Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Febriana Dyah Hardiyanti 21:29 WIB | Minggu, 01 Mei 2016

PGI Minta Gereja Aktif Berikan Konseling Pastoral bagi LGBT

Peserta Talkshow ‘Keluarga Kristen Menyikapi LGBT’, hari Sabtu (30/4), di Gereja Bethel Indonesia Kamboja, Depok (Foto: Febriana DH)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), meminta gereja untuk berperan aktif memberikan konseling pastoral bagi Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) dalam kehidupan bermasyarakat dan bergereja.

Hal itu disampaikan oleh Ketua PGIS Depok, Pendeta Alexius Letiora, dalam Talkshow bertema Keluarga Kristen Menyikapi LGBT yang diselenggarakan di Gereja Bethel Indonesia Kamboja, Depok, hari Sabtu (30/4).

“LGBT bukan penyakit, baik fisik maupun psikis. Pendampingan berupa konseling pastoral dan psikologis bisa menolong para homoseksual untuk menerima dirinya. Namun, bukan untuk mengubah jati dirinya,” kata Alexius.

Alexius menerangkan bahwa PGI dalam menyikapi LGBT tidak sembarangan. “PGI berhati-hati dalam menyatakan sikap, ini membutuhkan kajian yang mendalam,” katanya.

Lebih dari itu, dikatakan oleh Alexius, “Yang lebih arif dalam menyikapi fenomena LGBT adalah dengan pendekatan yang memberikan pencerahan, mempersiapkan warga gereja untuk memiliki pemahaman yang baik tentang apa itu keluarga, lalu dari pondasi itu bisa melihat fenomena ini dengan lebih bijaksana.”

Perlu diketahui, fenomena LGBT yang menjadi pergumulan gereja-gereja di Indonesia ini sedianya segera menjadi kajian terhitung mulai bulan Januari 2017 mendatang melalui rapat PGI.

“Sementara ini PGIS tidak akan mengeluarkan surat tanggapan mengenai LGBT, tapi lebih kepada mengeluarkan surat pastoral agar gereja-gereja memiliki konsep yang universal,” kata Alexius.

Sebagai manusia yang merupakan buah karya kasih Allah, Alexius menerangkan pentingnya sikap saling menghargai sesama manusia dalam kaitannya dengan fenomena ini sehingga terhindar dari sikap menghakimi dan atau terlebih membenci sesama.

“Menghargai sebagai manusia jauh lebih penting sebagai langkah awal memasuki pemahaman yang lebih konstruktif dalam kaitannya dengan masalah LGBT. Hindari prasangka melihat mereka secara sebelah mata.  Janganlah pernah menghakimi,” katanya.

Menurut Alexius, pendekatan yang paling utama dalam menyikapi fenomena LGBT adalah dengan kasih.

“Yang paling utama dari semuanya adalah kasih. Yesus tidak hanya mengasihi orang-orang normal, karena Yesus sendiri kadang-kadang membuat terobosan yang tidak normal ketika secara umum orang memberi identitas yang buruk terhadap pezinah. Yesus berdiri di pihak mereka ketika orang memberi pemahaman atau sikap yang tidak baik pada orang berdosa. Yesus justru bergaul dengan mereka. Ini artinya, penghargaan Yesus terhadap manusia secara utuh adalah kasih yang tidak bisa dibelenggu dengan kondisi apa pun yang dialami manusia, termasuk LGBT. LGBT hadir agar dapat diterima secara terbuka, meskipun masih menjadi pergumulan gereja,” ujar Alexius.

Talkshow ini ditutup dengan sebuah konklusi bahwa “Sangat naif apabila ada pendeta yang berkata bahwa orang homoseksual harus bertobat menjadi orang heteroseksual, karena sama naifnya seperti berkata bahwa orang berkulit hitam harus menjadi kulit putih. Setiap orang diciptakan dengan karakteristik yang berbeda-beda, tetapi tiap orang itu adalah gambar dan rupa Allah.”

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home