Loading...
DUNIA
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:53 WIB | Selasa, 10 Desember 2019

Aung San Suu Kyi Hadapi Tuduhan Genosida di Mahkamah Internasional

Tuntutan Gambia menyebut Myanmar telah melakukan pembunuhan dan pemerkosaan massal terhadap orang Rohingya. (Foto: abc.net.au/AP/Bernat Armangue)

MYANMAR, SATUHARAPAN.COM – Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi bertolak ke Den Haag, Belanda, untuk menghadapi tuduhan genosida terhadap umat Islam Rohingya di Mahkamah Internasional PBB. Ribuan warga turun ke jalan melepas peraih Nobel Perdamaian ini.

Suu Kyi tampak menebar senyum ketika berjalan menuju bandara Naypyitaw, didampingi sejumlah pejabat setempat, Minggu (8/12/2019). Sehari sebelumnya ribuan warga berkumpul di kota itu dan menggelar doa bersama untuknya.

Kerumunan massa kembali terjadi sore harinya untuk melepas belasan pendukung yang akan bergabung dengan Suu Kyi di Den Haag. Sepanjang pekan ini juga direncanakan akan digelar aksi demo.

Tuduhan genosida yang dilakukan Myanmar diajukan ke Mahkamah Internasional oleh Gambia, sebuah negara kecil di Afrika Barat yang berpenduduk mayoritas Muslim.

Gambia, secara resmi juga menuntut Myanmar pada November 2019, dengan tuduhan kejahatan internasional paling serius terhadap minoritas Muslim Rohingya.

Proses persidangan akan berlangsung tiga hari dari tanggal 10 hingga 12 Desember 2019.

Dalam persidangan itu Gambia akan meminta majelis hakim PBB yang beranggotakan 16 orang agar menetapkan "langkah sementara" untuk melindungi warga Rohingya, sebelum materi gugatannya disidangkan secara penuh.

Lebih dari 730.000 warga Rohingya melarikan diri dari Myanmar pada tahun 2017, setelah militer negara itu memimpin penumpasan brutal.

Menurut PBB, penumpasan dilakukan dengan "niat genosidal" dan termasuk pembunuhan massal dan pemerkosaan.

Pada Oktober 2018, Australia mengenakan pencekalan dan sanksi lain terhadap lima jenderal Myanmar yang dituduh memimpin penumpasan orang Rohingya.

Meskipun mendapat kecaman internasional, pemerintahan Suu Kyi tetap membela tindakan militer Myanmar tersebut, dengan dalih bahwa hal itu sebagai tanggapan sah terhadap serangan militan Rohingya.

Demonstrasi pro-Suu Kyi, berlangsung di kota-kota besar sejak diumumkan bahwa dia akan datang langsung ke Mahkamah Internasional.

Papan reklame berisi fotonya dengan tulisan "We stand with Suu Kyi" (Kami mendukung Suu Kyi), bermunculan di seluruh Myanmar, termasuk di Bagan, kota bersejarah yang menjadi daya tarik utama bagi para turis asing.

Pada Sabtu (7/12), ribuan orang menggelar aksi unjuk rasa di Naypyitaw, sementara para pejabat mengadakan doa bersama di Katedral St Mary di bekas ibu kota Yangon.

Tampak hadir Menteri Agama Thura Aung Ko, sosok yang dikenal vokal menghina kaum minoritas.

Menteri Agama Myanmar ini tahun lalu, bahkan menyebut para pengungsi Rohingya di Bangladesh sedang "dicuci-otak" untuk "menyerbu" Myanmar yang mayoritas beragama Buddha.

Sebelum berangkat ke Den Haag, Suu Kyi bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi, dan membahas kerja sama yang lebih kuat.

"Aung San Suu Kyi berterima kasih kepada China atas dukungan dan bantuannya dalam menjaga kedaulatan nasional Myanmar, menentang campur tangan asing, dan mempromosikan pembangunan sosial ekonomi," pejabat Deplu China Zhao Lijian. (abc.net.au)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home