Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Prasasta Widiadi 06:09 WIB | Rabu, 11 Januari 2017

Cegah Bentrok di Jakarta, Anies akan Intensifkan Dialog

Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut tiga, Anies Rasyid Baswedan (paling kanan, baju putih) di acara “Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) dan Cagub DKI”, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, hari Selasa (10/1). (Foto: Prasasta Widiadi)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut tiga, Anies Rasyid Baswedan mengemukakan bila dia dan rekannya, Sandiaga Salahuddin Uno terpilih menjadi kepala daerah DKI Jakarta maka dia akan mengintensifkan pertemuan antarpemimpin masyarakat, etnis, dan golongan sebagai salah satu sarana memelihara kerukunan masyarakat DKI Jakarta.

“Kalau saya jadi gubernur saya akan panggil dan menggelar pertemuan lintas golongan, lintas kelompok secara rutin untuk membangun dialog sehingga di kota ini muncul interaksi karena interaksi akan menghantarkan kepada mutual understanding,” kata Anies di acara “Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) dan Cagub DKI”, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, hari Selasa (10/1).

Dialog tersebut, menurut Anies, sangat penting karena konflik antarkelompok atau organisasi kemasyarakatan (ormas) di Jakarta terjadi karena tidak ada interaksi.

Dia mengemukakan menjadi gubernur di provinsi seperti DKI Jakarta tidak dapat hanya seperti manajer sebuah perumahan atau real estate yang hanya memperhatikan infrastruktur, namun tidak mengurusi interaksi warga.

Dia mengatakan tidak akan menghalang-halangi bila di Jakarta muncul banyak kelompok atau organisasi kemasyarakatan yang memiliki paham berbeda. “Jadi, yang perlu ditekankan adalah pemikiran setiap orang atau sekelompok individu tidak bisa diatur, namun di sisi lain kita juga akan mengedepankan law enforcement (penegakan hukum), karena begitu melanggar jangan pernah didiamkan pelanggaran itu,” kata dia.  

Dia sangat menyayangkan bila Jakarta terus-menerus menjadi kota yang tidak hidup interaksinya karena, menurut dia, Jakarta adalah kota yang memiliki banyak catatan sejarah.

“Kalau pendahulu kita membangun negeri ini dengan semangat kebhinnekaan masa kita tidak berani memeprtahankan kebhinnekaan, dan itu mensyarakatkan interaksi dengan semua pihak,” kata dia.

 

Back to Home