Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 23:56 WIB | Senin, 03 April 2017

Sanggarbambu Yogyakarta Rayakan Ulang tahun ke-58

Sanggarbambu Yogyakarta Rayakan Ulang tahun ke-58
Pameran seni rupa Lingkar Persaudaraan merayakan ulang tahun ke-58 Sangarbambu di Galeri SMSR Yogyakarta (SMKN 3 Kasihan Bantul), Jl. Bugisan-Bantul, 1-7 April 2017.. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Sanggarbambu Yogyakarta Rayakan Ulang tahun ke-58
Salah satu pendiri Sanggarbambu Soenarto PR (kursi roda) melihat karya peserta pameran.
Sanggarbambu Yogyakarta Rayakan Ulang tahun ke-58
Beberapa karya lukisan-drawing yang dipamerkan dalam Pameran seni rupa Lingkar Persaudaraan Sanggarbambu.
Sanggarbambu Yogyakarta Rayakan Ulang tahun ke-58
Anggota Sanggarbambu menyambut tamu dengan Hymne Sanggarbambu pada pembukaan Pameran seni rupa Lingkar Persaudaraan, Sabtu (1/7) malam.
Sanggarbambu Yogyakarta Rayakan Ulang tahun ke-58
Karya rupa siswa SMKN 3 Kasihan yang dijual meramaikan Pameran seni rupa Lingkar Persaudaraan Sanggarbambu.
Sanggarbambu Yogyakarta Rayakan Ulang tahun ke-58
Bursa lukisan seniman Yogyakarta pada Pameran seni rupa Lingkar Persaudaraan di Pendopo SMKN 3 Kasihan Bantul.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Merayakan ulang tahunnya yang ke-58, Sanggarbambu Yogyakarta menggelar pameran seni rupa di Galeri Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta, Jalan Bugisan, Bantul. Selama seminggu, 1-7 April 2017 berbagai karya seni dari perupa maupun masyarakat umum dipamerkan.

"Dengan tema "Lingkar Persaudaraan", pada ulang tahun kali ini kita mengundang karya seluruh sahabat sanggar maupun masyarakat luas untuk dapat merayakannya bersama," kata salah satu perupa Sanggarbambu Totok Buchori kepada satuharapan.com Sabtu (11/3) saat menghadiri pembukaan pameran Budidaya Setengah Gelas di Kebun Bibi, Jalan Minggiran 61. A/MJ II-Mantrijeron Yogyakarta..

Lebih lanjut Totok menjelaskan untuk mengakomodasi antusias masyarakat, pada ulang tahun kali ini diselenggarakan di pendopo dan Galeri SMSR. Seluruh karya seni tanpa diseleksi, diterima panitia pada tenggat waktu tanggal 21 Maret 2017.

Rangkaian acara ulang tahun Sanggarbambu ke-58 dimulai pada Sabtu (1/4) siang dengan ziarah ke makam pendiri Sanggarbambu, dilanjutkan dengan tumpengan doa bersama di Pendopo SMSR. Malam harinya pamrean seni rupa dibuka oleh salah satu pendiri Sanggarbambu, Soenarto PR.

Sanggarbambu, jejak langkah seni Yogyakarta

Sanggarbambu didirikan pada 1 April 1959 melalui obrolan ringan seniman muda Soenarto PR, Kirdjomulyo, Heru Sutopo.

"To,... mau jadi pelukis kok nggak punya sanggar." kata Kirdjomulyo pada Soenarto PR. Ucapan Kirdjomulyo pada Februari 1959 diamini oleh Heru dan Narto. Heru menawari rumahnya untuk digunakan sementara waktu menjadi sanggar. "Pakailah, tapi setahun saja. Karena itu masih rumah ibu saya." kata Heru.

1 April 1959 pukul 19.00 WIB, Sanggarbambu berdiri dibarengi tiga pameran sekaligus: pameran lukisam, pameran keramik modern, dan pameran topeng modern. Pameran saat itu dihadiri Direktur ASRI, seniman Yogyakarta yang tergabung dalam Pelukis Rakyat (PR), Seniman Muda Indonesia (SIM), Pelukis Indonesia (PI), Pelukis Indonesia Muda (PIM). Di Jalan Gendingan no. 119 Yogyakarta, malam itu Sanggarbambu Yogyakarta resmi berdiri.

