Loading...
RELIGI
Penulis: Endang Saputra 07:11 WIB | Senin, 07 September 2015

Wapres Ajak NU Atasi Ketertinggalan

Rais Aam Syuriah PBNU KH. Maruf Amin (kiri) mengambil sumpah Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (keempat kanan) dan jajaran pengurus PBNU dalam pengukuhan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2015-2020 di Masjid Istiqlal Jakarta, Sabtu (5/9). Pengurus NU periode tersebut merupakan hasil muktamar Ke-33 NU di Jombang. (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan umat Islam di Indonesia beruntung karena dapat hidup dalam kondisi aman dan damai.

Namun kata Jusuf Kalla tantangan yang dihadapi saat ini adalah ketertinggalan dan di sinilah energi harus difokuskan.

“Inilah yang menjadi tantangan kita, dan tantangan NU. Kita tidak ada masalah politik yang besar, kita tidak ada masalah ideologi yang besar. Kita memiliki tantangan ketertinggalan ekonomi dan kemiskinan. Ini memberi efek pada umat. NU merupakan bagian terbesar dari umat tentu bagian terbesar dari tatangan ini,” kata Jusuf Kalla saat memberikan sambutan dalam acara pengukuhan pengurus Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di Jakarta hari Sabtu (5/9).

Ia menegaskan, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran besar bukan hanya dalam bidang keagamaan seperti kegiatan shalawat dan istighotsah, tetapi NU harus turut serta membangun bidang pertanian, perdagangan dan lainnya.

“Karena hanya dengan cara inilah kita menghadapi tantangan ketertinggalan,” kata dia.

Program pemerintah saat ini yang berusaha memajukan Indonesia dari desa akan memiliki dampak besar terhadap jamaah NU yang kebanyakan tinggal di desa.

“NU sebagai bagian bangsa yang sangat besar akan merasakan kesulitan apabila ada masalah tetapi akan bergembira jika berhasil mengadapi tantangan tersebut,” kata dia.

Jusuf Kalla yang juga salah satu mustasyar NU ini menegaskan sudah waktunya ketergantungan pada pihak lain diakhiri.

“Masa dimana tangan di bawah harus diakhiri. Karena kita pada dasarnya tidak kekurangan. Karena itu apabila ada yang kekurangan seperti penduduk Rohingnya, kita membantu. Sekiranya Timur Tengah tidak jauh, kita akan membantu, tetapi kita jauh,” kata dia.

Umat Islam Indonesia, tidak hanya penting memelihara persaudaraan sesama Islam (ukhuwah islamiyah) tetapi juga penting menjaga pesaudaraan kebangsaan (ukhuwan wathaniah), dan juga ukhuwan basyariah atau komitmen atas persoalan-persoalan kemanusiaan.

“Mudah-mudahan kita dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Terima kasih, selamat kepada pengurus NU, mudah-mudahan segala khidmatnya agar bermanfaat,” katanya (nu.or.id)

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home