Loading...
DUNIA
Penulis: Dany Brakha 13:11 WIB | Senin, 06 Mei 2013

Bersekolah di Kolong Jembatan Kereta Api

Bersekolah di Kolong Jembatan Kereta Api
Kegiatan belajar Sekolah Kumar. (foto: timesonline.com)
Bersekolah di Kolong Jembatan Kereta Api
Bersekolah di Kolong Jembatan Kereta Api

NEW DELHI, SATUHARAPAN.COM - Tidak ada alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Inilah kalimat yang pas untuk menggambarkan situasi anak-anak di India. Mereka bersekolah di bawah kolong jembatan rel kereta api.  Papan tulis yang mereka pergunakan hanyalah cat hitam yang disapukan ke atas fondasi jembatan rel kereta.

Guru di sekolah ini seorang pemilik toko yang bermodal keyakinan bahwa pendidikan adalah harapan bagi rakyat India. Para pengajar di sana tidak mengenyam pendidikan formal sebagai guru. Nama dari kegiatan belajar mengajar di kolong jembatan rel kereta itu adalah Sekolah Kumar.

Keberadaan sekolah di alam terbuka atau di bawah kolong jembatan ini merupakan terobosan bagi pekerja imigran India yang berada di bawah garis kemiskinan. Bahkan siswa yang bersekolah di sekolah negeri pun datang ke tempat ini karena penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah tak kalah suram.

Setiap harinya sekitar 50 anak datang ke kolong jembatan itu untuk bersekolah. Sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung anak-anak biasanya membersihkan kotoran-kotoran terlebih dahulu, baru kemudian mereka menggelar alas duduk. Tak jauh dari tempat itu terdapat semak yang menjadi toilet umum. Bahkan kebisingan karena kereta yang melintas tidak dijadikan kendala bagi mereka.

Gratis

Pemerintah India sebenarnya telah memberlakukan UU pendidikan gratis bagi anak berusia empat sampai 15 tahun yang berlaku penuh 31 Maret. Tetapi jutaan anak India saat ini masih belum mendapat pendidikan yang layak.

Berdasar UU Hak Pendidikan yang disahkan 2010, dengan anggaran yang meningkat dari 193 juta menjadi 199 juta dollar Amerika. Pemerintah India sendiri sudah menginvestasikan lebih dari 11 milyar Dollar AS untuk peningkatan sistem pendidikan.

Menurut pemerintah, setidaknya ada 700 ribu lowongan guru yang disediakan. Akan tetapi banyak dari pelamar yang tidak memenuhi standar kualifikasi. Pemerintah juga memberikan data mengenai jumlah anak yang belum mendapat pendidikan layak sekitar tiga juta orang. Akan tetapi data ini berbeda dengan angka perkiraan dari swasta yang melansir sekitar delapan juta anak.

Di sekolah negeri yang dilengkapi kelas dan guru, anak-anak hanya diminta menulis permasalahan mereka di papan tulis kemudian dipulangkan. Raju seorang murid umur 12 tahun mengaku bahwa dia mendapat pendidikan yang lebih memadahi di sekolah terbuka itu. Raju adalah anak seorang pemetik bunga yang pernah mengenyam pendidikan sekolah negeri beserta 61 anak lainnya yang ada di sekolah terbuka itu. “Mereka tidak mengajari apa-apa,” kata Raju mengomentari sekolah negeri.

Berdasarkan laporan lembaga pendidikan nirlaba Pratham tahun 2012, sekitar 68 persen murid sekolah negeri belum bisa membaca ketika naik ke sekolah menengah pertama. Data ini naik 10 persen dari laporan tahun sebelumnya. Setelah melakukan survei terhadap 700 ribu anak dari seluruh India, kemampuan dasar matematika dari para siswa juga mengalami penurunan. “Pemerintah perlu fokus untuk menyediakan pendidikan yang layak, tidak hanya fokus untuk merekrut guru dan membangun sekolah,” kata Rukmini Banerji seorang pejabat lembaga Pratham. Wanita itu menambahkan, “Kondisi kita masih jauh dari layak.”

Walaupun secara keseluruhan belum menunjukkan perubahan signifikan, pihak pemerintah mengaku bahwa investasi peningkatan sistem pendidikan yang dilakukan menunjukkan peningkatan. Menteri SDM India, M. Mangapati Pallam Raju mengatakan, “Cepatnya perkembangan kebutuhan pendidikan dasar dan banyaknya jumlah calon nara didik menjadi tantangan yang tidak mudah bagi proses kegiatan belajar mengajar di India.”

Sekolah Kumar

Keberadaan Sekolah Kumar sejak 2008 menjadi bukti nyata hausnya rakyat India atas pendidikan bagi anak-anak. Awalnya pada suatu hari di tahun 2008 Rajesh Kumar pergi ke stasiun melewati kolong jembatan itu dan melihat anak-anak yang bermain di sana. Ia terdorong untuk bertanya kepada orang tua anak-anak itu mengapa tidak menyekolahkan mereka. “Sekolahan terlalu jauh dan berbahaya karena harus menyeberangi jalan raya,” cerita Kumar mengulang pengalawannya waktu itu.

Sejak saat itu keesokan harinya Kumar mulai mengajar anak-anak di kolong jembatan itu. Di awal-awal terkumpul 140 anak dari para pekerja bangunan, tukang becak, buruh tani, pedagang kaki lima dan yang paling miskin adalah pekerja imigran. Tak kalah menyedihkan, para orang tua anak-anak itu sebagian besar buta huruf dan tidak mampu membuat tanda tangan.

“Pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah masa depan anak-anak itu. Tanpa pendidikan kemanapun anak-anak itu pergi, mereka tidak akan mampu berbuat apa-apa,” tegas Kumar.

Satu dari sekian donatur asal India yang melihat jepretan lomba esai foto yang diadakan oleh Asosiasi Pers, memberikan anak-anak kaus kaki, sepatu dan ransel bergambar Angry Birds. Dia juga menyewa pekerja untuk meratakan tanah di bawah jembatan dan membeli tikar busa untuk tempat duduk murid.

Editor : Yan Chrisna


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home