Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 16:08 WIB | Rabu, 05 April 2017

Buncis, Alternatif bagi Penderita Diabetes

Buncis (Phaseolus vulgaris, L). (Foto: pertanianku.com)

SATUHARAPAN.COM –  Buncis sudah tidak asing lagi bagi kita. Buncis adalah sayuran segar yang umumnya dimasak dengan cara sederhana seperti ditumis, untuk sayur asem-asem, campuran sup, dicampur tempe atau tahu bahkan udang ataupun ayam. Buncis juga termasuk sayuran penting dalam resep masakan Cina atau Eropa.  

Buncis adalah sejenis polong-polongan yang dapat dimakan, dari berbagai kultivar Phaseolus vulgaris. Bukan hanya buah dan bijinya, daunnya pun dapat dimanfaatkan sebagai sayuran.

Sekilas, buncis menyerupai kacang panjang, menyebabkan orang sering kali tertukar mengenali kedua sayur ini. Buncis lebih gendut namun lebih pendek dibandingkan kacang panjang. Tekstur buncis lebih halus ketika sudah dimasak dibandingkan dengan kacang panjang

Buncis, dikutip dari stikesabi.ac.id, disebutkan sebagai sayuran yang sangat sehat dan kaya akan serat. Rupanya jenis tanaman sayuran ini memiliki sejumlah kandungan zat yang penting bagi tubuh manusia. Sayuran ini memiliki kandungan lignin, ensim protease inhibitor, potasium, fosfor, serat, dan kalsium. Selain itu kandungan zat aktif dalam sayuran ini memiliki zat b-sitosterol dan stigmasterol yang mampu meningkatkan produksi insulin. 

Yayuk Andayani, dalam kapasitas sebagai mahasiswa Program Studi Biologi Program Pasca Sarjana IPB, seperti dikutip dari ipb.ac.id, melakukan riset tentang buncis, yang sekaligus sebagai disertasi doktornya pada program mahasiswa pascasarjana IPB. Ia menemukan, buncis dapat dijadikan alternatif baru bagi penderita penyakit diabetes mellitus. 

Dalam disertasi bertajuk “Mekanisme Aktivitas Antihiperglikemik Ekstrak Buncis pada Tikus Diabetes dan Identifikasi Komponen Aktif”, ia melakukan percobaan pada tikus jantan putih berumur 3 bulan dengan perlakuan induksi diabetes.  Tikus tersebut sebelumnya telah diberi ekstrak buncis sehingga 30 menit setelah "dengan sengaja" dibuat menderita diabetes, akhirnya diketahui tekanan gula darah tikus-tikus percobaan kembali normal tanpa mengalami penurunan pada tingkat hipoglikemik(di bawah kadar gula normal). 

Hal tersebut, katanya, bisa dipahami sebab dalam buncis mengandung b-sitosterol dan stigmasterol bisa meningkatkan produksi insulin. Selain itu, sayur berwarna hijau ini dalam 100 gramnya mempunyai komposisi karbohidrat 7,81 persen, lemak 0,28 persen, protein 1,77 persen, serat kasar 2,07 persen, dan kadar abu 0,32 persen. Dengan begitu, konsumsi buncis tentunya akan mampu mengontrol kadar gula darah yang tinggi.

Morfologi Buncis

Buncis memiliki nama ilmiah Phaseolus vulgaris, L. Tanaman buncis, dikutip dari unila.ac.id, umumnya memiliki sistem perakaran yang dangkal dengan akar tunggang yang biasanya pendek terlihat jelas. Tetapi, pada tanah remah yang dalam, akar dapat tumbuh hingga sekitar satu meter. Batang buncis umumnya berbuku-buku dan sekaligus tempat melekatnya tangkai daun.

Berbagai kultivar  Phaseolus vulgaris adalah tanaman musim panas yang membelit dan merambat.  Tanaman buncis dikutip dari ipb.ac.id, adalah tanaman semak atau perdu terdiri atas dua tipe pertumbuhan.

Pertama, tipe merambat mencapai tinggi tanaman lebih kurang 2 m, bahkan dapat mencapai 2.4 m, dan lebih dari 25 buku pembungaan sehingga memerlukan turus untuk pertumbuhannya. Kedua, tipe tegak/pendek (determinate), dengan tinggi tanaman antara 30- 50 cm. Jumlah buku sedikit dan pembungaannya terbentuk di ujung batang utama.

Daun buncis berdaun tiga dan menyirip. Bunganya berukuran besar dan mudah terlihat. Warnanya putih, merah jambu, atau ungu, dan merupakan bunga sempurna.

Polong buncis berbentuk panjang-bulat atau panjang pipih. Polong muda berwarna hijau muda atau hijau tua, tetapi setelah tua berubah menjadi kuning atau cokelat sampai hijau tua. Setiap polong buncis mengandung biji berkisar 2—6 butir, tetapi kadang-kadang dapat mencapai 12 butir. Biji buncis berbentuk bulat agak panjang atau pipih, berwarna hitam, putih, cokelat, atau merah berbintik-bintik putih. Biji ini digunakan untuk benih dalam perbanyakan secara generatif.

Buncis berasal dari Amerika Tengah, kemudian dibudidayakan di seluruh dunia di wilayah beriklim sedang, tropis, dan subtropis.

