Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 04:15 WIB | Sabtu, 05 November 2016

Orang Saduki Tak Percaya Kebangkitan

Surga dan bumi cuma perkara tempat. Ke surga hanya pindah tempat.
Membangun kembali Bait Suci (Foto: istimewa)

SATU HARAPAN.COM – ”Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia” (Luk. 22:30). Demikianlah pertanyaan beberapa orang Saduki kepada Yesus.

Sejatinya, pertanyaan itu timbul bukan karena mau tahu. Mereka hanya ingin mendapatkan peneguhan akan kepercayaan yang dianut. Orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan. Dan mereka yakin kasus yang mereka ajukan akan membuat Guru dari Nazaret itu mau tak mau mengakui bahwa orang mati tidak akan pernah bangkit.

 

Tiga Golongan Masyarakat Yahudi

Pada waktu itu masyarakat Yahudi terbagi dalam tiga golongan. Pertama, golongan Farisi yang sangat menaati perintah Taurat secara rinci. Kedua, golongan Eseni yang mengundurkan diri dari keramaian untuk menyatukan diri dengan Allah dalam doa dan meditasi. Ketiga, golongan Saduki yang terkesan lebih liberal dan kerap melanggar Taurat.

Dengan tegas Yesus berkata, ”Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup” (Luk. 20:38). Dengan penjelasan ini Yesus hendak menyatakan bahwa orang Saduki berpikir menurut pikiran manusia. Mereka agaknya lupa bahwa manusia sesungguhnya hanyalah ciptaan. Dan memang tak gampang bagi ciptaan untuk sungguh-sungguh memahami Allah.

Dalam Alkitab BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini), Yesus menjelaskan: ”Nah, Allah itu bukan Allah orang mati! Ia Allah orang-orang yang hidup! Sebab untuk Allah, semua orang hidup.” Dengan kata lain, orang yang hidup di dunia untuk Allah akan mengalami hidup kekal yang ditujukan bagi Allah. Mereka hidup abadi untuk Allah.

Di sinilah letak masalahnya: orang Saduki tidak ingin hidup untuk Allah, namun di luar aturan Allah. Dan ketidakinginan hidup bagi Allah—seturut dengan kehendak Allah—di dunialah yang membuat mereka akhirnya mengembangkan ajaran bahwa orang mati tidak akan bangkit lagi.

 

Hanya Pindah Tempat

Lalu, bagaimana sekarang? Paulus mengajak warga jemaat di Tesalonika untuk tidak terlalu memusingkan tentang perkara surga. Paulus menasihatkan: ”Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba” (2Tes. 2:1-2).

Di sini kita perlu memahami bahwa tak perlulah kita mempersoalkan dengan jelimet bagaimana keadaan surga selama kita hidup baik selama di dunia. Bagaimanapun, surga dan bumi Cuma perkara tempat. Dan ketika kita ke surga, sejatinya pun hanya pindah tempat. Jika kita hidup bersama dengan Allah di muka bumi ini, maka kelak kita pun akan hidup bersama dengan Dia di surga sana. Sehingga Paulus mendorong warga jemaat untuk tetap menjalankan pekerjaan dan perkataan yang baik. Mengapa? Sebab, sekali lagi, surga dan bumi cuma perkara tempat. Sehingga, ke surga hanya pindah tempat!

 

Tetap Bekerja

Itu jugalah nasihat Allah, melalui Hagai, kepada orang Israel yang sedang sibuk membangun Bait Suci—”Bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam” (Hag. 2:5).

Pada waktu itu umat Israel yang baru pulang dari pembuangan mencoba merenovasi Bait Suci. Dan di tengah perjalanan mereka menyadari, betapa pun kerasnya usaha mereka, ternyata masih kalah megah dibandingkan dengan Bait Suci yang dibangun Salomo.

Tetapi, Allah terus mendorong mereka untuk tetap bekerja karena Dialah yang akan menyempurnakan pekerjaan mereka. Kebersamaan dengan Allah memang lebih dari apa pun. Allah, sebagaimana pernah diutarakan Bunda Teresa, memang tidak menuntut kita untuk berhasil, melainkan untuk setia!

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home