Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Gomar Gultom 11:03 WIB | Jumat, 10 Februari 2017

Gunarti, Keadilan Ekologis dan Bebas dari Sekolah

Sebuah Cuplikan dari tengah-tengah Sidang MPL-PGI.
Gomar Gultom, sekretaris umum PGI. Foto: Dedy Istanto

SATUHARAPAN.COM - "Kita adalah pewaris-pewaris kebhinekaan" adalah kalimat pembuka dari Gunarti, mengawali Ibadah Malam di hari kedua persidangan MPL-PGI 2017, yang berlangsung 27-31 Januari 2017 di Salatiga. Ya, betapa tidak, Gunarti dan rombongan anak-anak dari Sukolilo, Pati, yang bukan pemeluk Kristen itu bisa mengawali Ibadah Malam yang diikuti oleh para pemimpin gereja.

Perempuan desa yang sangat sederhana ini hadir menggetarkan relung-relung hati para penggerak HAM, ketika tampil dari "Sedulur Sikep" menolak hadirnya pabrik semen di desa mereka tercinta.

Sedulur Sikep tidak anti pembangunan. Mereka hanya tak rela kalau kehadiran pabrik semen dari Grup Indocement tersebut akan merusak tanah dan air yang pada gilirannya akan menggerus kehidupan mereka sebagai petani.

Malam itu Gunarti dan anak-anak dari desanya tampil berpakaian serba hitam, ciri khas komunitas Samin yang juga dikenal sebagai Sedulur Sikep. Gunarti dan komunitasnya bersatu padu berjuang menolak kehadiran perusahaan yang memiliki kekuatan raksasa itu.

Tak kuasa menghadapi kekuatan nyata tersebut, mereka menggugat ke pengadilan. Perjalanan gugatan sejak 2009 itu, akhirnya mereka dimenangkan oleh Mahkamah Agung.

Kalah di Pengadilan, Indocement beralih ke kabupaten tetangga: Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang. Perjuangan Gunarti dan Komunitas Samin menular juga ke masyarakat Gunem, dan mereka bersama-sama menolak kehadiran pabrik semen, yang mengancam kehidupan petani di Jawa. Tak berlebihan kalau Kompas menjuluki Gunarti sebagai "Pijar Api dari Pati".

Keadilan agraris (yang terkesan sangat antroposentris?) yang menjadi Pikiran Pokok Sidang MPL-PGI 2017 adalah bagian dari perjuangan yang lebih luas: keadilan ekologis. Eksploitasi tanah, air dan udara harus dibebaskan dari perlakuan kita yang kini sudah melampaui batas-batas ketika bumi ini tercipta. Demikian pun domestifikasi hewan dan tanaman oleh manusia telah membawa bumi dan segala isinya pada ancaman kiamat ekologis. Olehnya perjuangan Gunarti dan para Sedulur Sikep ini adalah juga bagian dari pekabaran Injil, sebagaimana mestinya para pemimpin gereja yang ikut ibadah tersebut menjalankan mandat Injili: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala MAKHLUK" (Mark 16:15).

"Bumi ini adalah ibu kita, Ibu Bumi, dan olehnya harus kita perlakukan dengan hormat", lanjut Gunarti. Saya kira dia tidak berlebihan, dan tak juga sekadar pernyataan bombastis, sebagaimana acap orang sekadar melafaskan Ibu Pertiwi, tapi perilakunya sangat melecehkan isi bumi: menguras perut bumi demi perut sendiri. Bukankah manusia berasal dari tanah, hidup dari tanah dan akan kembali juga jadi tanah?

Mengapakah Gunarto dan Komunitas Samin yang tak pernah membaca Kitab Injil, yang tak pernah tahu tentang Markus 16:15, begitu gigih menyelamatkan tanah, air dan udara di Pati? Ini menjadi pertanyaan reflektif saya pada Ibadah Malam itu.
 
Dan mengapakah Gunarti dan rombongan anak-anak yang dia bawa malam itu begitu lebih sadar hukum (hukum positif dan hukum alam), padahal mereka tak pernah menduduki bangku sekolah, bahkan Sekolah Dasar?

Ah, Ibadah malam ini sempat begitu mengusik nalar saya.

Lalu, sebelum anak-anak itu mendendangkan kidung-kidung pentatonik secara unisono, Gunarti menghenyakkan saya ketika berujar: "Saya dan anak-anak ini menolak masuk sekolah! Buat apa? Kami tidak ingin jadi pegawai. Lha, kalau semuanya jadi pegawai, siapa yang jadi petani? Siapa yang akan merawat tanah, air dan udara?"

Saya menatap wajah para peserta ibadah, dan tak mampu menerjemahkan reaksi mereka atas ujaran tersebut dari apa yang saya lihat.

"Kami belajar dari kehidupan. Kehidupan inilah sekolah kami!", lanjut Gunarti dengan suara yang mendayu-dayu.

Saya jadi teringat Ivan Illich, seorang pemikir pendidikan dari Amerika Latin. Tak seperti Paulo Freire, yang sama-sama dari Amerika Latin, yang populer dan gagasannya banyak diikuti dalam dunia pendidikan, Ivan Illich nyaris tak ada pengikut.

Ivan Illich (1926-2002) sangat curiga dengan institusi pendidikan. Menurut Illich, Sekolah telah membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial. Institusi pendidikan tersebut diskriminatif dan menjadikan manusia tak lagi egaliter. Dan dalam era modern sekarang, sekolah telah begitu mekanistik yang memiskinkan kemanusiaan.

Sekolah telah menciptakan logika baru, demikian Illich, bahwa proses pembelajaran dianggap sebagai hasil PBM yang diadakan oleh sekolah. Semakin tinggi sekolah maka akan dianggap semakin berhasil dalam kehidupan.

Gunarti dan Komunitas Samin menunjukkan sebaliknya. Tanpa masuk sekolah, proses pembelajaran berlangsung lewat dan dalam kehidupan. Dan mereka berhasil luar biasa, pun dalam dunia peradilan.

Jangan-jangan gereja juga telah menjadi institusi injili yang telah mengkorupsi Injil itu sendiri, karena proses-proses diskriminatif dan mekanisasi. Sehingga bukan tak mungkin, Gunarti dan Komunitas Samin lebih injili dari saya, yang adalah pendeta.

Pdt Gomar Gultom MTh adalah sekretaris umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.

Back to Home