Loading...
ANALISIS
Penulis: Amos Simanungkalit 00:00 WIB | Jumat, 18 Maret 2016

Domine: Mengenang Johannes Leimena

Jakarta, Satuharapan.com - Saya tidak pernah dekat dengannya bahakan mengenalnya secara personal. Waktu itu, dia sudah punya nama besar. Dia dokter, diplomat handal yang sesekali gagal, menteri terlama sepanjang sejarah republik, pendiri organisasi kemahasiswaan, tokoh gereja, dan intelektual di masanya. Saya berusaha menyimak pikiran-pikiran, pidato-pidato, dan cara hidupnya. Dan, terus terang, saya gagal paham. Namun, agar kelihatan pintar, saya pura-pura mengerti. Menteri Dalam Negeri ketika itu, Mohamad Roem menyebutnya itu adalah seseorang yang berprofesi sebagai dokter dengan fungsi diplomat milter yang bertampang domine (pendeta).

Saya banyak mendengar namanya ketika saya masuk sebuah organisasi mahasiswa yang dibidani beliau bersama rekannya di Kongres Pemuda 1928, Amir Sjariffudin Harahap, perdana menteri republik ini di awal kemerdekaan. Keduanya banyak terlibat dalam diskusi-diskusi pra kemerdekaan dengan mendorong umat Kristen agar aktif dalam memperjuangan kemerdekaan Indonesia di organisasi Christelijke Studenten Vereeniging (CSV) pada 1926 yang menjadi cikal bakal dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang merupakan tempat bertemunya para mahasiswa Kristen saat itu. Ia lebih beruntung daripada Amir, yang harus menerima nasibnya dieksekusi pada 18 Desember 1948 dengan tuduhan makar yang tak pernah diungkap di pengadilan manapun.

Ia adalah dr. Johannes Leimena. Ia adalah anak seorang guru di Ambon yang karena peliknya kehidupan mendapat kesempatan mengecap pendidikan bermutu kala itu. Ia menjadi dokter setelah menamatkan pendidikan dokternya di "STOVIA". Stovia (School Tot Opleding Van Indische Arsten) menampung pemuda-pemuda dari berbagai suku bangsa. Di sinilah Leimena mendirikan Jong Ambon yang membawanya terlibat dalam peristiwa peristiwa Sumpah Pemuda 1928.

 

Leimena (berdiri, tengah) menyaksikan penandatanganan dokumen kerjasama Indonesia-Polandia oleh Presiden Soekarno dengan Presiden Alexander Zawadski tanggal 11 Oktober 1961. [Foto: Leimena Institute]

 

Sesungguhnya jalan hidup sebagai dokter sama sekali tidak direncanakannya semula. Niatnya itu muncul dengan tiba-tiba ketika semua jalan lain sudah tertutup. Ia pernah mendaftarkan diri pada kursus “In en Uitvoerrechten” (Bea-Cukai), kursus "Posterij" (Dinas Pos), Dinas Kereta Api, dan "Rechtschool" (Sekolah Hakim) di Jakarta. Semua menolaknya dengan berbagai alasan. Usai ditolak di Sekolah Hakim, tiba-tiba timbul dalam pikirannya untuk mencoba nasibnya di Stovia (Sekolah Dokter) yang letaknya tidak jauh dari "Rechtschol". Ternyata ilham yang muncul tiba-tiba inilah yang terkabul. Menurut Leimena sendiri hal ini biasanya disebut "kebetulan-kebetulan". Tetapi bagi dirinya pribadi ini semua adalah rencana Allah (Providentia Dei).

Pada usia 25 tahun ia menyelesaikan kuliahnya di Stovia dan langsung mengabdi sebagai dokter di RSCM (dulu CBZ) Jakarta. Pernah pula ia menjadi dokter di RS Immanuel Bandung. Ketika ia menjadi dokter di RS Bayu Asih Purwakarta, ia ditangkap oleh tentara Jepang. Setelah dibebaskan, ia ditempatkan di RS Tangerang. Kemudian hari ia pernah menjadi direktur RS PGI Tjikini Jakarta. Ketika republik baru berusia baru beberapa bulan ia diajak oleh Amir Sjarifuddin yang saat itu menjadi menteri penerangan di awal republik untuk bergabung ke kabinet Sjahrir II. Sejak itu jalan hidup Leimena adalah dunia politik. Ia tercatat menjadi menteri selama 21 tahun tanpa terputus. Rekor terlama menjabat menteri yang pernah diempunya oleh Leimena seorang.

Presiden Sukarno bahkan pernah mendelegasikan wewenang jabatannya sebagai kepala negara, maka orang yang dipilihnya adalah Leimena. Bung Karno menyebut Leimena sebagai mijn dominee, yaitu “pendeta saya”. Leimena menjadi hati nurani bagi Bung Karno. Roem yang sering bekerjasama dengan Leimena pasca perundingan Belanda menyatakan, bahwa karena integritasnya, kejujurannya dan dedikasinya terhadap tanah air menaruh kepercayaan kepadanya, yang tidak dikurangi oleh perbedaan agama. Malah dia berpendapat, karena agama yang ia taati memberi kepribadian terhadapnya.

Roem mengatakan Leimena meninggalkan teladan yang baik bagi anak cucu serta generasi penerus. Kepribadian langka seperti Leimena harus dimiliki oleh setiap anak muda. Hal yang tak mudah dan belum memiliki rumusnya. Hampir semua orang merasa berbahagia mengenal Leimena. Termasuk saya yang kendati tak pernah bertemu secara fisik, namun dapat mengilhami pikiran dan gagasan kebangsaannya salah satu melalui goresan tangannya yang berjudul "Kewarganegaraan yang Bertanggungjawab" (1955). Dia menjelaskan secara apik bagaimana seorang kristen harus menjadi manusia Indonesia seratus persen dan menjadi pengikut Kristus seratus persen. Pikiran yang hampir sama dengan apa yang disampaikan oleh Amir Sjarifuddin pada tulisannya "Menuju Jemaat Asli Indonesia". Suatu teologi kontekstual dan merupakan ciri khas pemikiran Amir yang menunjukkan kesetiannya pada perlawanan terhadap penjajahan. Pada berbagai kesempatan Amir menyatakan, "seorang Kristen yang baik dapatlah juga sekaligus menjadi seorang nasionalis yang baik", hal ini suatu petunjuk tentang sintesa keagamaan dan kebangsaan Amir yang utuh. Ini adalah sebuah gagasan besar yang dapat digunakan untuk menghempan paham radikalisme yang tengah marak hari ini.

Pada 6 Maret lalu, Leimena atau yang akrab disapa Oom Yo genap 111 tahun peringatan hari kelahirannya. Seorang senior saya di kampus dan organisasi mahasiswa mengirimkan foto monumen pahlawan nasional dr. Johannes Leimena, yang dibangun tepat di sebelah Universitas Pattimura, Ambon di timeline facebook-nya. Monumen yang dibangun dengan maksud dapat menginspirasi para mahasiswa di Indonesia terkhusus Maluku untuk meniru jejak langkah, pemikiran, dan semangat beliau ingin membangun bangsa. Saya beruntung mengenal sosok hidupnya memalui sebuah organisasi mahasiswa yang dia bidani kelahirannya.

Merdeka!!!

 

Penulis adalah Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP-GMKI) dan Peneliti Centre for People Studies and Advocation (CePSA)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home