Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Cordelia Gunawan 13:24 WIB | Sabtu, 24 Agustus 2019

Panggil Saya Amoy

Cordelia Gunawan.

SATUHARAPAN.COM – “Amoy, please pass the tofu for me!” Seorang pria Asia meneriakkan kata-kata itu kepada seorang perempuan muda, yang sedang merapikan barang di lemari es tempat ia bekerja.

Teriakan itu bukan teriakan istimewa. Namun, bagi saya teriakan itu menjadi sesuatu yang agak berbeda. Saya agak kaget mendengar pria itu menyebut si pramuniaga dengan sebutan “amoy”. Terlebih lagi, perempuan muda itu menanggapi dengan baik.

Perempuan muda itu tidak terihat marah atau tersinggung. Ternyata, di Australia, amoy adalah panggilan yang wajar-wajar saja yang dikenakan pada perempuan muda Tionghoa.

Saya lahir di Indonesia, saya besar di Jakarta. Saya keturunan Tionghoa, namun saya tidak lagi fasih berbahasa Tionghoa. Sejak saya kecil, panggilan amoy atau enci seolah menjadi label tertentu, bahwa saya bukan bagian dari bangsa ini, saya hanya amoy, enci, orang asing, dan tidak sama dengan orang Indonesia. Orang kerap seolah meledek dengan panggilan amoy.

Sekian tahun lamanya pengalaman ini berlalu, dan justru sewaktu di negeri orang itulah, saya baru menyadari amoy hanyalah panggilan biasa. Tidak ada yang salah dengan panggilan amoy. Pengalaman saya di waktu-waktu yang lalu membuat saya mempunyai kesan tidak pas dengan panggilan amoy.

Namun, Indonesia sekarang tidak sama dengan Indonesia di masa saya kecil. Indonesia sekarang adalah Indonesia yang sadar akan keanekaragamannya. Saya yang sekarang, tidak pusing dipanggil amoy, atau enci, atau apa saja.

Saya tidak memilih lahir sebagai Tionghoa di Indonesia. Saya memang keturunan Tionghoa, tetapi saya Indonesia. Panggil saya amoy, tidak apa-apa, karena saya memang Tionghoa, toh Tionghoa pun sama dengan suku lain.

Kita semua bagian dari Indonesia. Amoy harusnya sama saja dengan mbak, usi, atau sebutan lain. Itu yang saya rasakan sampai dengan beberapa waktu lalu, sampai kemudian masalah kesukuan kembali mencuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Primordialisme Berlebihan

Masalah ketidakmerataan pembangunan di tengah luasnya Indonesia, membuat ada ketidakmerataan kesejahteraan. Kesejahteraan yang tidak merata tentu meliputi di dalamnya berbagai macam hal.

Sekarang seharusnya bersama kita membangun negeri, sehingga, misalnya, semua anak mendapatkan pendidikan yang memadai dari Sabang sampai Merauke. Namun, sangat menyedihkan dan sangat memprihatinkan jika di era sekarang, kita masih saja saling tidak menerima satu dengan yang lain.  

Sangat menyedihkan jika kita mundur ke belakang, saling curiga, saling benci, saling meledek, bahkan akhirnya saling terluka.

Indonesia sudah melewati masa kelam di mana satu suku didiskriminasi sedemikian rupa. Palebelan antarsuku masih terasa sampai sekarang, belum ideal namun seharusnya sudah berangsur baik. Akankah sekarang kembali saling membenci?

Mari, bebaskan diri kita dari primodialisme berlebihan, dari kebencian-kebencian yang membelenggu, sehingga kita tidak mampu mengasihi dengan tulus.

Lahir dan bertumbuh di negeri yang besar dan luas adalah sebuah anugerah. Anda dan saya harus menyadari ini sebagai anugerah. Kiranya kita mampu arif dan bijaksana hidup saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lain. 

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home