Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Darwin Darmawan 04:52 WIB | Kamis, 13 September 2018

Korup dan Gembira

”Ayah-ayah makan buah mentah, gigi anak-anaknya menjadi ngilu"(Yer. 31:29).
Bunga Tahi Kotok (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Pagi ini saya mendapat kiriman dua foto kumpulan koruptor yang tertangkap. Foto pertama adalah para koruptor di RRC. Mereka semua tertunduk. Entah mengapa  gesture mereka seperti itu. Mungkin malu, menyesal atau takut. Foto kedua berisi para koruptor di Indonesia. Mereka terlihat gembira walau sedang memakai rompi KPK.

Mengapa para koruptor di Indonesia tidak menunjukkan rasa takut, menyesal atau malu ketika tertangkap? Mungkin, karena selama ini, berlaku apa yang diungkapkan nabi Yeremia: ”Ayah-ayah makan buah mentah, gigi anak-anaknya menjadi ngilu"(Yer. 31:29).

Maksudnya begini. Mereka yang bersalah, tetapi mereka tidak langsung menanggung akibatnya. Bukankah kita mengetahui, negeri ini sangat lama memanjakan para koruptor? Walau di penjara, mereka masih bisa menyuap untuk keluar penjara.  Dengan uang, para penjarah uang rakyat itu bisa membuat penjara seperti hotel bintang tiga.

Keadaan tersebut berlangsung sangat lama. Akibatnya, para koruptor tidak kapok, sebab mereka berpikir, tidak akan merasa ”ngilu” setelah korupsi. Toh uang hasil korupsi cukup banyak. Bisa dipakai setelah keluar dari penjara. Mereka juga melihat, koruptor sebelumnya hidup enak. Beberapa bahkan bisa menjadi anggota dewan atau pejabat.

Mereka lupa, akibat korupsi mereka, anak-anak Indonesia ”ngilu giginya”. Rakyat menderita karena uang negara yang mestinya dipakai untuk kesejahteraan bangsa, dirampok koruptor. Para maling uang rakyat mestinya sadar, tindakan mereka membuat menderita anak-anak Indonesia.

Kepada umat Tuhan di zaman pembuangan—yang  menderita karena orang tuanya makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu—Tuhan mengatakan bahwa suatu saat keadilan akan nyata. Setiap orang akan mati karena kesalahannya sendiri. Mereka yang makan buah mentah, gigi mereka sendiri yang akan ngilu(Yer. 31:30). Keadaan ini terjadi, setelah mereka menderita 70 tahun lamanya di pembuangan Babilonia.

Pagi ini saya merenung, apakah hal yang sama sedang terjadi  di Indonesia? Saya, bersama dengan banyak rakyat Indonesia, sangat berharap hal itu terjadi. Kita rindu, setelah 73 tahun  merdeka, mereka yang bersalah akan menanggung kesalahannya sendiri. Para koruptor akan menyesali diri sebab mereka benar-benar menderita ketika korupsi.

Semoga,  anggota dewan yang terpilih nanti bisa membuat produk UU yang bisa menimbulkan efek jera bagi para koruptor. Itu berarti kita perlu memilih caleg yang memiliki rekam jejak dan integritas yang baik. Semoga, Presiden yang terpilih  nanti juga pribadi yang bersih, jujur, sederhana, dan propemberantasan korupsi, sehingga  upaya pemberantasan korupsi semakin baik.

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home