Loading...
OPINI
Penulis: Ahmad Fuad Fanani 13:32 WIB | Kamis, 04 Juli 2013

Puasa: Ikhtiar untuk Pengendalian Diri

SATUHARAPAN.COM - Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Puasa. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, suasana semarak menjelang Puasa sudah mulai terasa. Hal itu tampak pada program iklan di televisi, pemberitaan di media cetak, suasana di berbagai mall dan pasar, serta berbagai ucapan selamat puasa yang bertebaran di mana-mana. Yang juga sangat dirasakan oleh rakyat kebanyakan, adalah naiknya harga kebutuhan pokok pada saat menjelang puasa. Terlebih lagi, puasa kali ini datang bersaman dengan naiknya harga BBM bersubsidi yang otomatis diikuti naiknya tarif transportasi dan semua harga kebutuhan pokok.

Puasa bisa dimaknai dalam banyak hal dan banyak tafsir. Sebagian orang menafsirkan puasa sebagai bulan suci yang harus disyukuri kehadirannya dan harus disambut semeriah mungkin. Penyambutan itu bisa berupa pemberian zakat, infaq, dan shadaqah sebanyak mungkin pada orang yang papa. Bisa juga berwujud dengan pemberian zakat langsung pada orang sekitarnya. Bahkan, ada juga yang memaknai penyambutan itu dengan menggelar sebanyak mungkin acara buka puasa di berbagai tempat dan semeriah mungkin.

Di sisi lain, ada juga menyambut puasa secara substansial dan penghayatan penuh sebagai bulan untuk mensucikan diri dan melakukan ibadah sepenuhnya pada Tuhan YME. Sebagai bentuk penghayatan substansial, mereka menjadikan bulan ini sebagai bulan peneguh iman dan sarana pelatihan untuk menjalani bulan-bulan selanjutnya. Mereka memposisikan bulan puasa sebagai kawah candradimuka--- atau masa training—untuk mengasah kepekaan hati dan jiwa sosialnya guna menjadi Muslim dan Mukmin yang teguh di bulan berikutnya.

 

Puasa dan Pengendalian Diri

Secara bahasa, puasa bermakna al-imsak atau menahan. Artinya menahan diri dari makan, minum, dan semua yang membatalkan puasa. Usaha menahan diri ini tentu tidak saja bersifat fisik, namun juga secara psikis dan batiniah atau rohaniah.

Jadi, orang yang berpuasa hendaknya mampu menahan dirinya untuk mencegah dari amarah, pikiran kotor, prasangka buruk, perbuatan tercela, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa. Menahan diri tentu saja berat, maka banyak yang memaknai bulan puasa sebagai bulan latihan fisik dan rohani untuk mencapai derajat al-muttaqin, atau orang-orang yang bertakwa.

Al-imsak atau menahan diri dari semua yang membatalkan puasa itu juga bisa dimaknai sebagai bentuk ikhtiar pengendalian diri. Dalam soal makan dan minum, misalnya, kenapa kita perlu mengendalikan diri? Itu agar kita tidak menuruti nafsu atau kebebasan kita untuk makan apa saja dan dimana saja. Padahal, di saat yang sama, banyak orang yang masih berpikir, apa yang mau dimakan besok dan dari mana memperoleh makanan itu? Jangankan memilih makanan, untuk mendapatkan makanan pun mereka harus berusaha sekuat tenaga.

Itulah makna pengendalian diri agar kita peka terhadap penderitaan orang lain dan tidak melulu memuja kenikmatan dan kebahagiaan individu. Kita perlu berempati dan bersimpati pada orang lain yang susah mencari makan dan minum. Pengendalian diri agar tidak hanya menuruti hedonisme dan permisifisme ini  perlu dipikirkan dan dilaksanakan secara serius.

