Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Cordelia Gunawan 19:59 WIB | Rabu, 11 Juli 2018

Kalah Berkelas

Cordelia Gunawan.

SATUHARAPAN.COM - Dalam pertandingan sepak bola Piala Dunia 3 Juli 2018 di Rusia, Tim Nasional Jepang kalah oleh Tim Nasional Belgia. Mereka tidak berhasil masuk ke babak berikut dan berjuang merebut gelar juara Piala Dunia. Namun, ternyata mereka mampu merebut hati jutaan orang di berbagai belahan dunia.

Apa yang membuat kesebelasan ini berbeda dengan kesebelasan lainnya? Sudah banyak tim kesebelasan yang pulang ke negara asalnya, namun hanya Tim Nasional Jepang yang pulang dengan ucapan terima kasih yang unik.

Tim Nasional Jepang kalah, namun mereka kalah dengan elegan. Mereka menunjukkan  sportivitas yang sangat menyejukkan. Seusai pertandingan mereka masuk ke ruang ganti dan meninggalkan ruang ganti mereka dalam keadaan sangat bersih, bahkan meninggalkan kertas bertuliskan terima kasih dalam bahasa Rusia dan origami berbentuk burung bangau (Orizuru) yang melambangkan pesan perdamaian.

Para suporter tim Jepang juga menunjukkan kebesaran hati. Mereka pulang setelah selesai membersihkan semua sampah di arena Rostov-on-Donsoccer.

Pasti mereka sedih karena tim yang mereka unggulkan itu harus pulang kampung, namun mereka tidak mengumbar kesedihan itu dengan kekerasan. Mereka membungkus kekecewaan dan kesedihan dalam sebuah sikap sportif yang berkelas. 

Belajar Banyak Bersifat Sportif

Salah satu wujud dari sportivitas adalah belajar menerima bahwa jika ada kemenangan pasti ada kekalahan. Jika ada satu tim yang menjadi juara, pasti ada tim lain yang tidak menjadi juara.

Namun toh, seharusnya sebuah pertandingan tidak hanya dilihat dari sisi menang kalah. Seharusnya aspek kehidupan juga tidak hanya dilihat dari siapa pemenang dan yang lain adalah pencundang. Jepang boleh kalah, namun sikap yang ditunjukkan oleh Jepang adalah sikap yang luar biasa.

Sikap sportif, dapat menerima kekalahan tidak diraih dalam waktu sehari atau dua hari. Sikap sportif ini adalah sebuah sikap yang harus dilatih dan harus menjadi sebuah kebiasaan.

Bangsa kita masih harus belajar banyak untuk bersikap sportif. Rasanya masih sulit kita menerima kekalahan dan kita cenderung menolak kekalahan, bahkan melampiaskan dalam tindakan yang merugikan banyak pihak.

Tahun 2019 adalah tahun Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden Serentak, akankah pemimpin-pemimpin bangsa kita menunjukkan sikap yang juga elegan, menerima kekalahan dengan baik? Ataukah pemimpin-pemimpin bangsa kita belum mampu menerima kekalahan?

Apakah sikap sportif juga dimiliki oleh anak bangsa di negeri ini, sehingga mau dan mampu menerima dengan legowo jika ternyata jagoan yang diunggulkan tidak terpilih? Semoga saja bangsa kita tidak hanya demam Piala Dunia, namun mampu belajar meniru hal-hal baik dari Piala Dunia.

Semoga saja…

Editor : Sotyati

Back to Home