Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 01:40 WIB | Kamis, 25 Mei 2017

Ruwahan Apeman Malioboro 2017: Manunggaling Kawula-Gusti

Ruwahan Apeman Malioboro 2017: Manunggaling Kawula-Gusti
Prosesi awal Apeman Ruwahan Malioboro 2017 dalam sketsa karya S Mulyana Gustama. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Ruwahan Apeman Malioboro 2017: Manunggaling Kawula-Gusti
Prosesi Apeman Ruwahan Malioboro 2017 diawali dengan memasang karya seni, bazaar, serta pembuatan apem pada Minggu (14/5) sore.
Ruwahan Apeman Malioboro 2017: Manunggaling Kawula-Gusti
Pentas musik spontanitas dalam rangka penggalangan dana Apeman Ruwahan Malioboro 2017.
Ruwahan Apeman Malioboro 2017: Manunggaling Kawula-Gusti
Bazaar seni-kuliner dari Komunitas Malioboro pada Apeman Ruwahan Malioboro 2017, 14-20 Mei 2017 di depan kantor UPT Pusat Informasi Pariwisata (Tourism Information Center/TIC) Malioboro.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Kelompok seni jalanan dari seniman yang beraktivitas di sekitar Jalan Malioboro Yogyakarta yang tergabung dalam Komunitas Malioboro (COMA), 14-21 Mei 2017 menggelar prosesi tahunan Ruwahan Apeman di seputaran kantor UPT Pusat Informasi Pariwisata (Tourism Information Center/TIC) Malioboro diawali dengan memasang karya seni, bazaar, serta pembuatan apem pada Minggu (14/5) sore.

Bazaar dan pentas seni digelar setiap hari hingga tanggal 20 Mei melibatkan berbagai komunitas sahabat Komunitas Malioboro diantaranya Perempuan Tattoo Indonesia.

Puncak Ruwahan Apeman Malioboro yang sudah berlangsung untuk kedelapan kalinya dihelat pada Minggu (21/5) dimulai dengan doa bersama di Desa Kinahrejo sebelum melakukan kirab gunungan sayur, gunungan apem, gunungan sampah, serta tumpeng-ingkung. Setelah doa bersama, tumpeng-ingkung sebagian dimakan bersama di Kinahrejo sebagian lagi dibawa kirab menuju Jalan Abubakar Ali. Sepanjang jalan yang dilalui, apem dibagikan di beberapa titik kepada masyarakat.

Dari depan kantor Dinas Pariwisata Pemda DI Yogyakarta, gunungan dan tumpeng dikirab melewati sepanjang Jalan Malioboro dengan membagikan apem pada masyarakat di sekitar Jalan Malioboro hingga Titik Nol Km Yogyakarta.

Dari Titik Nol Km Yogyakarta, gunungan yang masih ada dikirab dengan kendaraan menuju Pantai Parangkusumo melalui Jalan Parangrtitis sebelum sampai titik akhir perjalanan kirab di Pantai Parangtritis Bantul. Di Pantai Parangrtitis gunungan yang ada dibagikan dan dimakan bersama-sama masyarakat setempat. Panitia menyiapkan sejumlah 5.000 apem dalam prosesi kirab tersebut.

"Kami menamai ini perjalanan ritual garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi dengan Pantai Selatan dalam satu tarikan garis lurus," jelas salah satu sesepuh Komunitas Malioboro Imam B Rastanagara kepada satuharapan.com Minggu (14/5) siang. Imam menambahkan tujuan melakukan kirab adalah mengingatkan kembali kepada masyarakat masih ada ritual apeman yang diselenggarakan oleh kelompok masyarakat secara mandiri.

"Warga dan pemerintah desa di Pantai Parangtritis menyambut baik rencana acara ini. Mereka bergerak bersama membuat apem dan uba rampe acara, serta turut nyengkuyung acara di sana," jelas Imam setelah berkoordinasi dengan masyarakat setempat.

Selain kirab gunungan, di Pantai Parangtritis Minggu (21/5) malam digelar pentas seni bersama warga setempat.

Manunggaling Kawula Gusti

Secara filosofis, manunggaling kawula gusti dapat dimaknai dari sisi kepemimpinan yang merakyat dan disisi lain dapat dimaknai sebagai piwulang simbol ketataruangan. Manunggaling kawula gusti memberikan pengertian bahwa manusia secara sadar harus mengedepankan niat baik secara tulus ikhlas dalam kehidupannya.

Dalam konsep Tahta nntuk rakyat dari segi maknanya tidak dapat dipisahkan dari konsep manunggaling kawula gusti, karena pada dasarnya keduanya menyandang semangat yang sama yakni semangat keberpihakan, kebersamaan dan kemenyatuan antara penguasa dan rakyat, antara Kraton dan Rakyat. 

Tahta untuk Rakyat juga bisa dipahami sebagai penyikapan Kraton yang diungkapkan dengan bahasa sederhana Hamangku, Hamengku, Hamengkoni. Dengan demikian, Tahta Untuk Rakyat menegaskan hubungan dan keberpihakan Kraton terhadap rakyat, sebagaimana tertuang dalam konsep filosofis manunggaling kawula gusti. Keberadaan Kraton karena adanya rakyat, sementara rakyat memerlukan dukungan Kraton agar terhindar dari eksploitasi yang bersumber dari ketidakadilan dan keterpurukan.

Dalam hal tata ruang, sudahkah Yogyakarta mewujudkan manunggaling kawula-gusti? Adanya gerakan yang tumbuh di masyarakat semisal Jogja Asat, Jogja Ora Didol, Jogja in Intolerance(?), Jogja Berhenti Nyaman, menjadi gambaran pembangunan masih sekedar mengejar fisik semata tanpa memperhatikan manusianya.

Ruwahan Apeman  Malioboro yang sudah terselenggara hingga kedelapan kalinya bisa menjadi masukan dan kritik bagi siapapun: keberpihakan, kebersamaan, dan bergandengan tangan dalam irama yang harmoni adalah salah satu pintu masuk untuk mewujudkan cita-cita kesejahteraan tersebut.

Kuncinya adalah mari belajar mendengarkan. Selirih apapun suara itu.

 

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
7 Dasawarsa BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home