Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 07:46 WIB | Selasa, 19 Juli 2016

Prancis: Belum Ada Bukti Pelaku Serangan Nice Terkait ISIS

Masyarakat berkumpul di tugu peringatan sementara di Promenade des Anglais, Nice, Prancis pada 17 Juli 2016 sebagai bentuk penghormatan kepada korban serangan Hari Bastille yang menewaskan 84 orang. (Foto-foto: AFP)

PARIS, SATUHARAPAN.COM - Menteri dalam negeri Prancis mengatakan belum ada bukti keterkaitan antara pelaku penyerangan yang menggunakan truk di Nice dan “jaringan teroris” seperti ISIS yang mengklaim bertanggung jawab atas tragedi tersebut.

“Kami belum bisa mengecualikan bahwa seseorang yang tidak stabil dan sangat kejam telah teradikalisasi kemudian melakukan kejahatan keji ini,” yang menewaskan 84 orang, ujar Menteri Dalam Negeri, Bernard Cazeneuve, kepada stasiun radio RTL, hari Senin (18/7),

Mohamed Lahouaiej-Bouhlel (31), seorang warga negara keturunan Tunisia, menabrakkan truk berbobot 19 ton ke kerumunan massa saat pesta kembang api di kota pesisir Nice pada Kamis malam pekan lalu, sehingga merenggut 84 korban jiwa dan melukai sekitar 300 orang lainnya.

Kata sumber yang mengetahui penyelidikan tersebut, dia mengirimkan sebuah SMS tepat sebelum serangan yang isinya soal suplai senjata.

Dalam SMS itu, Mohamed Lahouaiej-Bouhlel “mengungkapkan kepuasan setelah memperoleh pistol 7.65 mm dan mendiskusikan suplai senjata lainnya."

Sopir truk itu, yang ditembak mati oleh polisi setelah amukan mematikannya, memotret dirinya sendiri di balik kemudi yang kemudian dia bagikan melalui SMS, katanya.

Ribuan orang berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada para korban serangan truk di Promenade des Anglais, Nice, Prancis pada 18 Juli 2016. 

Lebih dari 200 penyidik sedang mencoba mengidentifikasi penerima pesannya, kata salah satu petugas kepada AFP.

Enam orang masih ditahan untuk ditanyai soal serangan besar ketiga di Prancis sejak Januari 2015.

ISIS mengklaim salah seorang gerilyawannya melancarkan serangan tersebut sebagai bagian dari seruan untuk menyerang negara-negara anggota koalisi militer pimpinan Amerika Serikat yang menggelar operasi penumpasan terhadap kelompok ekstremis tersebut.

Penyerangan di Nice merupakan tragedi ketiga di Prancis dalam 18 bulan terakhir. Cazeneuve mengecam para politikus oposisi yang mengkritik pemerintah karena dinilai gagal mencegah pertumpahan darah. (AFP)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home