Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 01:54 WIB | Selasa, 24 Juli 2018

FKY 30|2018: Mesemeleh Menopengi Wajah Yogyakarta

FKY 30|2018: Mesemeleh Menopengi Wajah Yogyakarta
FKY 30|2018 dengan tema "Mesemeleh" dibuka dengan pawai topeng di sepanjang rute jalan Abu Bakar Ali- Malioboro - Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Senin (23/7) sore. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
FKY 30|2018: Mesemeleh Menopengi Wajah Yogyakarta
Penampilan karawitan Melody Jawi.
FKY 30|2018: Mesemeleh Menopengi Wajah Yogyakarta
Peserta pawai topeng: Sanggar Tari Dharma Rini.
FKY 30|2018: Mesemeleh Menopengi Wajah Yogyakarta
Artha dance company menampilkan Orang-orang Sawah (people paddy).
FKY 30|2018: Mesemeleh Menopengi Wajah Yogyakarta
Rampag Buto dari D'Wirobrojo.
FKY 30|2018: Mesemeleh Menopengi Wajah Yogyakarta
Anonymus: intel insight.
FKY 30|2018: Mesemeleh Menopengi Wajah Yogyakarta
Kontingen Kalimantan Tengah dengan topeng Sababuka
FKY 30|2018: Mesemeleh Menopengi Wajah Yogyakarta
Penampilan kelompok musik Obah Mamah dari Gunungkidul pada pembukaan Panggung Pasar Seni FKY 30 di Planet Pyramid, Senin (23/7) malam.
FKY 30|2018: Mesemeleh Menopengi Wajah Yogyakarta
Pasar Seni FKY 30: Amron woodcraft.
FKY 30|2018: Mesemeleh Menopengi Wajah Yogyakarta
Pasar Seni FKY 30: Janedan leather bag.
FKY 30|2018: Mesemeleh Menopengi Wajah Yogyakarta
Pasar Seni FKY 30: official merchandise.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Mengawali pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 30|2018 yang mengangkat tema "Mesemeleh", 29 kontingen pelaku seni-budaya melakukan pawai topeng sepanjang rute jalan Abu Bakar Ali- Malioboro - Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Pelaku seni-budaya yang mengikuti pawai pada Senin (23/7) siang tersebut diantaranya marchingband Projotamansari-Bantul, Sanggar Dharma Rini, Sanggar Anak Saraswati, Sanggar Tari Anak Tembi, Omah Joget Sedayu, Artha Dance, Hastatama, D’Wirobrojo, Blegor Merapi, Srikandi Art Dance, Cipto Wiloho, Pelangi Entertainment.

Kemudian LKP Natya Laksita Didik Nini Thowok, Sanggar RnB, perwakilan kabupaten-kota DI Yogyakarta, serta kontingen kesenian dari Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, komunitas NTT Waikabubak, dan dari komunitas Papua, melakukan pawai topeng sepanjang rute jalan Abu Bakar Ali- Malioboro - Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Tema FKY 30 adalah Mesemeleh, diambil dari dua kata yaitu Mesem yang berarti tersenyum, dan Semeleh yang bermakna ikhlas atau narima (menerima). Mesem sebagai presentasi kedewasaan FKY untuk tetap menyajikan festival yang menarik, menghibur dan saling membelajari, sekaligus relevan dengan perkembangan zaman, baik dalam karya hingga penyajiannya. Sementara Semeleh menjadi presentasi festival seni yang memberikan ruang kepada semua pihak yang berpartisipasi di dalamnya, baik itu kreator, panitia, masyarakat, hingga pemerintah.

Ketua Umum FKY 30 Roby Setiawan menjelaskan festival kali ini melibatkan pelaku seni dalam dan luar negeri yang melahirkan ratusan seni kreatif.

“Di tahun 2018 ini adalah tahun yang baik bagi kami untuk belajar tentang perubahan dan menyempurnakan apa yang sudah ada. Dengan Mesemeleh, semoga banyak hal baik terjadi,” jelas Roby.

Sementara itu masih dalam rangkaian acara pembukaan FKY 30|2018, mulai siang hingga sore hari panggung di depan gerbang Kepatihan, Jalan Malioboro dimeriahkan dengan pertunjukkan tari Sekar Pudyastuti dari Ayudyah art dance diiringi pengrawit Melody Jawi pimpinan Pratiwi Wibowo. Dilanjutkan penampilan grup band experimental Senyawa beranggotakan Rully Sabhara (vocal) dan Wukir Suryadi yang memainkan alat musik bambu wukir.

FKY 30|2018 secara resmi dibuka oleh Sekretaris Daerah DIY Gatot Saptadi, Senin (23/7) sore dengan memukul bonang diikuti oleh tamu undangan yang membunyikan kenthongan bersama-sama.

"Semakin banyak ragam seni budaya yang ditampilkan maka diharapkan akah menambah serta memperkuat posisi DIY sebagai pusat seni dan budaya Indonesia, dengan budaya lokal yang diberi ruh baru serta spirit kemajuan," jelas Gatot Saptadi dalam sambutannya.

