Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 20:28 WIB | Rabu, 03 Oktober 2018

BI: Jangan Lihat Kalau Kurs Rp15.000/dolar Sudah Kiamat

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. (Foto: Dok. satuharapan.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan jangan melihat kalau nilai tukar (kurs) rupiah mencapai Rp15.000 per dolar itu sudah kiamat dan menilai perlemahan rupiah terhadap dolar AS bukan merupakan hal yang mengkhawatirkan, karena juga dialami oleh mata uang negara-negara berkembang lainnya.

"Jangan kita lihat kalau (kurs rupiah) Rp15.000 sudah kiamat. Kita bandingkan dulu dengan semua negara yang mengalami tekanan depresiasi," ujar Perry saat mengisi seminar di Jakarta, Rabu (3/10).

Perry mengingatkan fenomena perlemahan mata uang ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, namun juga negara-negara berkembang lainnya.

Hal tersebut terlihat dari depresiasi mata uang yang terjadi di negara-negara seperti Turki, Brasil, Afrika Selatan, India dan Filipina yang memiliki kondisi perekonomian sama seperti Indonesia.

"Tingkat pelemahan rupiah sejak akhir Desember 2017 sampai sekarang 9,82 persen, bandingkan dengan Turki 37,7 persen, Brasil 17,6 persen, Afrika Selatan 13,8 persen dan India 12,4 persen," ujarnya.

Untuk itu, ia menegaskan perlemahan mata uang merupakan fenomena global yang terjadi karena respon pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS serta potensi terjadinya perang dagang.

Perry memastikan salah satu upaya jangka menengah panjang yang bisa dilakukan untuk menahan perlemahan rupiah adalah dengan memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan.

Perbaikan neraca transaksi berjalan yang mengalami defisit tidak terlalu krusial dalam keadaan ekonomi normal, namun menjadi mendesak dalam keadaan penuh gejolak.

"Ini yang membuat kita tidak bisa dibandingkan dengan Thailand, karena mereka mempunyai surplus neraca transaksi berjalan hingga 54 miliar dolar AS, sehingga mata uangnya relatif stabil," ujarnya.

Perry menyakini perbaikan defisit neraca transaksi berjalan ini dapat membuahkan hasil dan membantu menekan pergerakan rupiah terhadap dolar AS di 2019.

Tidak Perlu Risau

Sementara itu Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan masyarakat tidak perlu risau dengan kondisi nilai tukar (kurs)  rupiah yang menyentuh angka psikologis baru di Rp15.000 per dolar AS.

"Rupiah saya kira tidak ada masalah, kenapa mesti risau di Rp15.000. Saya bilang tidak perlu risau karena inflasi masih bagus dan utang masih rendah," kata Luhut di kantornya, Jakarta, Rabu (3/10).

Ia menjelaskan pula bahwa pemerintah mempunyai strategi untuk menekan laju impor, diantaranya melalui program B20, pariwisata, dan penerapan tingkat komponen dalam negeri (TKDN)

"APBN kita juga sangat kredibel. Tidak ada masalah pendanaan. Kami bayar untuk Palu, Ibu (Menkeu) Ani kasih uangnya," kata dia.

Pergerakan kurs  rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu sore ini bergerak melemah sebesar 45 poin menjadi Rp15.061 dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.016 per dolar AS.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang naik menjadi salah satu faktor yang mendorong rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS.

"Sentimen obligasi Amerika Serikat itu mendorong aliran dana cenderung keluar dari pasar negara berkembang," kata dia.(Antara)

 

 

Editor : Melki Pangaribuan

Back to Home