Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 12:35 WIB | Rabu, 21 September 2016

Setelah Serangan: PBB Tangguhkan Bantuan ke Suriah

Truk bantuan yang rusak akibat serangan udara di wilayah yang dikuasai pemberontak di kota Urm Al-Kubra. (Foto: Al Arabiya/Reuters)

SATUHARAPAN.COM – Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menangguhkan semua konvoi bantuan kemanusiaan di Suriah pada hari Selasa (20/9) menyusul serangan udara mematikan terhadap truk bantuan.

Konvoi bantuan itu dikirim karena ada kesepakatan gencatan senjata selama sepekan, seperti dikatakan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, bahwa "gencatan senjata tidak mati."

Pihak Suriah dan Rusia membantah mereka berada di belakang serangan udara  terhadap konvoi bantuan di dekat Aleppo. Menurut Palang Merah, serangan itu membunuh "sekitar 20 warga sipil", termasuk seorang staf Bulan Sabit Merah Suriah.

Serangan udara dan penembakan yang terjadi di garis depan pertempuran meredupkan harapan bahwa gencatan senjata penuh yang ditengahi oleh Moskow dan Washington dapat dilanjutkan.

Setelah pertemuan Kelompok Dukungan Suriah Internasional (ISSG) di New York, Kerry mengatakan harapan gencatan senjata di Suriah tetap hidup dan pembicaraan akan diadakan lagi pada akhir pekan ini.

Kejahatan Perang

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, ketika membuka Sidang Umum PBB menyerukan untuk mengakhiri pertempuran di Suriah.  "Saya menyerukan kepada semua orang untuk menggunakan pengaruh mengakhiri pertempuran dan perundingan kembali dimulai," kata Ban.

Pada hari Senin (19/9) terjadi serangan terhadap konvoi bantuan yang menimbulkan kemarahan  pejabat PBB. Kepala bantuan, Stephen O'Brien, memperingatkan bahwa, jika serangan itu disengaja, "itu akan dianggap kejahatan perang."

Federasi Internasional Palang Merah (IFRC) dan Bulan Sabit Merah mengatakan bahwa serangan 19 September malam menghancurkan sedikitnya 18 dari 31 kendaraan, serta sebuah gudang Bulan Sabit Merah di Orum Al-Kubra di Provinsi Aleppo, Suriah.

Omar Barakat, yang memimpin Bulan Sabit Merah Setempat , terluka dalam serangan itu dan kemudian meninggal, menurut  juru bicara IFRC, Benoit Carpentier, di Jenewa, seperti dikutip AFP.

Lembaga kemanusiaan PBB, OCHA mengatakan pergerakan semua konvoi bantuan di Suriah telah ditangguhkan akibat serangan itu. Ini disebutnya sebagai hari yang sangat gelap dan tidak berperikemanusiaan di Suriah dan di seluruh dunia, kata juru bicara OCHA, Jens Laerke.

Pihak lembaga PBB meminta untuk penyelidikan. "Penting bahwa kita harus mampu membangun fakta-fakta melalui investigasi independen," kata Laerke.

Suriah dan Rusia Membantah

Sebuah sumber militer Suriah membantah keterlibatan rezim dalam serangan itu. Media pemerintah mengatakan, "Tidak benar laporan media bahwa tentara Suriah menargetkan konvoi bantuan kemanusiaan di Provinsi Aleppo."

Kementerian Pertahanan Rusia juga mengatakan pasukannya dan angkatan udara Suriah "tidak melakukan serangan apapun terhadap konvoi bantuan PBB."

Kementerian itu menolak pernyataan bahwa konvoi bantuan telah dihancurkan atau ditembak dari udara. "Kami mempelajari rekaman video adegan  apa yang disebut aktivis secara rinci dan tidak menemukan bukti bahwa konvoi telah ditembak  dengan senjata," kata Igor Konashenkov, juru bicara kementerian itum, seperti dikutip AFP.

Di sisi lain, seorang pekerja penyelamatan, Hussein Badawi, yang memimpin Pertahanan Sipil Suriah yang juga dikenal sebagai Helm Putih, yang menyaksikan serangan itu. Dia mengatakan kepada Associated Press (AP) bahwa lebih dari 20 rudal ditembakkan ke daerah situ elama berjam-jam, bahkan memukul timnya ketika mereka mencari korban di antara puing-puing.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home