Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 07:31 WIB | Sabtu, 24 Oktober 2020

Polisi Prancis Gerebeg Asosiasi Islam dan Penganut Ekstremis

Operasi menyusul pemenggalan terhadap guru yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad.
Aksi solidaritas untuk Samuel Paty di kora Paris, Prancis, Senin (19/10). (Foto: tangkap layar video)

PARIS, SATUHARAPAN.COM-Polisi Prancis hari Senin (19/10) menggerebek asosiasi Islam dan orang asing yang diduga menganut paham ekstremis, kata sumber polisi, tiga hari setelah seorang tersangka Islamis memenggal kepala seorang guru sekolah.

Guru sejarah Samuel Paty, 47 tahun, dibunuh pada hari Jumat (16/10) di siang bolong di luar sekolahnya di pinggiran kota kelas menengah Paris oleh seorang remaja berusia 18 tahun asal Chechnya. Polisi menembak mati penyerang.

Pembunuh remaja itu berusaha membalas penggunaan karikatur Nabi Muhammad oleh korbannya di kelas kebebasan berekspresi untuk anak berusia 13 tahun. Muslim percaya bahwa penggambaran Nabi adalah penghujatan.

Kemungkinan Membubarkan 50 Asosiasi Islam

Tokoh masyarakat menyebut pembunuhan itu sebagai serangan terhadap Republik dan nilai-nilai Prancis. Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin, mengatakan ada sekitar 80 penyelidikan yang dilakukan terhadap kebencian online dan dia sedang mempertimbangkan apakah akan membubarkan sekitar 50 asosiasi dalam komunitas Muslim.

"Operasi polisi telah terjadi dan lebih banyak lagi akan menyusul, menyangkut puluhan orang," kata menteri itu kepada Europe 1.

Sebuah sumber polisi pada hari Minggu (18/10) mengatakan Prancis sedang bersiap untuk mendeportasi 213 orang asing yang berada dalam daftar pantauan pemerintah dan dicurigai memegang keyakinan agama yang ekstrem, di antara mereka sekitar 150 orang menjalani hukuman penjara. Namun deportasi sudah dikerjakan sebelum serangan hari Jumat, kata sumber keamanan.

Menggunakan Media Sosial

Polisi menahan 10 orang sehubungan dengan serangan tersebut dalam 24 jam setelah pembunuhan Paty. Di antara mereka, kata jaksa, adalah ayah dari seorang murid di sekolah Paty dan satu orang lagi di radar dinas intelijen, yang menurut mereka telah menggunakan media sosial untuk berkampanye melawan guru tersebut.

Sumber pengadilan mengatakan kepada Reuters bahwa pria yang dikenal oleh badan intelijen itu adalah Abdelhakim Sefriuoi kelahiran Maroko. Sefriuoi selama bertahun-tahun menggunakan media sosial untuk melawan apa yang disebutnya "Islamafobia" dan untuk menekan pemerintah atas perlakuannya terhadap Muslim.

Pada tahun 2011, ia menentang sebuah sekolah menengah di Saint-Ouen, sebuah kota kelas pekerja dengan komunitas Muslim yang besar di dekat Paris, karena ingin melarang pakaian yang digunakan oleh gadis Muslim untuk menghindari larangan kerudung.

Sefriuoi telah berada dalam daftar pantauan badan intelijen Prancis selama lebih dari 15 tahun, sumber keamanan mengatakan kepada Reuters.

Darmanin mengatakan seruan kedua pria itu untuk bertindak terhadap Paty berfungsi sebagai Fatwa terhadapnya. (Reuters)

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home