Harus dicatat bahwa puasa tidak hanya berarti menahan atau mengendalikan diri dari makan dan minum saja. Rasulullah SAW dalam sebuah hadis pernah mengatakan bahwa:  “Banyak di antara orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasa, kecuali rasa lapar dan haus”.  Kenapa bisa seperti itu? Karena orang yang berpuasa pada dasarnya harus menahan dan mengendalikan diri dari, secara lahiriah dan batiniah, semua yang membatalkan puasa. Mereka harus menjaga dan mengendalikan panca indra, pikiran, perasaan, dan jiwanya dari semua yang membatalkan puasa.

Sebagi konsekuensi logisnya, orang yang berpuasa harus berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak berbuat sesuatu seenaknya sendiri atau berbuat sesuatu yang merugikan orang lain. Ketika mereka berbuat sesuatu yang merugikan orang lain, pada dasarnya dia tidak bisa mengendalikan diri karena menuruti nafsunya untuk menguasai atau memaksakan kehendaknya pada orang lain.

 

Transformasi Sosial Puasa

Karena inti puasa adalah pengendalian diri, maka seyogyanya orang yang berpuasa itu mampu mengendalikan dirinya agar mereka mampu berbuat baik pada sesama dan menyebarkan makna agama yang damai dan memberikan kerahmatan pada sesama. Hal juga ditegaskan dalam surat al-Anbiya’ ayat 21 bahwa: “wa ma arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamin”. Tidaklah Aku mengutus engkau (wahai Muhammad) kecuali untuk memberikan rahmat (kebaikan atau kemanusiaan) pada seluruh alam. Oleh karenanya, orang yang berpuasa seyogyanya bisa meneladani Nabi Muhammad yang diutus Tuhan membawa rahmat (kebaikan dan kedamaian) di muka bumi ini.

Berkaitan dengan itu, makna puasa harus dibumikan juga ke ranah sosial dan kebangsaan Indonesia. Banyaknya persoalan di Indonesia yang terkait dengan persoalan peminggiran hak-hak minoritas dan pengusiran mereka oleh sekelompok orang yang mendaku sebagai pemilik kebenaran, harus disikapi dengan serius. Kasus pengusiran warga Syi’ah di Sampang yang kemudian dipaksa pindah ke Sidoarjo, jamaah Ahmadiyah di Wisma Transito yang tidak mendapatkan zakat dari umat Islam, jama’ah Ahmadiyah yang diusir dan menjadi korban kekerasan di berbagai tempat, dan peminggiran hak-hak sosial-politik sebagian warga Indonesia, adalah bentuk nyata dari hilangnya pengendalian diri dan usaha menahan diri bangsa kita.

Karena inti puasa adalah menahan atau mengendalikan diri, maka hendaknya puasa kita berbekas dan berdampak nyata pada kehidupan sosial dan kebangsaan kita. Jika tidak ada dampaknya, jangan-jangan puasa kita hanya menghasilkan lapar dan dahaga seperti sindiran Rasulullah di atas?

Orang yang berhasil puasanya, paling tidak bisa diukur sejauh mana mereka pasca menjalankan puasa menjalani hari-harinya dan merubah pikiran atau sikapnya yang penuh pengendalian diri dan tenggang rasa terhadap sesamanya. Klaim tunggal kebenaran (truth claim) yang bisa berupa sikap suka menyalahkan atau mengkafirkan orang atau kelompok lain, pada dasarnya adalah lawan dari pengendalian diri atau menahan diri. Dengan menahan diri, kita bisa bersikap terbuka untuk membuka dialog yang kontrukstif dan produktif untuk saling belajar dari kekurangan atau kelebihan masing-masing.

Dialog dan saling belajar ini sangat penting, di saat manusia Indonesia – meminjam istilah Buya Syafii Maarif—masih banyak yang belum siuman. Orang yang siuman ini penting untuk Indonesia agar bangsa ini akan terus bertahan di masa depan. Mudah-mudahan puasa bisa membuat orang dan pemerintah untuk segera siuman. Selamat berpuasa dan mengendalikan diri…..

 

Penulis adalah Direktur Riset MAARIF Institute for Culture and Humanity


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home