Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 02:37 WIB | Senin, 23 Juli 2018

Budaya Pembelajar Perusahaan

Jika Anda tidak bersedia belajar, tak seorang pun dapat menolong Anda. Jika Anda berketetapan hati untuk belajar, tak seorang pun dapat menghentikan Anda (Anonim)
Menjadi pembelajar (foto: istmewa)

SATUHARAPAN.COM – Disrupsi adalah bahasa masa kini. Nyaris tak ada aspek kehidupan yang tak terkena disrupsi. Sedemikian maraknya disrupsi, hingga setiap orang harus siap setiap saat untuk diganggu keteraturan hidupnya, keberlangsungan bisnisnya, kejelasan masa depannya, oleh gangguan yang muncul akibat teknologi.

Salah satu dampak dari revolusi digital adalah adanya kebutuhan akan karakter dan keahlian  sumber daya manusia yang berbeda dengan masa lalu. Salah satu survei bahkan menemukan bahwa beberapa keahlian atau keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja saat ini merupakan hal baru yang dahulu tak dianggap perlu. Akibatnya, setiap organisasi perlu membangun budaya belajar agar setiap individu dalam organisasi tidak mengalami kesulitan besar dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan akibat disrupsi. Syarat ”pembelajar” kini sudah mulai diterapkan sebagai bagian dari penerimaan karyawan baru di berbagai perusahaan internasional terkemuka. Nyatanya, perusahaan yang sungguh punya budaya pembelajar memiliki  tiga puluh persen kemungkinan menjadi pelopor di pasar.

Apa arti budaya pembelajar? Ketika pikiran terbuka untuk hal baru, ketika senantiasa ada upaya mencari pengetahuan baru, dan ada upaya untuk berbagi pengetahuan demi pengembangan bersama, menuju pencapaian tujuan organisasi, itulah ciri bahwa budaya pembelajar telah terbentuk dalam organisasi.

Para ahli mengatakan bahwa ada beberapa hal esensial bagi pembentukan budaya pembelajar dalam sebuah organisasi. Tentu yang utama adalah bahwa setiap orang haruslah memiliki keinginan untuk belajar. Selama tidak ada keinginan untuk belajar, hampir tak mungkin membangunnya dari luar. Keinginan untuk belajar harus muncul dari dalam diri sendiri. Tak ada seorang pun yang dapat membangkitkan semangat belajar pada individu yang tak berhasrat belajar. Di lain pihak, tak ada seorang pun yang dapat menghentikan niat seseorang yang berkeinginan keras untuk belajar. Semangat untuk belajar pasti akan tampak sejak perekrutan. Karena itu, penting bagi organisasi pembelajar, memasukkan sifat gemar belajar dalam persyaratan penerimaannya.

Satu hal teramat penting yang tak bisa dikesampingkan adalah peran keteladanan dari pimpinan. Jika seorang pemimpin tidak meneladankan keingintahuan yang besar terhadap hal-hal baru, agak mustahil membangun budaya pembelajar pada jajaran di bawahnya. Perilaku pimpinan memiliki peran besar terhadap perilaku timnya. Apa yang dilakukannya akan dicontoh oleh bawahannya, di sisi lain apa yang tidak dilakukannya juga akan menjadi contoh kuat bagi para bawahan untuk tidak melakukan hal yang sama.

Jadi pembentukan budaya pembelajar mulai dari pemimpinnya. Pemimpin yang terlihat berkeinginan untuk melakukan hal-hal di luar kebiasaan akan memicu budaya melakukan hal di luar kebiasaan di dalam timnya. Pemimpin yang berharap organisasinya menjadi organisasi yang senang menghadapi tantangan, juga perlu menunjukkan bahwa Sang Pemimpin pun adalah seorang yang gemar tantangan. Keteladanan demikian pentingnya, sehingga kadang bisa menjadi satu-satunya senjata untuk memimpin dengan baik. Tidak layak pemimpin berharap timnya akan melakukan hal-hal yang tak dilakukannya sendiri.

Dengan sumber daya manusia yang bersifat pembelajar, pimpinan yang bersifat pembelajar, pemberian umpan balik yang efektif serta penghargaan atas prestasi belajar, besar kemungkinan organisasi akan bertahan dan bisa mengatasi badai disrupsi yang telah dimulai dan sepertinya tak akan berakhir ini.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor: Yoel M. Indrasmoro

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com)

Back to Home