Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Addi S. Patriabara 07:32 WIB | Kamis, 21 Juni 2018

Mudik: Membangun Rumah Bersama

Kampung menjadi rumah bersama yang memberi kesegaran buat semua.

SATUHARAPAN.COM – Jutaan orang berjibaku, berjuang melawan kepadatan. Di stasiun kereta api, terminal bis, bandara, jalan raya, dan sebagainya. Keringat yang bercucur deras tak dihiraukan. Koper dan barang berat lain serasa ringan dipikul. Kaki sekalipun terasa kelu menginjak pedal, terus dipacu menembus kepadatan. Itulah gambaran ringkas padat tentang mudik. Setiap, tanpa pernah kapok, orang berjuang untuk mudik, pulang ke kampung halaman.

Sekalipun mudik dekat dengan tradisi lebaran, pada hakikatnya banyak orang yang tidak beragama Islam juga melakukan mudik. Boleh dikatakan mudik adalah tradisi yang dijalani oleh banyak penduduk Indonesia. Mudik utamanya untuk melakukan silaturahmi, berkumpul dan bermaaf-maafan dengan sanak keluarga.

Mudik juga menjadi simbol kerinduan pada suasana keluarga. Kehidupan keseharian yang keras dan individualis, menghasilkan kedahagaan pada suasana kekeluargaan yang guyub dan menggembirakan. Mudik menjadi pembangun semangat kembali. Semacam recharge. Melalui mudik orang menemukan rumah (home). Dalam suasana rumah para pemudik mendapat kesegaran untuk kembali menjalani kehidupan yang keras dan melelahkan.

Di sini terbuktilah bahwa rumah tak melulu soal bangunan. Banyak pemudik yang memiliki rumah (house) yang besar dan mewah di kota. Namun, kesibukan dan rutinitas membuat rumah itu menjadi sekadar tempat tidur. Kesibukan yang menyita waktu membuat rumah itu terasa dingin dan beku. Manusia membutuhkan suasana rumah yang hangat dan hidup. Di sana ada cinta kasih, perhatian, keterbukaan, kegembiraan, dan sebagainya.

Sayangnya, perilaku dan gaya hidup pemudik kerap menghasilkan semangat bagi generasi muda di kampung untuk melihat kota sebagai tujuan. Kota menjadi imaji kesuksesan manusia. Tinggal dan berkarya di kampung menggambarkan manusia yang udik, ndeso, kampungan. Alhasil kampung-kampung ditinggalkan dan tetap tertinggal.

Dibutuhkan cara berpikir baru sehingga mudik tak sekadar recharge bagi orang kota, tetapi juga bagi kehidupan di kampung halangan. Cara berpikir inilah yang menguasai hati dan pikiran Nehemia ketika hendak mudik ke kampung kecilnya, Yerusalem. Nehemia adalah pekerja kota dengan jabatan yang cukup bergengsi, penyedia anggur raja (Neh. 2:1). Hatinya, seperti kaum imigran lain, rindu pulang ke kampung halaman, seperti digambarkan oleh Pemazmur: ”Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN” (Maz 84:2).

Kini, ketika hendak mudik, hati Nehemia bergumul dengan keadaan kampung halamannya yang hancur (Neh. 1:1). Keadaan yang membuat kehilangan daya untuk bekerja. Ia menangis dan tampak tak segar, seperti yang terlihat pada wajahnya (Neh. 2:1). Nehemia butuh recharge. Ia ingin mudik, namun bukan sekadar memuaskan hasrat kerinduan yang menyala-nyala.

Kepada raja ia menuturkan keinginannya mudik adalah untuk membangun kampung halamannya kembali (Neh. 2:5). Kampung halaman, yang telah membesarkannya, terasa memanggil-manggil dirinya untuk berpartisipasi membangun kehidupan yang lebih baik.

Nehemia mudik dengan semangat membangun. Ia melakukannya bersama-sama dengan para sahabat dan kerabatnya. Tentu berbagai kendala ia hadapi. Namun, ia telah mantap dengan tujuannya. Karyanya seakan bersambut. Kampungnya menggeliat oleh karya bersama. semua tampak sibuk membangun kembali kampung tercinta. Mudik tak lagi sekadar membuat aku mendapat kesegaran, namun aku dan kamu bertumbuh bersama.

Impian Nehemia yang menular menjadi impian banyak orang. Kampung menjadi rumah bersama yang memberi kesegaran buat semua. Betapa indahnya jika impian itu terwujud juga di bumi Indonesia.

 

Editor: Yoel M Indrasmoro

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com)

 

Back to Home