Loading...
BUDAYA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 09:52 WIB | Sabtu, 21 Desember 2013

Dialog Maneges Gunung: Perkenalkan Kebudayaan dari Lima Desa Kaki Gunung

Dari kiri: Ipang, Sujono, Riyadi, Bre Redana, Sutanto Mendut, Adi Wicaksono, Sitras Anjilin, Supadi Haryanto

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dalam acara Dialog “Maneges Gunung” yang diadakan di Bentara Budaya Jakarta, Bre Redana selaku moderator, memperkenalkan kesenian dan kebudayaan yang berasal dari lima gunung, Rabu (19/12).

Ia berkata bahwa, “Komunitas Lima Gunung ini terdiri dari berbagai macam kesenian, seperti wayang orang, tarian, dagelan, soreng dan masih banyak lagi. Yang menarik dari Komunitas Lima Gunung ini adalah mereka sudah melepaskan diri dari lingkup kesenian masing-masing,”

“Kalau orang masih berkutat dengan keseniannya, dia belum mampu menjadikan kesenian itu bagian dari kehidupan.”

Menurut Bre Redana, lakon atau pemeran utama dalam kehidupan KLG ini bukanlah keseniannya, namun, kebudayaannya. Ketika lakonnya bukan lagi kesenian, melainkan kebudayaan maka lakonnya menjadi hidup dan hidup menjadi berseni.

Bre Redana lalu memperkenalkan ketua masing-masing dari KLG yaitu Sitras Anjilin dari kawasan Gunung Merapi, Supadi Haryanto dari kawasan Gunung Andong, Ipang dari Gunung Sumbing, Sujono dan Riyadi dari Merbabu, Adi Wicaksono seorang sastrawan yang juga tergabung dalam KLG dan Sutanto Mendut dari kawasan pegunungan Menoreh yang merangkap sebagai Presiden Lima Gunung.

Sitras Anjilin, Kebudayaan Pegunungan Merapi

Sitras Anjilin adalah seorang anak petani di sebuah desa Tutuk Ngisor yang melahirkan sebuah kesenian. Ayahnya membuat suatu padepokan seni yaitu Seni Tirta Budaya yang dibangun pada tahun 1937. Ayahnya mengajarkan tari beladiri dan moco papan. Hingga saat ini yang masih terjaga kelestariannya adalah seni wayang orang.

Desa Tutuk Ngisor adalah desa yang sangat terpelosok hingga tidak banyak orang yang singgah ke desa tersebut. Atas dasar itulah ayahnya membuat Padepokan Seni Tirta Budaya itu untuk berkumpul sehingga banyak orang yang datang untuk melakukan kegiatan kesenian.

Sampai sekarang, keluarga Sitras Anjilin secara turun temurun masih menjaga kebudayaan tersebut. Biasanya mereka melakukan pertunjukan empat kali dalam satu tahun seperti di Bulan Suro, Maulid Nabi, Iedul Fitri, dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Selain padepokan tersebut dibangun karena dijadikan untuk tempat berkumpul, rupanya Ayah Sitras Anjilin tersebut membangunnya karena adanya faktor lingkungan yaitu berupa air yang melimpah di daerah tersebut.

Supadi Haryanto dari Gunung Andong

Supadi Haryanto adalah salah satu warga dari sebelah tenggara Gunung Andong. Berangkat dari apa yang sudah dilakukan oleh para sesepuh terdahulu yaitu dengan mengadakan tradisi Saparan yang diadakan setiap satu tahun sekali untuk acara Sonten Dusun.

Untuk memeriahkan acara tersebut maka mereka membuat sebuah pentas kesenian yang akhirnya menjadi tradisi tahunan. Untuk membentuk suatu organisasi yang mewadahi kesenian tersebut memerlukan waktu. Maka pada tahun 1993, Supadi membuat suatu kesenian Kuda Lumping.

Akhirnya sampai suatu saat, kesenian dari Gunung Andong ini masuk dalam KLG. Tahun 1992, Festival Lima Gunung diadakan di Dusun Larangan dan Gunung Andong termasuk ikut didalamnya untuk memeriahkan acara tersebut. Dalam acara itu, banyak donatur yang memberikan dukungan.

Namun, dalam perkembangannya, pada tahun 2006, Sutanto Mendut selaku Presiden Lima Gunung memutuskan untuk tidak mencari sponsor atau dana untuk diselenggarakannya Festival Lima Gunung itu. Tentu, itu merupakan sebuah tantangan bagi mereka untuk bisa mandiri perihal dana. Dana untuk Festival Lima Gunung akan menjadi sebuah tanggung jawab dari kongres atau pihak tertentu yang akan menggelar acara itu.

Ia juga menyatakan bahwa mereka tidak pernah memberikan tarif tertentu kepada penyelenggara. Namun, jika pihak penyelenggara memberikan penghargaan berupa uang tentu pihaknya tidak akan menolak.

Ipang dari Gunung Sumbing

Ipang adalah ketua dari KLG kawasan Gunung Sumbing. Dusunnya terletak di daerah kabupaten Bandungan.

Sejak 2010, Ipang dan komunitasnya baru bergabung dengan KLG.

Ipang adalah seorang pelukis yang memiliki karya yang luar biasa. Walaupun ketika berkumpul dengan anggota KLG lainnya ia sering diolok-olok, namun ia mengaku bahwa itu sebagai bagian dari keakraban anggota KLG.

Sujono dari Gunung Merbabu

Tahun 1991, Sujono mulai membentuk  kesenian dan kenal dengan Sutanto Mendut. Ia mulai bergabung dengan KLG pada tahun 2005. Pada waktu itu ia sudah mempunyai kelompok kesenian dan cukup sulit untuk bergabung dengan KLG. Namun pada akhirnya ia menciptakan sebuah tarian Saujana yang berarti sejauh mata memandang.

Dalam perkembangannya, Sujono tidak hanya menciptakan tarian saja tapi juga wayang, seni lukis dan seni patung. Menurutnya, seni tari juga meliputi kejiwaan atau kemanusiaan.

Sujono menceritakan bahwa pada erupsi Gunung Merapi pada 2010 lalu, ia menghibur para pengungsi yang mengungsi di kampung mereka dengan kesenian.

Riyadi, Budayawan Mantan Lurah

Ia berasal dari dusun Gejayan dan memiliki Padepokan Marga Budaya.

Tahun 2000 ia dipercaya menjadi ketua dari Gunung Merbabu dan mulai kenal dengan Sutanto Mendut. Pada perkembangannya, ia mulai mengikuti Festival Lima Gunung yang ketiga. Walaupun ia bukan seorang seniman, namun ia semakin semangat untuk menyelenggarakan acara kesenian tersebut.  Menurutnya, kesenian adalah sebuah nilai yang dapat mengkritisi kehidupan, politik dan aspek-aspek dalam kehidupan lainnya.

Menutup dialog “Maneges Gunung”, Hariadi Saptono mengungkapkan bahwa dengan adanya diskusi pada hari itu, dapat dibuat menjadi sebuah rumusan terhadap kebuadayaan yang berkembang seperti sekarang ini agar lebih terarah. 

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home