Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 22:55 WIB | Minggu, 26 Januari 2014

Profile Bashar Al-Assad: Pria Canggung Yang Mewarisi Rezim Represif

Presiden Suriah, Bashar Al-Assad. (Foto: SANA)

SATUHARAPAN.COM – Perundingan antara pemerintah dan oposisi Suriah di Jenewa yang tengah berlangsung baru tahap awal. Namun jika pada akhirnya komunike Jenewa I yang dibahas, makan akan menghasilkan terbentuknya pemerintahan transisi. Apakah hal ini berarti berakhirnya dinasti Al-Assad di Suriah?

Dalam konferensi Jenewa II yang tengah berlangsung dengan ditengahi  Wakil Khusus PBB-Liga Arab, Lakhdar Brahimi, pihak oposisi bersikeras dengan pembahasan pemerintah transisi tanpa melibatkan Presiden Bashar Al-Assad.  Pelaksanaan komunike Jenewa I bisa berarti akhir kekuasaan Bashar  Al-Assad  yang telah berkuasa 13 tahun di negeri itu, atau akhir kekuasaan keluarga Al-Assad  selama hampir setengah abad di Suriah. Berikut ini profile Bashar Al-Assad.

Bashar Al-Assad dilahirkan di Damaskus pada tanggal 11 September 1965. Dia merupakan putra tertua Hafez al-Assad, dan saudaranya adalah Maher, Basil, Bushra, dan Majd al-Assad. Bashar menjadi Sekretaris Partai Ba’ath dan menjadi Presiden pada 2000 menggantikan ayahnya hingga sekarang.

Ada berita bahwa sebelum meninggal, Hafez mempersiapkan  Basil Al-Assad sebagai penggantinya untuk menduduki kursi kepresidenan Suriah. Basil meninggal dalam kecelakaan mobil pada tahun 1994 ketika Bashar  berada di London. Bashar yang seorang dokter ketika itu tengah mempelajari oftalmologi dan memimpin Syrian Computer Society. Dia akhirnya dipanggil kembali ke Suriah untuk menggantikan kedudukan ayahnya.

Bashar dikenal fasih berbahasa Inggris dan Prancis. Dia belajar di sekolah elite Franco-Arab Al-Hurriyet di Damaskus, kemudian belajar ilmu kedokteran di Universitas Damaskus, dan melanjutkan  spesialisasi dalam oftalmologi (mata) di pendidikan rumah sakit London pada 1980. Dia menikah dengan Asma' Al-Akhras, seorang Suriah dan penganut Muslim Syiah yang tinggal di Inggris sejak lahir hingga dewasa.

Canggung dan Pendengar

Beberapa laporan menggambarkan bahwa Bashar tidak sekuat ayahnya dengan pengalaman politik dan militer yang terbatas. Di antara teman  dia dikenal sebagai seorang yang lembut dan canggung, yang lan menyebutnya ramah dan pendengar yang baik. Pamannya, Rifaat yang terlibat kudeta yang gagal, dan meninggalkan Suriah pada tahun 1984, menyebut Bashar tidak mempunyai kepemimpinan dan berbeda dengan ayahnya.

Ketika dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya, dia disebut sebagai seorang pragmatis dan terbuka untuk kemungkinan masyarakat modern. Dan kemudian disebut juga sukses dalam perubahan lembaga di Suriah, pengembangan teknologi komputer dan akses Internet, dan telepon seluler.

Namun pemerintahan Bashar harus berjuang dengan banyak hal yang ditinggalkan ayahnya, khususnya konflik dan hubungan politik internasional, seperti masalah dataran tinggi Golan dengan Israel, konflik air dengan Turki, kontrol sungai yang mengalir melalui Suriah dam Lebanon sebagai sumber air utama, permusuhan dengan raja Yordania, hubungan dengan Arab Saudi dan Irak.

Di Dalam negeri, pemerintahannya menghadapai banyak tantangan, yaitu adanya kelompok-kelompok, termasuk kelompok Islam Sunni di negara itu, yang dijauhkan karena nepotisme pemerintahan ayahnya, serta kelompok Islam lain. Kelompok-kelompok yang berseberangan pada masa pemerintahan ayahnya kemudian juga menjadi musuh Bashar sendiri.

Di sisi lain, pemerintahan Bashar disebut cukup efektif dalam mencopot pengaruh perwira tua dari jajaran militer Suriah. Namun hambatan utama adalah lingkaran keluarga dari Alawite yang mempengaruhi kebijakan politik dan ekonomi.

