Loading...
INSPIRASI
Penulis: Priskila Prima Hevina 09:23 WIB | Selasa, 25 April 2017

Doa Si Debu Tanah

Kalau ia membawa sesamanya dalam doa, patutnya ia mengharap yang terbaik, sebab ia pun ingin dapat bagian yang terbaik.
Debu tanah (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Di berbagai grup percakapan daring, beberapa waktu lalu, tersebar sebuah video yang memperlihatkan seorang tokoh agama sedang memimpin doa umat. Video tersebut menghebohkan lantaran dalam doanya ia memohon agar Tuhan mendatangkan kutuk kepada orang yang tak disukainya.

Kali pertama melihat video tersebut saya langsung bereaksi tak suka. Sama sih seperti reaksi kebanyakan orang. Tetapi, berapa lama berselang, saya kena batunya. Kebetulan ada gesekan dengan rekan kerja. Apa reaksi saya? Harus saya akui dosa saya yang menyumpahi dia: ”Didamprat kepala kantor, kesandung kasus lalu kena pecat.” Wooops!

Setali tiga uang. Nuansa doa penuh kebencian. Doa yang semestinya sarana menyembah Tuhan berubah menjadi ajang unjuk ego. Ibaratnya memaki sesama dengan meminjam mulut Yang ilahi atau memukul sesama dengan meminjam tangan Yang ilahi. Begitu kata kawan di media sosial.

Kemudian, kawan saya itu melempar serangkaian pertanyaan: ”Memangnya tidak ada sesama lagi? Apa istilah sesama mesti direnungkan ulang? Juga Yang ilahi itu perlu direnungkan kembali, apakah Sang Ilahi memang menghendaki kekerasan itu?”

Manusia itu apa sih, cuma debu tanah yang mendapat embusan nafas dari Tuhan Sang Khalik. Tidak ada yang lebih unggul atau lebih rendah. Semua manusia itu sama. Karena itu, kita menyebut orang lain dengan istilah ”sesama”. Sepanjang ada peradaban manusia, sesama tidak bisa ditiadakan. Sebagai debu tanah yang hidup, kuasa apa sih yang kita miliki sehingga kita berhak memerintah Tuhan untuk menimpakan keburukan kepada sesama?

Sang Ilahi, yang memegang gelar segala maha, yang mengatur plot semesta, tahu persis apa yang dilakukan-Nya. Dia tahu siapa yang jahat dan siapa yang baik. Dia paham siapa yang bakal diberi berkat dan siapa yang dijatuhi kutuk. Ukuran-Nya bukan ukuran manusia—Si Debu Tanah.

Wajar kalau dalam kehidupan ini ada orang baik dan ada orang jahat. Wajar kalau kita mengalami gesekan dengan orang lain. Namanya saja hidup bersama berbagi ruang. Tetapi apa pantas kita mau mereka celaka, dengan memakai nama Tuhan lagi?

Tuhan mungkin tertawa menyaksikan kelakuan para debu tanah ini. Bisa-bisanya saling memaki sesamanya: padahal mereka sama-sama terbuat dari debu tanah, sama-sama berdosa. Ironisnya, para debu tanah yang saling mengutuk itu pun sama-sama mengaku diri menyembah Tuhan.

Jadi bagaimana harusnya Si Debu Tanah berdoa? Dengan merapat ke tanah! Dengan merendahkan dirinya, dengan menempatkan egonya di urutan paling bawah sedangkan Tuhan itu dijunjungnya tinggi-tinggi. Down to earth. Kalau membawa sesamanya dalam doa, sepatutnya ia mengharap yang terbaik karena ia pun ingin mendapat bagian yang terbaik. Sama-sama dong, kan sesama?

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home