Tanaman ini, dikutip dari ipb.ac.id, tempat asal primernya adalah Meksiko Selatan dan Amerika Tengah, sedangkan daerah sekunder adalah Peru, Ekuador, Bolivia dan menyebar ke negara-negara Eropa sampai ke Indonesia.

Buncis sering disebut snap beans atau french beans. Kacang buncis tipe tegak (kidney-bean) atau kacang jago adalah tanaman asli lembah Tahuaacan-Meksiko.  Selain snap beans dan french beans, buncis juga sering disebut string beans. Nama lain yang dikenal adalah haricot beans (Prancis), bai fan dou (Tiongkok), buncis (Sunda), dan boncis (Jawa).

Buncis, mempunyai potensi ekonomi yang cukup baik sebab peluang pasarnya cukup luas, untuk sasaran pasaran dalam negeri maupun pasar luar negeri (ekspor).

Selain dikonsumsi dalam bentuk polong dan biji yang dimasak, di Afrika dan di Amerika Latin, tajuk dan daunnya yang muda biasa digunakan sebagai lalapan.

Pada tahun 2014 sebanyak 80 ton buncis asal Jember dan Bondowoso, Jawa Timur, diekspor oleh PT Perkebunan Nusantara X (Persero) melalui anak usahanya, PT Mitratani Dua Tujuh, ke Jepang.

Direktur Mitratani Dua Tujuh, Wasis Pramono, seperti dikutip dari Kompas.com pada Kamis (7/8/2014) mengatakan pasar Jepang melihat sampel komoditas dan dari sisi higienitas buncis produknya lolos verifikasi standar Jepang yang cukup tinggi. Permintaan buncis dari Jepang tinggi mengingat buncis termasuk makanan sehat yang banyak dikonsumsi masyarakat Jepang.

Selain buncis Bondowoso, buncis asal Merbabu di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, juga telah menembus pasar Singapura. 

Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) pada tahun 1999, dikutip dari balitsa.litbang.pertanian.go.id, melepas tiga varietas buncis dengan tipe pertumbuhan merambat, yaitu varietas Horti 1, Horti 2, dan Horti 3. Pada tahun 2011, juga melepas tiga varietas buncis dengan tipe pertumbuhan tegak yaitu varietas Balitsa 1, Balitsa 2, dan Balitsa 3.

Khasiat Herbal Buncis

Buncis menurut Ir Bambang Cahyono, dikutip dari bukunya yang berjudul Kacang Buncis, Teknik Budi Daya & Analis Usaha Tani, Penerbit Kanisius  tahun 2007, merupakan sumber protein, vitamin, dan mineral yang penting, dan mengandung zat-zat lain yang berkhasiat untuk obat dalam berbagai macam penyakit. Gum dan pektin yang terkandung, dapat menurunkan kadar gula darah, sedangkan lignin berkhasiat untuk mencegah kanker usus besar dan kanker payudara. Serat kasar dalam polong buncis sangat berguna untuk melancarkan pencernaan sehingga dapat mengeluarkan zat-zat racun dari tubuh.

Pada buah, batang, dan daun buncis, seperti dikutip dari unud.ac.id, mengandung senyawa kimia yaitu alkaloid, saponin, polifenol, dan flavonoid, asam amino, asparagin, tannin, fasin (toksalbumin).

Buncis segar, menurut Hernani Mono Rahardjo, dalam bukunya yang berjudul  Tanaman Berkhasiat Antioksidan, penerbit Penebar Swadaya tahun 2006, mengandung vitamin A dan vitamin C.  Kandungan kimia buncis memiliki manfaat untuk meluruhkan air seni, menurunkan kadar gula dalam darah, bijinya dapat menurunkan tekanan darah tinggi, daunnya untuk menambah zat besi.

Tim peneliti dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Tunas Husada Tasikmalaya, meneliti aktivitas ekstrak buah buncis terhadap profil lipid tikus putih jantan. Dalam penelitian ini diteliti aktivitas ekstrak buah buncis terhadap kadar kolesterol total, HDL, LDL dan TG serum darah tikus.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pemberian ekstrak etanol buah buncis mempunyai aktivitas menurunkan kadar kolesterol total dan LDL serta meningkatkan kadar HDL serum darah tikus dengan dosis efektif adalah dosis II (199 mg/200 gram BB tikus 199 mg/200 gram BB tikus) dengan persen efektivitas penurunan kadar kolesterol total 123,2 persen, LDL 132,9 persen dan peningkatan kadar HDL 140,6 persen. Ekstrak etanol buah buncis dosis III (378mg/200 g BB tikus) mempunyai aktivitas menurunkan kadar TG dengan persentase sebesar 67,97 persen. Penetapan kadar kolesterol total, HDL, dan LDL dilakukan dengan metode CHOD-PAP (Cholesterol Oxidase Para Aminophenazone). Penetapan kadar trigliserida dengan metode Enzymatic Colorimetric Test dengan Glycerol -3- Phosphate Oxidase.

Erlita Budianto, dalam skripsinya pada Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, menguji penurunan kadar glukosa darah perasan buah buncis pada kelinci jantan yang dibebani glukosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perasan buah buncis mampu menurunkan kadar glukosa darah pada kelinci jantan yang dibebani glukosa yakni pada dosis 4,08,8,16 dan 16,33 g/kgBB dengan kadar berturut-turut: 43,15 persen, 43,78 persen dan 47,08 persen.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home