Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 18:25 WIB | Jumat, 31 Agustus 2018

Mendengarkan Allah

Apa yang keluar dengan cepat dari mulut kita cenderung penghakiman, sedangkan yang masuk ke dalam telinga kita cenderung pemahaman.
Mekar Bak Telinga (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah!” (Mrk. 7:14). Demikianlah peringatan Yesus Orang Nazaret kepada orang banyak berkait dengan adat istiadat orang Yahudi. Yesus menjadikan diri-Nya sendiri sebagai norma.

Sejatinya, setiap Kristen harus menjadikan Yesus sebagai norma. Bukankah Kristen artinya pengikut Kristus? Aneh bukan, jika kita menyebut diri sebagai pengikut Kristus, tetapi tidak bertindak seperti yang Kristus lakukan.

Persoalan terbesar orang Farisi dan ahli Taurat, berkait dengan adat istiadat Yahudi, ialah mereka tidak sungguh-sungguh mendengarkan Allah. Padahal itulah yang sejatinya ditekankan Musa kepada umat Israel (Ul. 4:1). Musa menasihati umat untuk mendengarkan Allah dan hanya mendengarkan. Dengan cara demikian, mereka akan terhindar dari penambahan atau pengurangan firman Allah. dengan kata lain, mengorupsi Firman! 

Itulah yang tidak dilakukan orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka lebih suka mendengarkan diri sendiri. Tak heran pula, karena merasa benar sendiri, mereka langsung mengkritik orang lain.

Pada titik ini benarlah nasihat Yakobus kepada kedua belas suku di perantauan: ”Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata” (Yak. 1:19). Mengapa? Karena apa yang keluar dengan cepat dari mulut kita cenderung penghakiman, sedangkan yang masuk ke dalam telinga kita cenderung pemahaman.

Dengan memberikan waktu sejenak untuk mendengarkan kita cenderung menjadi lebih paham situasi dan kondisi seseorang, yang akhirnya membuat kita terhindar dari aksi penghakiman.

Dan itulah tekad pemazmur! Dengan jelas dia berkata bahwa yang boleh diam di gunung Tuhan yang kudus adalah orang yang ”dan dengan jujur mengatakan yang benar; yang tidak memfitnah sesamanya, tidak berbuat jahat terhadap kawan, dan tidak menjelekkan nama tetangganya” (Mzm. 15:2-3, BIMK).

Betapa berbahayanya lidah. Dan karena itu Yakobus mengajak kita untuk cepat mendengarkan, tetapi lambat untuk berkata-kata. Dan semuanya itu dimaksudkan agar kita sungguh hidup, baik di hadapan sesama apa lagi di hadapan Tuhan!

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home