Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Reporter Satuharapan 16:19 WIB | Kamis, 11 Januari 2018

Turki Kecam Rusia dan Iran Atas Serangan Suriah di Idlib

Turki Kecam Rusia dan Iran Atas Serangan Suriah di Idlib
Seorang anak laki-laki suriah berlari sambil membawa roti menyusul laporan serangan udara oleh pasukan pemerintah di Kota Binnish, Suriah, di pinggiran Idlib, 12 Januari 2017. (Foto-foto: VOA)
Turki Kecam Rusia dan Iran Atas Serangan Suriah di Idlib
Mohamed Yaha, pemuda Rohingya berusia 18 tahun, di kamp pengungsi di Bangladesh, memperagakan bagaimana militer Myanmar melakukan pembunuhan massal di desanya di negara bagian Rakhine.
Turki Kecam Rusia dan Iran Atas Serangan Suriah di Idlib
Seorang anggota tim "Long Beach Search and Rescue" melakukan pencarian korban pada sebuah mobil yang tertimpa pohon yang roboh di Montecito, California, Selasa, 9 Januari 2018.
Turki Kecam Rusia dan Iran Atas Serangan Suriah di Idlib
Dua anak Ethiopia mewarnai gambar-gambar pada bukunya.
Turki Kecam Rusia dan Iran Atas Serangan Suriah di Idlib
Artis Kevin Richter tampil di Festival Sirkus Internasional Budapest, di Hungaria, 10 Januari 2018.

ISTANBUL, SATUHARAPAN.COM - Turki, hari Rabu (10/1), mengecam Rusia dan Iran karena tidak mencegah serangan militer Suriah yang sedang dilancarkan di Idlib, daerah yang dikuasai pemberontak Suriah. Serangan ini mengancam kerja sama Ankara dengan Teheran dan Moscow dalam mengatasi konflik Suriah.

Mencerminkan kecemasan Ankara yang makin besar, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengancam, “Rusia dan Iran harus menghentikan rezim Suriah. Mereka seharusnya sadar tugas mereka sebagai negara penjamin,” kata dia.

Ankara, Selasa (9/1), memanggil Duta Besar Iran dan Rusia, serta menyerahkan sebuah surat protes resmi.

Sebagai bagian yang dikenal sebagai proses Astana, Turki, Iran dan Rusia telah sepakat untuk menciptakan zona de-eskalasi di Idlib.

Sebagai bagian dari rencana tersebut, Ankara mengerahkan pasukan di daerah itu guna memantau gencatan senjata antara pasukan pemerintah Suriah dan pembrontak. Damaskus dan Moscow menganggap kelompok jihadis yang radikal dan berbasis di Idlib bukan bagian dari kesepakatan itu.

Kuburan Massal

Sementara itu dalam pengakuan langka atas kesalahan yang dibuatnya, militer Myanmar mengatakan pasukan keamanannya bertanggung jawab atas kematian 10 orang Rohingya yang ditemukan dalam kuburan massal.

Kantor Informasi Kementerian Pertahanan Myanmar hari Rabu (10/1) merilis pernyataan, pasukannya membunuh 10 tersangka teroris yang mayatnya ditemukan dalam kuburan massal di desa Inn Din, Maung Daw, negara bagian Rakhine, Myanmar Utara.

Kementerian Pertahanan mengatakan akan mengambil tindakan terhadap pelaku yang terlibat pembunuhan itu dan mereka yang bertanggung jawab atas pasukan keamanan di negara bagian Rakhine.

Ke-10 tersangka teroris itu ditangkap setelah terjadi bentrokan dengan pasukan keamanan September lalu, menurut pernyataan militer, yang menambahkan pasukan keamanan memutuskan menghukum mati mereka karena kurangnya personil keamanan dan pasukan pada saat itu.

Larangan Adopsi Anak Etiopia

Anggota parlemen Ethiopia hari Selasa (9/1) mengeluarkan resolusi yang akan melarang adopsi anak-anak Etiopia oleh orang asing di tengah kekhawatiran akan perlakuan buruk di luar negeri.

Langkah baru itu disetujui setelah perdebatan sengit, sementara para pengecam khawatir negara itu tidak memiliki sumber daya, termasuk pusat penitipan anak, untuk menangani imbas larangan tersebut.

Ethiopia termasuk negara yang menjadi sasaran utama orang Amerika untuk mengadopsi anak, menurut data Departemen Luar Negeri Amerika. Tetapi, setelah kematian anak Ethiopia oleh ibu angkatnya tahun 2011, dan anak angkat lain tewas di Amerika oleh orangtuanya tahun 2013, Ethiopia secara tajam menurunkan angka adopsi oleh orang asing sehingga menuai perdebatan seputar masalah itu.

Kebijakan Anak Nasional yang baru di Ethiopia menyatakan, anak yatim hanya boleh dibesarkan di tanah air, mempelajari tradisi dan budaya negara mereka.

Tetapi banyak pengecam khawatir, pusat-pusat penitipan anak akan terbebani, karena tidak ada budaya adopsi yang meluas di Ethiopia.

Resolusi akan mulai berlaku begitu diterbitkan dalam lembaran negara dalam beberapa hari ini. (VOA)

 

 

Editor : Melki Pangaribuan

Back to Home