Loading...
HAM
Penulis: Martha Lusiana 14:31 WIB | Rabu, 15 Juli 2015

Pendeta Saeed Abedini Tetap Dipenjara Iran

Foto: foxnews.com

SATUHARAPAN.COM – Pembicaraan ihwal pembebasan warga negara Amerika Serikat, Saeed Abedini yang dipenjara Iran bukan menjadi bagian dari kesepakatan nuklir antara Iran dan enam negara adidaya, termasuk AS, kata istrinya mengkonfirmasi.

Naghmeh Abedini, yang tiada hentinya menuntut pembebasan sang suami sejak penangkapan pada 2012 silam, terus mengeluarkan pernyataan yang mendesak pemerintahan Barack Obama agar mempertimbangkan pembebasan Pendeta Saeed Abedini dalam perundingan nuklir dengan Iran yang sudah disepakati pada hari Selasa (14/7) di Wina Austria.

"Saya mohon kepada Kongres agar memastikan bahwa suami saya, seorang warga negara Amerika yang ditahan di Teheran, tidak tertinggal dalam pembicaraan dengan Iran," kata dia.

"Melalui pengumuman kesepakatan dan doa untuk nasib Saeed dan orang Amerika lainnya yang ditahan oleh Iran, nasib mereka sekarang ada di tangan Kongres. Saya mohon kepada setiap anggota Kongres untuk meninjau kesepakatan dengan menempatkan keluarga kami sebagai prioritas dalam pikiran mereka,” ujar Naghmeh.

"Kongres memegang kunci untuk membawa suami saya pulang ke rumah, untuk kembali menjadi ayah bagi anak-anak saya. Anak-anak saya sangat merindukan pelukan kasih sayang dari ayah mereka selama tiga tahun terakhir dalam hidup mereka. Mereka telah tumbuh, hampir setengah dari hidup mereka, tanpa ayah,” ungkap Naghmeh.

Pusat Hukum dan Keadilan Amerika (The American Canter for Law and Justice/ACLJ), yang mewakili Naghmeh, menyebut kesepakatan nuklir "tidak bermoral" karena gagal membebaskan Saeed.

"Benar-benar tidak bermoral jika pemerintahan Obama menandatangani kesepakatan dengan Iran tanpa menjamin kebebasan Pendeta Saeed yang telah dipenjara selama hampir tiga tahun hanya karena iman Kristennya," kata Kepala Penasihat ACLJ, Jay Sekulow, dalam sebuah penyataan yang dilansir Christian Today.

Sekulow mengungkapkan bahwa Presiden Obama pernah mengatakan langsung kepada keluarga Abedini bahwa presiden menganggap tuntutan pembebasan Pendeta Saeed adalah sebuah prioritas utama. Namun kini Sekulow mempertanyakan bukti omongan Obama.

“Bagaimana (kasus Saeed) itu bisa menjadi prioritas utama, jika kesepakatan nuklir dengan Iran bisa tercapai tapi meninggalkan persoalan Pendeta Saeed?” ujar Sekulow. “Kesepakatan (dengan Iran) itu buruk, bahkan lebih buruk. Fokus kami sekarang adalah meyakinkan Kongres untuk menolak kesepakatan ini." (Baca juga: John Kerry Janji Bebaskan Pdt Abedini dari Penjara Iran)

Dalam sebuah update pada halaman Facebook-nya kemarin (14/7), Naghmeh menulis, "Banyak orang yang bertanya apakah Saeed menjadi bagian dari kesepakatan nuklir yang telah dicapai dengan Iran. Saya meminta maaf dan mengatakan bahwa Saeed TIDAK menjadi bagian dari pembicaraan kesepakatan dan Departemen Luar Negeri AS TIDAK membuka kasus Saeed.”

Naghmeh melanjutkan dalam tulisan itu, "Tuhan telah menyiapkan hati saya untuk kondisi ini. Harapan kami ada di dalam Tuhan. Kami semua berdoa agar Tuhan membebaskan Saeed dan kemuliaan Tuhan terjadi.”

"Terima kasih untuk doa-doa Anda. Keluarga kami sangat membutuhkan dan menghargai itu."

Ia mengakhiri tulisan itu dengan ayat Mazmur 121: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.

Saeed saat ini menjalani hukuman penjara selama delapan tahun di Iran atas tuduhan telah "mengancam keamanan negara". Ia di Iran mulai mengembangkan komunitas gereja-gereja bagi orang Kristen. 

Pendeta Saeed pertama kali ditangkap pada 2009, namun kemudian dibebaskan setelah berjanji menghentikan kegiatan gereja di negara Muslim tersebut.

Ia ditangkap untuk kedua kalinya setelah kembali ke Iran pada tahun 2012 untuk membantu membangun panti asuhan dan ditahan tanpa tuduhan sampai Januari 2013 hingga ia menerima vonis kurungan selama delapan tahun. (Baca juga: Pendeta Asal Amerika, Saeed Abedini, Terancam Bahaya di Iran)

Berbulan-bulan sebelumnya, AS dituntut dan berjanji membebaskan warga negara AS yang ditahan di Iran seperti Pendeta Saeed, mantan Marinir AS Amir Hekmati, wartawan Washington Post Jason Rezaian, dan pensiunan agen FBI Robert Levinson.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home