Pada malam harinya di Planet Pyramid Jl. Parangtritis Km 5,5, Sewon-Bantul dilanjutkan Pembukaan Pasar Seni FKY 30|2018. Sebuah panggung yang dibangun di atas kolam ikan di Planet Pyramid menampilkan Paguyuban Seni Tari Beksa Wiraga Satria, Obah Mamah, Orkes Pensil Alis, Sido Rukun Gunungkidul (SRGK). Selain itu digelar pula Panggung Jalanan, yang dimeriahkan Risky Bandar, Manusia Patung, dan Doa Ibu.

Yogyakarta dalam Seribu Satu Topeng

Pertunjukan dengan mengenakan topeng adalah seni pertunjukan tertua di dunia. Hampir setiap bangsa memiliki benda seni penutup wajah dalam berbagai wujud dan watak. Hingga saat ini topeng masih menjadi bagian tradisi atau ekspresi estetik masyarakat. Pada masyarakat yang masih mempercayai animisme dan dinamisme, topeng bukan sekedar penutup wajah, namun dianggap memiliki kekuatan magis. Pada masyarakat modern, selain sebagai benda seni topeng sekaligus dikembangkan sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan teater ataupun tari/koreografi.

Masyarakat Indonesia memiliki beragam seni tari dan teater yang dalam penampilannya mengenakan topeng. Masyarakat suku Dayak di Kalimantan mewarisi topeng Hudoq yang biasanya hadir sebagai seni sakral dalam ritual keagamaan mohon kesuburan atau syukuran atas panen yang melimpah.

Dalam pawai topeng FKY 30|2018, kontingen Kalimantan Tengah mementaskan tari topeng dari suku Dayak Ngaju dalam sebuah ritual mengantar arwah sanak-saudara yang dikenal dengan ritual Tiwah.

Masyarakat desa Trunyan di tepi Danau Batur, Bangli, sampai saat ini masih mengeramatkan pantomime bertopeng yang disebut Barong Berutuk. Teater menggunakan topeng berwajah primitif yang terbuat dari batok kelapa ini merupakan ritual mohon kesuburan.

Selain tari topeng untuk mohon kesuburan, topeng di tengah masyarakat Nusantara umumnya dipakai sebagai perantara berhubungan dengan arwah nenek moyang seperti masih terlihat jejak-jejaknya kini pada suku Batak (Sumatera Utara), masyarakat Tolage-Alfur (Sulawesi Tengah), dan suku-suku di pedalaman Papua.

Dalam sebuah tulisan, pengajar pada jurusan Seni Karawitan ISI Denpasar  Kadek Suartaya menjelaskan bahwa masyarakat Jawa dan Bali kaya dengan ekspresi seni tari dan teater yang menggunakan topeng. Di Pulau Jawa, Sunda-Parahyangan memiliki seni tari dan teater bertopeng yang sangat khas. Masyarakat Sunda di Cirebon dikenal sebagai pewaris seni pertunjukan topeng yang tetap eksis hingga kini.

Topeng Cirebon adalah mata air pertumbuhan dari tari-tarian Sunda yang kita kenal sekarang. Di Cirebon dan sekitarnya, tari topeng masih dapat disimak dalam upacara syukuran yang berkaitan dengan budaya pertanian dan perayaaan kebahagiaan perkawinan.

Topeng Cirebon berorientasi dari cerita Panji, kisah kepahlawan raja-raja Jawa yang banyak dijadikan tema dalam seni pertunjukan tradisi, bukan hanya di Jawa dan Bali tapi juga di beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand. Di Negeri Gajah Putih, tokoh protagonis cerita Panji yaitu Inu Kertapati disebut dengan Inao. Di Bali, cerita Panji menjadi tema utama dari drama tari Gambuh, teater klasik sumber tari Bali. Opera Arja yang kini kian sayup tembangnya juga mengacu pada cerita Panji.

Ada banyak kisah di balik topeng kehidupan: drama suka, duka, gembira, derita. Cara terbaik menyikapinya adalah memberikan senyum dan ikhlas menerima seluruh drama kehidupan dengan saling mendengar, saling berbicara, saling membuka diri dari topeng-topeng kepalsuan.

Menarik ketika FKY 30|2018 diawali dengan pawai topeng di sepanjang Jalan Malioboro yang dalam dua tahun terakhir tidak selesai-selesai membenahi ruang publiknya. Ketika Yogyakarta sibuk bersolek mempercantik wilayahnya, pada saat bersamaan Yogyakarta pun sudah seharusnya berbenah atas pemasalahan sosial-lingkungan yang terjadi agar urip-nya menjadi lebih urup dalam memberikan senyum bagi masyarakatnya. Menopengi Yogyakarta tidak sekedar berhenti pada capaian-capaian secara artistik visual rupa wilayah-kota, namun juga memberikan nilai estetik bagi kesejahteraan sosial agar menjadi benar-benar istimewa bagi warganya. Dan tidak sekedar menopengi realitas yang kadang jauh dari hingar-bingar kegiatan bersolek itu sendiri.

Mesemeleh, rasanya tidak berlebihan untuk mewujudkan Yogyakarta yang Istimewa memerlukan senyum dan keikhlasan dimana semua pihak secara sadar membuka diri dalam ruang dialog berbagai arah dalam peran topeng apapun yang digunakan. Dan bukan justru berlindung di baliknya.

 

Back to Home