Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 10:07 WIB | Jumat, 26 April 2019

Kekuatan Tangan “Tiga Serdadu Tua”

Kekuatan Tangan “Tiga Serdadu Tua”
Seorang pengunjung mengamati karya berjudul “Buddha” di atas karya “Meja Bundar” yang dibuat seniman I Wayan Sukadana dalam pameran “Tiga Serdadu Tua” di Bentara Budaya Yogyakarta, Selasa (23/4) malam. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Kekuatan Tangan “Tiga Serdadu Tua”
Pencinta Burung (lukisan dalam bingkai) – 40 cm x 40 cm – tinta dan cat akrilik di atas kanvas – A Agung Suryahadi -2017.
Kekuatan Tangan “Tiga Serdadu Tua”
Karya tiga matra kaligrafi Arab – 200 cm x 45 cm – 50 cm – kayu pulai dan logam – Abdul Ghofar – 1998.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Tiga seniman-perupa yang baru saja menyelesaikan atau purna tugas di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Seni dan Budaya, Yogyakarta, menggelar pameran bersama di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran dibuka oleh Kepala P4TK M Muhadjir, Selasa (23/4) malam.

Ketiga seniman tersebut adalah A Agung Suryahadi, I Wayan Sukadana, dan Abdul Ghofar, yang mengekplorasi tradisi serta medium-material karya dalam karya dua-tiga matra. Agung Suryahadi mengambil nilai fisik dan nilai spiritualnya, yaitu nilai rasa religius dan magis.

I Wayan Sukadana mengangkat tema mitologi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Bali dengan bahan dari hasil olahan media tempurung kelapa, kayu, serta cangkang kerang. Eksplorasi Sukadana berlanjut pada penerapan hasil eksperimentasi pada tekstur karya dengan medium cat air yang dicampur dengan busa saat menggoreskan warna.

Sementara itu, Abdul Ghofar mencoba menggabungkan teknik konvensional-modern dalam menghasilkan karya tiga matranya dalam medium-material kayu dan logam.

Dalam sambutan pembukaannya, Kepala P4TK Yogyakarta menyampaikan keprihatinan belum berjalannya regenerasi tenaga ahli pengelola di P4TK Yogyakarta.

“Bangsa Indonesia sesungguhnya kaya akan hal yang tidak dimiliki bangsa lain. Pendidikan dimaknai sebagai olahpikir (wirama), olahrasa (wirasa), dan olahraga (wiraga). Seni tradisi adalah jati diri bangsa yang saat ini diperlukan perjuangan. Rasa kebangsaan saya terusik ketika ditugaskan (oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI) di P4TK yang memiliki 18 studio yang hampir semua adalah khas (seni-budaya) Indonesia, namun perlahan-lahan tenaga ahlinya tidak tergantikan oleh mereka yang seharusnya menjadi kader (penerus), salah satunya masih terkendala oleh kebutuhan daerah. Pendidikan seni dan seni pendidikan memerlukan perjuangan. Generasi muda saat ini lebih berorientasi pada hal-hal yang tidak berbasis pada tradisi-budaya kita,” Muhadjir menjelaskan.

Dalam hal regenerasi tenaga ahli yang berkecimpung di ranah seni-budaya, Muhadjir memberikan ilustrasi, bagaimana bangsa China hingga saat ini masih mempertahankannya dalam berbagai ranah terlebih pada pendidikan. Pengembangan pendidikan setingkat sekolah menengah kejuruan seni-budaya di China mendapat perhatian khusus dengan pemantauan bakat seni-budaya pada generasi mudanya dan menampung langsung pada jenjang pendidikan berikutnya.

“Anak-anak muda yang punya talenta/bakat seni budaya langsung diberi kesempatan untuk masuk ke universitas CCOM (Central Conservatory of China) dimana guru besar, seniman percaya diri, dan pemerintahnya sadar betul bahwa bangsa China dikenal oleh bangsa lain karena akar tradisi seni-budayanya. Mengapa hal tersebut tidak menginspirasi kita yang juga kaya akan tadisi seni-budaya?” lebih lanjut Muhadjir menjelaskan.

