Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Alexander Urbinas 13:30 WIB | Kamis, 22 Agustus 2019

Saya Papua, Saya Bukan Monyet - Saya Pendeta GKI, Saya Indonesia

SATUHARAPAN.COM – Salah satu film yang booming di bulan Agustus 2019 ini adalah film yang digarap Hanung Bramantyo berjudul Bumi Manusia, yang diadaptasi dari karya Pramoedya Ananta Toer. Kisah dengan latar belakang kolonialisme ini menceritakan seorang pemuda bernama Minke, yang bernama asli RM Tirtho Adhi, yang terpelajar dan sangat piawai menulis.

Melalui tulisannya tersebut, ia memperjuangkan nasib pribumi yang dianggap sebagai masyarakat kelas dua, yang kerap disebut oleh era kolonial Hindia Belanda sebagai inlander (artinya: pribumi). Kata inlander pun kemudian bergeser menjadi sebuah ejekan. Inlander diterjemahkan bukan hanya berarti pribumi, melainkan monyet! Ya, pribumi di Indonesia dipanggil monyet dan diperlakukan seperti binatang!

Pada 17 Agustus 2019 ini, bangsa Indonesia dengan penuh syukur memasuki Hari Ulang Tahun ke-74 Republik Indonesia. Namun, rasa syukur itu menjadi tercoreng ketika diduga terjadi tindakan rasial terhadap warga Papua di Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 17 Agustus 2019.

Dugaan ucapan rasial dari oknum yang menyebut orang Papua dengan sebutan “monyet”, ternyata memprovokasi dan membuat beberapa daerah di Papua berdemonstrasi bahkan berujung ke kerusuhan. Sebuah tindakan yang kembali mencoreng persatuan dan kesatuan bangsa, di tengah tensi politik yang sudah mulai teduh pasca-Pemilu 2019.

Sebagai seorang anak Papua yang lahir dan besar di tanah Jawa, ketika kecil saya pun tak lepas dari ucapan-ucapan rasial, baik ketika di sekolah, maupun di lingkungan tempat tinggal. Untuk itu tidak segan saya berkelahi dengan jumlah orang yang lebih banyak, karena merasa tersinggung atas tindakan rasial tersebut. Walaupun harus babak belur, gejolak emosi seperti sudah terpuaskan. Karena bagi saya ini bukan soal diri sendiri, tapi soal harkat dan martabat orang Papua!

Sampai suatu ketika ayah saya memperkenalkan sosok bernama Nelson Mandela dan menunjuk salah satu kalimat Mandela yang mengatakan: “education is the most powerful weapon which you can use to change the world”. Artinya, pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk mengubah dunia.

Pesan ayah saya jelas: angkat dan martabat orang Papua bukan dengan dengan kekerasan, melainkan dengan belajar, berkarya, dan kerja keras. Kekerasan bukan menjadi jalan dalam menyampaikan sebuah pendapat. Kekerasan hanya akan menjadi jalan buntu. Tapi, melalui pendidikan dan karya, seseorang akan berharga.

Stop Rasisme

Rajutan persatuan dan kesatuan di negeri Indonesia, adalah sebuah perjuangan panjang yang tak mudah untuk dipelihara. Tanpa adanya kesadaran untuk meruntuhkan tembok pemisah yang bersifat segregatif dan diskriminatif, persatuan dan kesatuan tersebut dapat dengan mudah rusak.

Sebagai bangsa, kita tidak dapat hanya berfokus kepada perbedaan-perbedaan latar belakang setiap warga negara. Era disrupsi di dunia kini membuat perubahan yang begitu cepat. Kita tidak dapat hanya terjebak dalam pusaran isu-isu politik identitas. Sikap primordialisme ini, hanya akan membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang ketinggalan dibandingkan dengan bangsa-bangsa di belahan dunia lain.

Papua adalah bagian dari Indonesia. Papua bukanlah kelas kedua di negeri ini. Orang papua, bukanlah monyet! Mereka adalah manusia dan orang Indonesia. Stop rasisme!

Mari ciptakan kedamaian di tanah Papua, sang surga kecil yang jatuh ke bumi. Mari saudaraku orang Papua, kita menjadi orang Papua yang mencintai negeri ini. Orang Papua yang terpelajar dan berkarya bagi Indonesia.

Doa kita bagi Indonesia untuk menjadi negeri yang damai. 

Saya Papua, Saya Bukan Monyet! Saya Pendeta GKI, Saya Indonesia!

“I am not a racist. I am against every form of racism and segregation, every form of discrimination. I believe in human beings, and that all human beings should be respected as such, regardless of their color.” (El-Hajj Malik El-Shabazz/Malcolm X)  

* Penulis adalah Pendeta Gereja Kristen Indonesia

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home