Dalam perjalanannya, Sanggarbambu menjadi persinggahan seniman-perupa muda dalam berproses. Tercatat seniman muda Syahwil, perupa Danarto, Handogo Sukarno, Dos Laksono, J. Sudiono, mulai aktif di tahun pertama berdirinya Sanggarbambu.

Melalui metode belajar bersama dengan prinsip Tut Wuri Handayani, Sanggarbambu membuka pawiyatan seni rupa untuk semua kalangan dan usia. Pawiyatan untuk anak-anak berlangsung dua kali dalam seminggu dari pukul 16.00 - hingga menjelang maghrib.

Respon seniman-perupa muda untuk meramaikan Sanggarbambu sudah terlihat sejak awal berdirinya. Sastrawan WS Rendra sering menyambangi meskipun hanya untuk urusan ngobrol ringan. Begitupun seniman peran Mien Brodjo ataupun Djadjak MD.

Cerita humanis sering melengkapi perjalanan Sanggarbambu. Seniman muda asal Jember Kuswandi pada Januari 1960 datang ke Yogyakarta tanpa tahu di mana harus menginap. Hari pertama dia numpang tidur di kantor polisi. Hari kedua ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Dari obrolan dan informasi yang diterima saat berkunjung di ASRI, hari itu juga dia pamitan dari kantor polisi menuju Sanggarbambu. Setelah menyampaikan maksudnya, sejak saat itu Kuswandi diterima dengan kondisi seadanya di Sanggarbambu.

Pada tahun awal berdirinya, selain berproses dan pameran di sekitar Yogyakarta, Sanggarbambu sering melakukan pameran keliling. Tahun 1962 membuat pameran di Pasuruan, Probolinggo, dan Jember. Di tahun 1963 menggelar pamean keliling di Bangkalan. Setiap berpameran di luar kota, Sanggarbambu sering membawa "oleh-oleh" perupa setempat yang menyusul ke Yogyakarta untuk bergabung dengan Sanggarbambu semisal Rahadi Sutoyo dan Susilo Murti (Pasuruan), Fadli Rasyid (Jember).

Pada tahun 1962 saat merespon gejolak politik internasional, Sanggarbambu menggelar pameran poster "Merebut Kembali Iian Barat". Sembilan belas seniman Sanggarbambu memasang poster di sepanjang Jalan Mangkubumi hingga SD Netral di Jalan Dagen. Pada saat itu ada seruan untuk penerjunan di Irian Barat sebagai sukarelawan tenaga cadangan jika diperlukan. Delapan belas perupa yang terlibat pameran ikut mendaftarkan diri, salah satunya Herlina yang di kemudian hari dikenal dengan nama Pending Emas yang sempat terjun di Irian Barat.

Karya-karya sanggarbambu berupa monumen maupu patung banyak tersebar di Indonesia di antaranya Monumen Gatot Subroto di Purwokerto, Monumen Jenderal Ahmad Yani (Jakarta) yang diresmikan pada 1 Oktober 1966 yang kemudian dikenal dengan nama Museum Sasmita Loka Pahlawan Revolusi A. Yani, Monumen Latuharhary di Ambon, Monumen Prasasti (Kep. Seribu) serta rangkaian patung kisah Panji Asmarabangun di Taman Mini Indonesia Indah, dan rangkaian patung dada pahlawan di Gedung Joang ’45 Jakarta.

Selain melahirkan banyak tokoh-tokoh seni, sanggar bambu juga melahirkan tokoh di bidang seni seperti perupa Danarto dan Emha Ainun Najib (sastrawan), Abiet G Ade dan Untung Basuki (musisi), Putu Wijaya, Arifin C Noer dan Linus Suryadi AG (sastra), Kusno Sujarwadi, Mien Brodjo dan Adi Kurdi (film), Motinggo Boesje dan Soesilomurti (cerpen dan novel), Soenarto Pr, Mulyadi W, Irsam, Isnaeni MH, Indros, Totok Buchori dan GM Sudarta (senirupa).

Dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-58 selain pameran, selama acara berlangsung tujuh hari digelar juga workshop, bursa lukisan perupa Yogyakarta serta karya perupa muda siswa SMSR di Pendopo-Galeri SMSR. Pada Kamis (13/4) di Concert hall Taman Budaya Yogyakarta, Sanggarbambu akan mementaskan teater dengan naskah karya Kirdjomulyo.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home