Google+
Loading...
HAM
Penulis: Reporter Satuharapan 10:17 WIB | Selasa, 11 September 2018

Kisah Perempuan Yazidi setelah Empat Tahun Disekap ISIS

Ilustrasi. Tempat suci komunitas Yazidi di Lalish. Sebelum kembali menjalani kehidupan normal, sesuai dengan tradisi Yazidi, Ghazal harus menjalani ritual khusus di Lalish ini. (Foto: Yezidis)

SATUHARAPAN.COM – Suasana satu rumah di Sinjar, Irak utara, pada awal September, yang biasanya sepi tiba-tiba saja menjadi sangat ramai.

Tangis gembira terasa saat Ghazal bersama empat anaknya untuk pertama kalinya berada kembali di desanya, empat tahun setelah menghilang.

Ghazal tadinya enggan pulang karena merasa tidak akan lagi diterima warga kampung.

Tapi, berkat usaha keluarganya, yang menebus dengan uang ribuan dolar, Ghazal bisa berkumpul lagi dengan sanak keluarga.

“ISIS berbohong. Mereka mengatakan para perempuan Yazidi tidak akan dibebaskan. Mereka juga mengatakan saya akan ditolak jika kembali ke kampung halaman,” kata Ghazal.

“ISIS bahkan mengatakan kami akan dibunuh oleh warga kampung,” katanya.

Ghazal bersama empat anaknya termasuk di antara puluhan ribu perempuan dan anak-anak Yazidi di Sinjar yang dibawa dan disandera oleh para milisi kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) pada pertengahan 2014.

Mereka ditempatkan di pusat-pusat penahanan, disiksa atau menjadi budak seks, seperti yang dialami Ekhlas.

Ekhlas mengisahkan diperkosa setiap hari oleh anggota ISIS yang menyekapnya. Ia berhasil menyelamatkan diri, ditampung oleh lembaga swadaya masyarakat internasional dan kini menetap dan bersekolah di Jerman.

Nasib yang menimpa Ghazal tak seburuk Ekhlas.

Tapi, perlakuan yang ia terima membuatnya terluka, baik secara fisik maupun mental.

“Mereka memukul saya di wajah, mereka juga memukul anak-anak kami. Saya sangat khawatir dengan keadaan mereka,” kata Ghazal.

Jalani Ritual Penyucian

Yang ia syukuri adalah ISIS tak memisahkan empat anak darinya. Karena itulah, saat ia ditebus, ia bisa membawa pulang keempat anaknya.

 “Saya sungguh kaget, warga bisa menerima kembali saya, mereka menyambut saya dengan hangat,” kata Ghazal.

Sebelum kembali menjalani kehidupan normal, sesuai dengan tradisi Yazidi, Ghazal harus menjalani ritual khusus di Lalish, tempat yang disucikan oleh komunitas Yazidi ini.

Di sini, para pengikut Yazidi harus melepas sepatu atau sandal saat mengikuti upacara khusus yang biasanya dikaitkan dengan kelahiran, pernikahan, dan kematian pemeluk.

Inti prosesi adalah memercikkan air yang mengalir dari sumber yang terdapat di satu gua.

Setelah itu, pemuka agama kemudian memberikan semacam pemberkatan.

Dalam dua tahun ini, acara ritual ditambah, yaitu untuk menerima kembali perempuan-perempuan Yazidi yang pernah menjadi budak seks milisi kelompok ISIS. (bbc.com)

Editor : Sotyati

Back to Home