Membangun Citra

Sebelum menjadi presiden, Bashar dituntut untuk membangun citra seperti kampanye teknologi komputer, dan kampanye anti korupsi dengan menjadi pejabat penerima pengaduan. Yang terakhir menjadi penyebab jatuhnya beberapa tokoh penting Suriah, termasuk mantan perdana menteri, Mahmoud Zoubi.

Dalam membangun citra militer, Bashar juga menduduki jabatan komandan divisi kendaraan lapis baja tentara Suriah, posisi yang ditinggalkan Basil setelah meninggal. Dia menggunakan posisi ini untuk menyingkirkan beberapa perwira senior yang kemungkinan kemudian menjadi musuh.

Pada tahun 1999, Bashar dinaikkan pangkatnya menjadi kolonel, dan ini menjadi proses dalam membangun citra di bidang politik, di mana dia menjadi lebih terlibat dalam urusan negara.

Ketikan pada 10 Juni 2000 Hafez Al-Assad meninggal, pada hari yang sama Majelis Rakyat mengubah konstitusi sehingga presiden Suriah boleh dijabat pria berumur 34 tahun. Sebelumnya konstitusi mengharuskan minimum berusia 40 tahun. Kemudian pada 25 Juni dua komite atas partai berkuasa, Ba’ath, bertemu dan memutuskan mencalonkan Bashar sebagai calon presiden.

Pada 10 Juli, tepat sebulan ayahnya meninggal, Bashar terpilih sebagai presiden melalui referendum.

Janji Politik

Ketika dilantik sebagai presiden, Bashar berjanji untuk menjadikan Suriah lebih modern dan demokratis. Hal itu menjadi pertanda dia akan menjadi pemimpin yang berbeda dari ayahnya.

Dalam situs resminya, Dia mengatakan membangun zona perdagangan bebas, mengizinkan lebih banyak koran swasta, dan juga  universitas swasta. Dia memberantas korupsi dan pemborosan keuangan yang dilakukan pemerintah.

Namun, hal itu tidak membuat para pengritik diam, dan masih disebut bahwa sebagian besar janji  belum terwujud, sekalipun ada perubahan dalam pemerintahannya. Dan Bashar berdalih bahwa reformasinya terganggu oleh kerusuhan di negara-negara tetangga, yaitu Lebanon dan Irak.

Catatan politik Bashar juga disorot secara internasional. Pegiat hak asasi manusia, Human Rights Watch dan Amnesty International, mengungkapkan bahwa rezim Bashar dan polisi rahasianya secara rutin menyiksa, memenjarakan, dan membunuh musuh politik dan mereka yang membangkang dari rezimnya.

Bashar pernah menyebut di negaranya tidak ada tahanan politik, seperti diungkapkan dalam wawancara dengan ABC News tahun 2007.  Kemudian pada penghujung 2007, New York Times mengeluarkan berita berisi laporan adanya 30 tahanan politik yang ditangkap di Suriah pada bulan bulan Desember tahun itu.

Musim Semi Berdarah

Revolusi Musim Semi Arab yang berhembus pada awal 2011, ikut memicu protes di Suriah. Akasi  demonstran di Damaskus direspon dengan tindakan keras oleh pemerintah. Dan Suriah kemudian menjadi sorotan publik. Kelompok oposisi pun terbentuk, bahkan kemudian sejumlah perwira militer membelot dan bergabung dengan pihak oposisi. Pertempuran terus terjadi bahkan meluas ke seluruh wilayah negeri, dan milisi asing pun masuk.

Konflik di Suriah sudah berlangsung hampir tiga tahun, dan seperti negara-negara yang dilanda musim semi Arab, Suriah mengalami kekacau. Namun di negeri ini konflik berdarah terjadi pada tingkat yang mengerikan, dengan sekitar 130.000 orang meninggal, dan 9,5 juta warga mengungsi di  dalam dan luar Suriah. Mereka dalam keadaan yang putus asa dan memprihatinkan.

Konferensi Jenewa II tengah berlangsung dan diharapkan memberikan solusi damai yang berkelanjutan bagi Suriah. Proses baru saja dimulai, posisi masing-masing pihak masih keras, tetapi ada kemajuan bahwa para pihak bersedia berunding di satu ruang, bukan bertempur dengan senjata.

Perundingan ini berhasil atau tidak akan menjadi penentuan penting bagi masa depan Suriah, dengan atau tanpa dinasti Al-Assad. (dari berbagai sumber)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home