Loading...
FOTO
Penulis: Dedy Istanto 15:43 WIB | Sabtu, 02 Mei 2015

Diskusi Telenovela KPK - Polri

Diskusi Telenovela KPK - Polri
Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar (kanan) saat memberikan pandangan terkait dengan polemik antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polisi Republik Indonesia (Polri) dalam diskusi bertajuk Telenovela KPK - Polri yang digelar di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5). Hadir dalam diskusi Adrianus Meliala dari Kompolnas, Arsul Sani anggota DPR RI, dan Fadli Nasution. (Foto-foto; Dedy Istanto).
Diskusi Telenovela KPK - Polri
Adrianus Meliala (tengah) dari Komisi Polisi Nasional (Kompolnas) saat menjadi salah satu narasumber dalam diskusi bertajuk Telenovela KPK - Polri yang digelar di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat.
Diskusi Telenovela KPK - Polri
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Arsul Sani (kedua kanan) saat memberikan pandangannya terkait dengan polemik antara KPK dan Polri dalam diskusi bertajuk Telenovela KPK - Polri.
Diskusi Telenovela KPK - Polri
Diskusi bertajuk Telenovela KPK - Polri digelar di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat dihadiri oleh narasumber diantaranya (ki-ka) Fadli Nasution, Andrianus Maliala, Arsunl Sani dan Haris Azhar.
Diskusi Telenovela KPK - Polri
Fadli Nasution dari Perhimpunan Magister Hukum Indonesia (kiri) saat memberikan pandangan terkait dengan polemik antara KPK dan Polri dalam diskusi bertajuk Telenovela KPK - Polri di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar mengatakan sebaiknya Polisi Republik Indonesia (Polri) berbenah diri dan mengakui adanya kekurangan. Hal itu disampaikan dalam diskusi bertajuk “ Telenovela KPK – Polri “ di Jalan Cikini Raya, Jakarta Selatan, Sabtu (2/5).

Haris menambahkan jika dalam kasus yang disangkakan terhadap pimpinan dan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad, Bambang Widjojanto, dan penyidik Novel Baswedan seharusnya Polri bisa menarik ke belakang apakah waktu tahap penyeleksian di panitia seleksi (Panel) benar-benar bersih.

Polri harusnya mengakui bahwa ketiga orang tersebut memiliki kelakuan baik sebagai lampiran untuk mencalonkan diri sebagai pimpinan KPK. Harusnya tim panelnya yang dipanggil untuk dimintai keterangan kenapa Abraham Samad dan Bambang Widjojanto bisa lolos seleksi, ujar Haris. Jika  memang kedua pimpinan tersebut terbukti mempunyai tindak pidana kenapa lolos, sementara yang mengeluarkan keterangan surat kelakuan baik itu siapa? Ya polisi juga. Haris menambahkan harusnya polisi juga konsisten dalam penegakan hukum, dan memperbaiki sistem.

Hadir dalam diskusi Komisi Polisi Nasional (Kompolnas) Adrianus Meliala, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Arsul Sani, Ketua Perhimpunan Magister Hukum Indonesia Fadli Nasution, dan Koordinator KontraS Haris Azhar yang memberikan pendapat terkait dengan fenomena antara lembaga penegak hukum KPK dan Polri. 

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home