Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Priskila Prima Hevina 17:12 WIB | Rabu, 10 Oktober 2018

PARAINSPIRASI

Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – Saya masih merinding mengingat tayangan Opening Ceremony Asian Para Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta Sabtu kemarin (7/10/2018). Haru menyeruak setiap kali kamera fokus memperlihatkan teman-teman difabel naik panggung dengan dagu terangkat sembari tersenyum sumringah. Akan tetapi, sayang seribu sayang, antusiasme dan respek dari masyarakat Indonesia selaku tuan rumah untuk acara semegah ini belum bulat.

”Aku nonton sebentar (pembukaan APG). Masak ada orang cacatnya ya? Kasihan, tau.”

Lha, memang ajang kompetisi olahraga khusus teman disabilitas.”

”Hah? Emang mereka bisa?”

”Nyatanya bisa, banyak yang udah dapet medali.”

“Ya, po? Tetep aja enggak tega liatnya.”

Ajang APG memang baru seumur jagung kalau dibandingkan dengan Asian Games (AG). Sebagai perbandingan, AG sudah dihelat sejak tahun 1951 sedangkan APG baru diadakan pada 2010. Seharusnya Indonesia berbangga dipercaya menjadi tuan rumah dari dua acara bergengsi itu pada tahun yang sama. Selain dipandang mampu memfasilitasi gelaran kelas internasional ini, (seharusnya) masyarakat Indonesia memiliki adab dan etika yang inklusif dengan semua anggota masyarakat, termasuk kaum difabel.

Namun, belum semua masyarakat Indonesia bermental inklusif dan setara sejak dalam pikiran. Masih ada komentar masyarakat yang cenderung mengasihani dan meremehkan para difabel. Malah ada yang jijik melihat kondisi fisik mereka.

Setidaknya ada 5 jenis difabel: netra, rungu-wicara, daksa, mental intelektual, dan mixed disability. Masing-masing memiliki keterbatasan dan cara berinteraksi yang berlainan. Namun, satu benang merah yang bisa ditarik adalah rasa kesetaraan yang harus kita berikan pada mereka. Jangan sampai kita bersikap superior dan membuat mereka direndahkan.

Tagar Para Inspirasi didengungkan sepanjang perhelatan APG 2018 sejalan dengan tema besar The Inspiring and Energy of Asia. Kita harus memberikan penghargaan yang sama kepada teman-teman difabel, apa pun tipe disabilitasnya.

To win or not to win, that’s not even a question

Because every day we must inspire people around us

Because every day we must conquer our head over our heart

And after that day, every day will always be our winning day.

#ParaInspirasi #AsianParaGames2018

(Sumber: Instagram akun resmi @asianpg2018 pada 7 Oktober 2018)

Apakah iya mereka penyandang disabilitas selalu menderita sehingga perlu dikasihani? Nggak deh. Jauh lebih banyak manusia yang menggembar-gemborkan penderitaannya, meski ia memiliki anggota tubuh lengkap dan berfungsi baik. Apakah iya mereka penyandang disabilitas tidak mampu mengerjakan sesuatu sehingga pantas diremehkan? Nggak banget. Jauh lebih banyak manusia dengan anggota tubuh komplit yang bersandar pada kemalasannya sehingga hidupnya tidak menghasilkan apa pun.

Kalau begini, sebenarnya siapa yang able dan siapa yang disable?

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home