Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 20:03 WIB | Jumat, 24 November 2017

Pada Minggu Kristus Raja Semesta Alam

Sejatinya waktu setiap orang sama.
Vonis dijatuhkan (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya” (Mat. 25:31-33). Demikianlah bacaan Injil yang menyapa kita pada Minggu Kristus Raja Semesta Alam.

Kata ”apabila” tak hanya menyatakan kejadian masa depan, tetapi juga kenyataan bahwa waktu bagi setiap orang terbatas jumlahnya. Dan dalam keterbatasan waktu itu, setiap orang dituntut pertanggungan jawaban!

Memang ada orang yang dikaruniai umur panjang, ada pula yang berumur pendek. Namun, dalam semuanya itu, setiap orang dituntut pertanggungjawaban yang sama. Dan dalam penghakiman itu, tak seorang pun bisa protes. Bagaimanapun, semuanya telah tercatat. Tidak ada yang bisa membela diri. Sekali lagi, karena semuanya telah terekam. Dan saksinya adalah waktu itu sendiri. Tolok ukur dari catatan itu ialah apa yang dilakukan manusia di dalam waktu!

Sejatinya waktu setiap orang sama. Satu hari, ya 24 jam! Tidak lebih dan tidak kurang. Dan waktu sesungguhnya merupakan kesempatan untuk berkarya! Inilah yang ditekankan Anak Manusia saat menjatuhkan vonis: ”Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku” (Mat. 25:34-36).

Kata ”ketika” merupakan kata penghubung untuk menandai waktu yang bersamaan. Dan kata ”ketika”berarti pula waktu yang sangat singkat atau tertentu. Artinya, orang lapar, orang haus, seorang asing, orang telanjang, orang sakit, orang di penjara, tidaklah setiap saat kita jumpai! Dan kalau kita melakukan kehendak Allah dalam menanggapi semua ”ketika” itu, kita telah melakukannya untuk Yesus.

Menarik disimak, kriteria dalam penetapan vonis tersebut bukanlah tindakan-tindakan luar biasa seperti: mukjizat, penyembuhan, bahasa lidah, khotbah. Tidak sama sekali. Namun, yang menjadi kriterianya adalah segala hal yang menyangkut pemberian—makan, minum, tumpangan, pakaian, dan waktu. Dan hal-hal sederhana itulah yang ternyata menjadi tolok ukur di Kerajaan Allah.

Sudahkah kita melakukannya?

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home