Loading...
FOTO
Penulis: Dedy Istanto 13:05 WIB | Jumat, 26 Desember 2014

Catatan Pasca 10 Tahun Tsunami Aceh

Catatan Pasca 10 Tahun Tsunami Aceh
Bangunan rumah tinggal para korban bencana Tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam mulai berdiri di Gampong Cot Lamkuweuh, Banda Aceh yang menjadi salah satu wilayah terbesar yang dilanda gelombang Tsunami karena wilayahnya yang dekat dengan wilayah pesisir Ulee Lheue. (Foto-foto: Dedy Istanto).
Catatan Pasca 10 Tahun Tsunami Aceh
Daratan Gampong Blang Oi, Meuraksa, Banda Aceh yang dekat dengan pesisir pantai Ulee Lheue sudah berdiri bangunan rumah bantuan bagi para korban Tsunami yang terjadi pada Desember 2004 silam.
Catatan Pasca 10 Tahun Tsunami Aceh
Sejumlah warga Pulau Nasi, Pulau Aceh saat akan berlabuh di pelabuhan dari perjalanan ke Banda Aceh yang menjadi salah satu pulau yang dilanda gelombang Tsunami pada tahun 2004 lalu.
Catatan Pasca 10 Tahun Tsunami Aceh
Seorang anak kecil yang melihat seorang warga saat ingin mengambil pelampung di pesisir pantai Gampong Deudap, Pulau Nasi yang mayoritas penduduknya adalah nelayan.
Catatan Pasca 10 Tahun Tsunami Aceh
Awan hitam yang menyelimuti Pulau Nasi pada saat musim angin barat melanda yang membuat sebagian besar warganya harus istirahat pergi ke laut karena ombak besar akan melanda.
Catatan Pasca 10 Tahun Tsunami Aceh
Sejumlah warga Pulau Nasi saat melakukan perjalanan menyeberang ke kota Banda Aceh untuk berbelanja kebutuhan hidup dengan jarak tempuh sekitar satu jam sebagai salah satu bagian aktifitas warga yang tinggal di pulau yang terkena bencana Tsunami 2004 silam.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Mengenang sepuluh tahun Tsunami Aceh sebuah catatan bencana yang melanda negeri ini. Bencana yang diawali dengan gempa berskala 9,3 Richter disusul dengan gelombang besar Tsunami yang meluluhlantakan daratan Serambi Mekkah pada tahun 2004 silam.

Sekitar 220.000 korban jiwa telah meninggal akibat tersapu oleh gelombang besar yang mencapai sekitar 10 meter. Bangunan rumah serta kendaraan dan juga kapal tanker terbawa oleh arus yang berkecepatan tinggi.

Tsunami Aceh membawa duka terdalam bagi tanah air Indonesia. Perhatian dunia tertuju pada Indonesia untuk terdorong membantu para korban yang masih selamat. Berbagai negara dari belahan dunia serta para relawan saling bahu membahu mempercepat proses evakuasi.

Pasca Tsunami berbagai lembaga donor baik lokal maupun internasional mulai bekerja berusaha membangkitkan Aceh kembali. Seluruh korban Tsunami yang rumah tinggalnya hancur satu persatu mulai dibangun, baik yang tetap di daerah tempat tinggalnya maupun di daerah relokasi. Sekitar 120 ribu rumah dibangun di bawah pengawasan Badan Rehabilitasi dan Rekontrusi (BRR) melalui lembaga donor Non Government Organization (NGO).

Perlahan proses pembangunan Aceh mulai terasa. Kota Banda Aceh sebagai Ibu Kota Nanggroe Aceh Darussalam kini terlihat megah kembali. Infrastruktur bangunan rumah, jalan raya, serta fasilitas publik, pasca Tsunami 10 tahun lalu sekarang mulai tertata kembali, meski rasa trauma masih belum bisa terobati.

Berikut catatan dokumentasi perjalanan tentang kondisi Aceh pasca Tsunami yang direkam selama tahun 2006 sampai dengan 2009 terkait dengan proses pembangunan kota Banda Aceh dan Pulau Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home