Loading...
SAINS
Penulis: Kartika Virgianti 05:22 WIB | Selasa, 07 Oktober 2014

Danau Toba Sekarang Sepi Turis, Mengapa?

Para pembicara (dari kiri ke kanan) Rektor UKI, Maruarar Siahaan, mantan Sekum PGI sekaligus kandidat Ketua Umum PGI 2014-2019, Richard Daulay, Sekum PGI, Pdt. Gomar Gultom, Asisten Deputi Bidang Perubahan Iklim Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Kemenko Kesra), Togap Simangunsong, dan Pdt. Marihot Siahaan selaku moderator. (Foto: Kartika Virgianti)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Sekretaris Umum Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (Sekum PGI) periode 2004-2009, Richard Daulay sebagai orang asli Medan, Sumatera Utara, telah mengamati perubahan di kampung halamannya, yaitu Danau Toba, di mana dahulu kala banyak turis baik lokal maupun mancanegara yang berkunjung karena keindahan alamnya. Kini, menurut Daulay semua keindahan itu seperti tinggal kenangan masa lalu.

Meskipun apa yang dikatakan Daulay belum ada penelitian ilmiah lebih lanjut, namun berbagai kerusakan alam yang terjadi di Danau Toba adalah fakta yang disaksikan langsung olehnya, seperti ia sampaikan dalam kesempatan menjadi pembicara di acara bertema “Revolusi Mental Menyongsong Satu Abad Pembangunan Danau Toba Menuju Kota Berkat di Atas Bukit” yang diselenggarakan atas kerja sama Yayasan Pencinta Danau Toba dan Universitas Kristen Indonesia (UKI) di FK UKI, Cawang, Jakarta Timur, Senin (6/10).

“Setidaknya ada tiga penyebab menurut saya, pertama, para turis merasa kurang aman dan nyaman datang ke sana, karena keramahtamahan masyarakat setempat sangat minim, sifat pedagang yang pragmatis, mencari untung sebesarnya dengan waktu  yang secepatnya, misal mereka menjual batik Jawa dengan harga lima kali lipat, barang antik palsu, dan oleh-oleh lain yang harganya sudah di-mark up,” papar Daulay.

Kedua, lanjut Daulay, kondisi lalu lintas yang semakin lama semakin ramai dan macet, dan infrastruktur kurang menyebabkan ketidaknyamanan, misalnya Bandara Polonia-Parapat yang tadinya bisa ditempuh tiga jam sekarang menjadi lima jam atau lebih,

Ketiga, di Danau Toba banyak keramba ikan yang membuat tidak nyaman turis yang ingin menikmati suasana, misal bermain speedboat. Terdapat 5000-an keramba ikan yang setiap saat bisa bertambah.

Selain itu, banyak tempat usaha di sekitar yang tidak mengolah limbahnya, dan langsung membuang limbah begitu saja ke Danau Toba, sehingga menimbulkan banyak persoalan bagi masyarakat Suku Batak yang sehari-harinya menggunakan air dari sana untuk berbagai keperluan.

Keempat, masalah kebersihan. Dikatakan pendeta yang menjadi salah satu dari tiga kandidat Ketua Umum PGI 2014-2019 itu, bahwa orang Batak kurang kesadarannya untuk menjaga dan melestarikan lingkungan, misalnya mereka enggan membuang sampah pada tempatnya. Menurut dia, masih lebih baik warga Jakarta.

Solusinya?

Sebagai putra Batak, Daulay secara pribadi mengusulkan beberapa solusi kepada pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden terpilih RI 2014, Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK). Pemerintah harus melakukan lima hal yang tidak mungkin dilakukan gereja, karena pemerintah punya instansi-instansi maupun aparat yang bisa melaksanakannya.

Pertama, pemerintah harus menertibkan pemilik keramba ikan baik perorangan maupun perusahaan. Pasalnya, pakan ikan yang tidak termakan oleh ikan akan mengendap di dasar danau dan menjadi racun atau virus bagi biota-biota yang ada di dalamnya. Terlebih, saat ini banyak kejadian warga yang mengalami penyakit kulit seperti gatal-gatal, infeksi kulit, akibat menggunakan air Danau Toba.  

Kedua, menangkap perambah hutan di sekitar Danau Toba dan mempidanakannya.

Ketiga, pemerintah harus menertibkan dan memberikan pendidikan bagi pedagang kaki lima (PKL) yang mencari nafkah di sekitar Danau Toba. Penertiban dan pendidikan tersebut meliputi cara memberi harga supaya mereka tidak lagi melakukan penipuan kepada turis.

Keempat, pemerintah perlu membangun infrastruktur terutama jalan sampai transportasi umu yang nyaman. Sehingga akses dari Bandara di Medan menuju Danau Toba menjadi mudah.

Kelima, untuk mensosialisasikan revolusi mental terhadap suku Batak, perlu ahli Danau Toba. Gagasan tersebut berasal dari pertemuannya dengan seorang warga Swiss di suatu acara konferensi lingkungan hidup tingkat internasional, yang mengatakan bahwa Danau Jenewa di Swiss memiliki tim ahli sebagai upaya pelestariannya.

“Jadi Danau Toba itu butuh ahli bukan hanya mitosnya saja, tetapi juga ahli antropologi, sosial, budaya, ekonomi, pelestarian lingkungan, dan aspek lainnya yang sekiranya diperlukan,” pungkas dia yang kemudian menyampaikan pula harapannya kepada Rektor UKI, Maruarar Siahaan, supaya nantinya bisa dihasilkan lulusan-lulusan sarjana dari UKI yang bisa menjadi tim ahli Danau Toba.

 

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home