milisi
 
Libya tengah berjuang mengatasi sekitar  1.700 milisi bersenjata dari kelompok yang berbeda. Mereka  muncul setelah Gaddafi ditumbangkan,  masing-masing dengan tujuan mereka sendiri. Pada hari Sabtu (11/1) setidaknya 19 orang meninggal dalam bentrokan antara suku-suku  yang bersaing di kota selatan, Sabha.

Pertempuran dilaporkan dipicu oleh pembunuhan seorang pengawal  pemimpin milisi kota, anggota dari suku Awlad Suleiman. Para pengikutnya menuduh saingan mereka, suku Toubou yang membunuh pemimpin mereka.

Kekerasan di antara suku-suku di Libya adalah yang terburuk karena mereka mengabaikan perjanjian gencatan senjata pada Maret 2012.

Anggota Toubou,  suku minoritas yang hidup terutama di negara tetangga Chad, tetapi juga ada di selatan Libya, Niger dan Sudan. Pada masa lalu mereka  tidak diperlakukan sama dengan orang Arab dari kota-kota pesisir utara, yang cenderung mendominasi pemerintah dan pasukan keamanan negara itu.

Wilayah Libya bagian selatan  berkembang  dengan bisnis penyelundupan barang serta perdagangan manusia, kata wartawan BBC. Bentrokan antara suku  di sana berakar pada persaingan  untuk menguasai  rute penyelundupan. (bbc.co.uk / AFP)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home