Karya Berbasis Kekuatan Tangan

Dengan latar belakang pendidik-pengajar sekaligus perupa, detail karya menjadi tawaran ketiga seniman-perupa yang mempresentasikan karya dalam pameran bertajuk “Tiga Serdadu Tua”. Agung Suryahadi dalam keseluruhan karya lukisan berbagai gaya melengkapinya dengan bingkai (frame) yang menyatu. Lukisan-bingkai Agung Suryahadi menjadi tawaran yang menarik, baik sebagai karya berdiri sendiri maupun sebagai sebuah kesatuan karya. Karya Agung bisa menjadi dua karya yang terpisah: bingkai (frame) serta lukisan yang sama-sama kuat dan saat disatukan menjadi sebuah karya keduanya tidak saling mengintervensi.

Dalam hal penyajian karya (display), perlu kehati-hatian membingkai karya lukisan. Dalam perbincangan pada sebuah pembukaan pameran, kolektor karya seni Oei Hong Djien (OHD) memberikan masukan kepada seniman-perupa untuk mulai memikirkan bingkai (frame) karya lukisannya.

“Bingkai karya itu penting, karena bisa memberikan narasi-ilustrasi tambahan yang kuat pada karya. Harus mulai diperhatikan (oleh seniman). Namun juga harus diingat bahwa, bingkai (frame) tidak boleh mengalahkan karya itu sendiri,” kata OHD di Miracle print Jumat (22/2).

Bingkai dan karya menjadi salah satu penanda seniman dan karyanya. Mendiang seniman-perupa Nyoman Gunarsa selalu melengkapi karya lukisannya dengan bingkai sebagai sebuah kesatuan karya. Seniman-perupa Pupuk Daru Purnomo pernah enggan melepaskan karya lukisannya saat seorang kolektor hendak mengoleksi karya lukisannya yang terlepas dari bingkainya.

“Seniman-perupa pada masa-masa Agung Suryahadi dan sezamannya menganggap sebuah karya itu sudah selesai jika saat yang bersangkutan telah menyiapkan bingkai yang pas,” jelas seniman-perupa Alie Gopal kepada satuharapan.com saat pembukaan pameran “Tiga Serdadu Tua”, Selasa (23/4) malam.

Kekuatan tangan dengan detail karya pada karya-karya seni (craftmanship) menjadi salah penanda karya seniman-perupa pada seniman kriya ataupun seniman pada masa-masa Agung Suryahadi.

I Wayan Sukadana mengeksplorasi medium tempurung kelapa, cangkang kerang, serta berbagai jenis kayu dalam karya dua-tiga matranya. Pada karya “Budha” Sukadana membuat detail patung Buddha berbahan kayu cendana berukuran 45 cm x 45 cm dan ditaruh di atas karya lainnya sebuah meja berjudul “Meja Bundar” berukuran diameter 120 cm setinggi 75 cm. Meja tersebut dibuat Sukadana dari potongan kayu besi (Diospyros cellebica).

Pada karya “Hiasan Dinding” berukuran 90 cm x 90 cm, Sukadana membuat lukisan berbahan cangkang kerang capis lengkap dengan bingkai kayu. Pada karya lainnya Sukadana menggunakan cangkang kerang wadung.

Abdul Ghofar mengeksplorasi lampu meja-dinding-lantai sebagai karya memanfaatkan medium kayu-logam. Karya Abdul Ghofar selain memiliki nilai estetika sekaligus fungsional. Pada sebuah lampu lantai berbentuk topeng, Abdul Ghofar membuatnya dalam bahan kayu pulai (Alstonia scholaris). Sementara pada karya panel berjudul “Kelompok Ikan” yang bisa difungsikan sebagai penyekat ruang, Abdul Ghofar mengkombinasikan dengan kayu pinus (Pinus spp) dan material logam. Pada karya lain dengan obyek burung-burung, Abdul Ghofar membuat karya dari bahan kayu sengon (Paraserianthes falcataria).

"Karya-karya yang berbasis pada kekuatan tangan (craftmanship) yang dilakukan oleh seniman-perupa hari ini, ke depannya akan menjadi penting dan akan mewarnai seni rupa di masa datang. Pasar cukup terbuka lebar, tinggal bagaimana seniman-perupa menggali kreativitas dalam karya-karyanya dengan konsep yang kuat." jelas seniman desain Satya Brahmantya dalam perbincangan dengan satuharapan.com beberapa waktu lalu.

Pameran seni rupa bertajuk "Tiga Serdadu Tua" berlangsung sampai tanggal 29 April 2019 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No 2 Yogyakarta.

Editor : Sotyati

Back to Home